You are currently viewing Efek-Efek Ruang Gema

Efek-Efek Ruang Gema

Ruang Gema

Jika anda membuka berita internasional kini, ada kemungkinan bahwa berita mengenai suatu kontroversi menyangkut teknologi 5G mencapai pikiran anda. Jika tidak, tidak apa-apa. Bahkan bisa dibilang bahwa kalian yang tidak mendengar berita-berita ini berada di posisi yang lebih baik, karena jujur saja mengetahui secara spesifik mengenai kontroversi ini bisa membuat kita agak sedikit hilang harapan dalam spesies kita. Setidaknya itu rasanya bagi saya.

Lebih tepatnya, kontroversi yang dirujuk adalah mengenai banyaknya orang yang menyangka bahwa teknologi 5G – yang direncanakan sebagai penerus dari teknologi jaringan sebelumnya, 4G – adalah sesuatu yang membawa berbagai bahaya besar bagi kesehatan publik dan, tergantung ke siapa yang anda tanya, merupakan penyebab utama dari pandemi COVID-19 sekarang ini. British Broadcasting Corporation (BBC) mendokumentasikan beberapa dari instansi konspirasi ini, dan anda bisa melihat contoh-contoh kasus dari teredarnya konspirasi ini di wacana online sekarang.[1]Goodman, Jack. Caramichael, Flora. (Juni 26, 2020). Coronavirus: 5G and microchip conspiracies around the world.  BBC News. https://www.bbc.com/news/53191523

Kasus favorit saya – yang sayangnya tidak dimasukkan ke kompilasi sebelumnya – mungkin ketika ada seorang wanita di Amerika – spesifiknya di North Carolina, Alexander County – mulai menembak seorang pekerja menara seluler dengan suatu pistol revolver.[2]SOCTV9. (November 26, 2019). Woman opens fire on cell tower workers hundreds of feet in the air, sheriff says. https://www.youtube.com/watch?v=MMH65DWbDB8

Instansi-instansi tersebut seharusnya mendemonstrasikan ke kita semua bahwa sebagai manusia, kepercayaan-kepercayaan yang kita pegang benar-benar mempunyai efek yang besar terhadap aksi-aksi yang kita ambil. Dan selebihnya, bahwa kita sebaiknya berhati-hati dengan cara kita menentukan informasi apa yang bisa dipercaya dan mana yang tidak bisa. Ini karena dalam kasus-kasus tadi, kita bisa mengamati bahwa fenomena-fenomena anti-5G ini terjadi karena adanya perselisihan antara sumber informasi konvensional dan akademis, dan komunitas-komunitas tertentu. Dan inilah satu aspek utama dari apa yang dipanggil sebagai suatu ruang gema.

Terminologi dan Pengertian

Ruang Gema – sebagaimana digunakan awalnya untuk mendefinisikan fenomena-fenomena tersebut di dunia akademis – adalah ruang media tertutup dimana kepercayaan-kepercayaan dan informasi diperkuat melalui repetisi, dan juga dimana kedua hal tersebut diisolasikan dari apapun yang menentangnya.[3]Jamieson, Kathleen H. Cappella, Joseph N. (2010). Effects of an Echo Chamber, Echo Chamber: Rush Limbaugh and the Conservative Media Establishment. Oxford University Press. ISBN: 9780195398601

Tetapi sebelum kita bisa menggunakan arti itu, faktanya adalah ruang lingkup dari pengertian itu sudah diperbesar menjadi lingkungan-lingkugan apapun yang membawa sifat-sifat yang sama.[4]Grimes, David R. (December 4, 2017). Echo chambers are dangerous –  we must try to break free of our online bubbles The Guardian. … Continue reading Sehingga bisa dikatakan bahwa kapanpun dan dimanapun kepercayaan-kepercayaan dan informasi diulang berkali-kali, dan hal-hal yang menentang dua hal itu diisolasikan, kita juga akan menyebutnya sebagai suatu ruang gema.

Istilah yang cukup mirip yang disebutkan juga dalam literatur akademis sekarang adalah gelembung epistemik untuk menyebut lingkungan-lingkungan dan situasi-situasi dimana ide-ide seseorang tidak mendapatkan eksposur dari kritik. Suatu perbedaan bisa dibuat antara suatu gelembung epistemik dan suatu ruang gema. Di kasus ini, Ruang Gema bisa dimengerti sebagai lingkungan-lingkungan dan situasi-situasi dimana ide-ide seseorang diperkuat melalui repetisi, dan dimana sumber informasi lain atau sumber kepercayaan-kepercayaan yang menentang secara sengaja dinistakan.[5]Nguyen, C. T. (2018). ECHO CHAMBERS AND EPISTEMIC BUBBLES. Episteme. DOI: 10.1017/epi.2018.32

Dengan itu, dalam rangka Ruang Gema, lingkungan bisa dalam bentuk suatu komunitas, ataupun organisasi media, yang mempunyai alegiansi politik, agama, kultural, atau sosial tertentu. Ini karena pada dasarnya, Ruang Gema tidaklah merujuk ke jenis kepercayaan spesifik manapun, hanya sekumpulan kepercayaan-kepercayaan tertentu.

Suatu komunitas bisa dianggap sebagai suatu Ruang Gema ketika anggota-anggota komunitas tersebut mendorong suatu naratif atau ideologi dimana kepercayaan-kepercayaan tertentu saja yang akan dianggap benar dan diulang berkali-kali dalam berbagai variasi, dan juga kepercayaan-kepercayaan yang menentang naratif itu – bersama dengan orang-orang yang memegangnya – akan dianggap sebagai tidak pantas untuk dipercaya.[6]Del Vicario, M., Vivaldo, G., Bessi, A., Zollo, F., Scala, A., Caldarelli, G., & Quattrociocchi, W. (2016). Echo Chambers: Emotional Contagion and Group Polarization on Facebook. Scientific … Continue reading[7]Abrams, D., Wetherell, M., Cochrane, S., Hogg, M. A., & Turner, J. C. (1990). Knowing what to think by knowing who you are: Self-categorization and the nature of norm formation, conformity and … Continue reading Sebagai contoh, dalam kasus 5G tadi, naratif yang didorong adalah bahwa 5G berbahaya bagi kesehatan manusia dan sehingga manusia seharusnya menahan implementasi teknologi tersebut. Jika ada suatu ilmuwan yang menentang naratif tersebut, mungkin seperti dengan mengatakan bahwa sentimen anti-5G itu berlebihan, ilmuwan tersebut akan segera dinyatakan oleh komunitas anti-5G ini sebagai individu yang tidak pantas dipercaya.

Mirip dengan suatu komunitas, organisasi media yang berlaku sebagai suatu Ruang Gema juga akan mendorong suatu naratif. Namun, perbedaan utamanya adalah bahwa suatu organisasi media melakukannya tidak melalui interaksi antaranggota, melainkan melalui kreasi konten seperti artikel dan video-video khusus yang dibuat dengan tujuan mempromosikan naratif yang mereka inginkan. Ini membuat para pembaca dan penonton – yang sudah setuju dengan pesannya – mengonsumsi konten yang dibuat dan sehingga juga mempromosikan konten mereka ke orang-orang lain yang mereka percayai, seperti di komunitas-komunitas pertemanannya.[8]Jamieson, Kathleen H. Cappella, Joseph N. (2010). Effects of an Echo Chamber, Echo Chamber: Rush Limbaugh and the Conservative Media Establishment. Oxford University Press. ISBN: 9780195398601

Interaksi Anggota Ruang Gema dengan Non-Anggota

Cukup menarik untuk melihat bagaimana suatu Ruang Gema berinteraksi dengan seseorang yang belum mengenal topik naratif tersebut ataupun dengan seseorang yang belum memegang opini yang kuat mengenai topiknya. Suatu Ruang Gema entah akan menarik orang baru ini ke dalam Ruang Gema-nya, atau akan mendorong orang tersebut ke “sisi yang berlawanan”. Ini karena kodratnya bahwa suatu Ruang Gema berfungsi melalui mekanisme yang bernama “mekanisme penguatan perselisihan” (disagreement-reinforcement mechanism).[9]Nguyen, C. T. (2018). ECHO CHAMBERS AND EPISTEMIC BUBBLES. Episteme. DOI: 10.1017/epi.2018.32

Maksud dari mekanisme ini adalah bahwasanya pertentangan-pertentangan apapun yang muncul bukannya menjadi hal yang menurunkan keyakinan anggota-anggota Ruang Gema, namun malah menjadi “bahan bensin” yang bisa digunakan untuk memperkuat keyakinan mereka dalam naratif yang ada. Sebagai contoh khusus misalnya dalam bidang agama, bisa saja seorang Ustadz dalam suatu Ruang Gema menginkorporasikan ke dalam naratif Ruang Gema tersebut bahwa semua non-anggota Ruang Gema “tersesat”, dan bahwa semua anggota Ruang Gema tersebut sudah “berjalan di jalur yang benar”, dan juga orang-orang yang tersesat akan pastinya mencoba untuk “menggoyahkan” iman orang-orang yang sudah ada di jalan yang benar. Jika ini kasusnya, sangat mungkin untuk mereka yang memegang naratif tersebut untuk menyatakan bahwa naratif mereka telah dikonfirmasi ketika ada seseorang yang mengkritik naratif tersebut. Karena keberadaan kritik sudah “diprediksi” oleh Ustadz tersebut.

Dengan ini, ketika kasusnya ada orang baru yang terekspos kepada Ruang Gemanya, yang terjadi adalah ia akan segera terpancing ke dalam Ruang Gema jika ada sebagian kepercayaan yang cukup mirip atau sama dengan naratif Ruang Gema tersebut. Kita bisa menyimpulkan bahwa orang baru ini akan dianggap sebagai “lebih tinggi” derajatnya, atau dalam kata lain superior, daripada orang-orang lain yang berada di luar Ruang Gema tersebut dalam rangka pengetahuan. Dan semakin lama orang tersebut akan masuk ke Ruang Gema untuk menerima kepercayaan-kepercayaan lain yang sebagian dan mendukung naratif Ruang Gema tersebut, dan tentu untuk “merekrut” anggota-anggota lain melalui cara yang mirip, jika bukan sama, seperti bagaimana mereka sendirinya masuk ke Ruang Gema tersebut.

Namun, jika kasusnya orang baru ini memegang kepercayaan-kepercayaan yang cukup menentang naratif Ruang Gema tersebut, kemungkinannya akan terjadi suatu perselisihan antara orang baru dan Ruang Gema tersebut, dan hasilnya malah orang baru ini akan dilabelkan sebagai seseorang yang tidak bisa dipercaya sebagaimana ilmuwan dalam contoh tadi tidak bisa dipercaya. Bagi orang barunya sendiri, hal yang sama terjadi. Mereka akan secara pribadi menjauhi Ruang Gema tersebut, dan juga melabelkan Ruang Gema tersebut sebagai suatu kelompok atau perkumpulan yang tidak bisa dipercaya.

Efek Terhadap Anggota-Anggota Ruang Gema

Tadi kita sudah mengkaji interaksi anggota-anggota Ruang Gema dengan non-anggota. Tetapi kita sekarang akan menguraikan efek langsung dan tidak langsung dari interaksi antar-anggota suatu Ruang Gema. Interaksi antar-anggota yang dirujuk adalah aspek-aspek aktivitas yang sudah disebutkan dalam makna dari Ruang Gema. Namun untuk merangkum ulang hal ini demi alasan praktis, hanya ada 2 aktivitas utama yang dilakukan dalam suatu Ruang Gema.

Aktivitas pertama adalah mempromosikan naratif dan kepercayaan-kepercayaan yang mendukung naratif tersebut. Ini bisa dalam bentuk membagi informasi-informasi tertentu, berbicara dengan anggota-anggota Ruang Gema lain saja, dan mengonsumsi konten-konten yang setuju dengan naratif Ruang Gema itu saja, jika kasusnya kita membicarakan tentang suatu komunitas yang berlaku sebagai suatu Ruang Gema.[10]Brugnoli, E., Cinelli, M., Quattrociocchi, W. et al. Recursive patterns in online echo chambers. Sci Rep 9, 20118 (2019). DOI: 10.1038/s41598-019-56191-7

Aktivitas kedua adalah menistakan pihak-pihak lain yang menentang naratif Ruang Gema tersebut.[11]Karlsen, Rune., Steen-Johnsen, Kari., Wollebæk, Dag., & Enjolras, Bernard. (April 2017). Echo chamber and trench warfare dynamics in online debates. SAGE Journals, European Journal of … Continue reading Ini paling bisa dilihat dalam bentuk pembuatan lelucon-lelucon secara online dan menyebarkannya dalam suatu platform sosial media. Selainnya, jika kasusnya kita membicarakan mengenai suatu organisasi media yang melakukan hal ini, kita bisa memprediksi bahwa organisasi tersebut akan melakukan aksi-aksi seperti memanggil – secara implisit atau eksplisit – organisasi-organisasi media lain (yang mempromosikan gagasan-gagasan yang menentang) sebagai hoax atau berita palsu. Organisasi media tadi juga akan tetap menyebarkan opini tersebut sesaat mereka gagal untuk memberi bukti yang cukup. Dan tentu juga merujuk ke instansi-instansi yang paling buruk dari suatu sisi, dan menggunakan contoh-contoh tersebut untuk mengatakan bahwa sisi tersebut tidak pantas untuk dipercayai atau tidak pantas untuk didengarkan.

Dari dua aktivitas inilah dimana kita akan mencoba untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan mengenai efek-efek dari Ruang Gema terhadap anggota-anggotanya. Karena kodratnya ini adalah satu dari banyak karya teks yang dibuat menyangkut Ruang Gema, tentu kita tidak bisa mengkaji semua efek dari yang paling signifikan ke yang paling esoteris. Oleh karena itu, kita hanya akan menelusuri yang paling signifikan atau dalam kata lain, yang paling utama yang sudah didukung oleh literatur ilmiah di bidang-bidang yang relevan (Komunikasi, Media Baru, Media Massa, dan lain-lain). Kita mulai dengan yang seringkali dirujuk sebagai dampak Ruang Gema yang paling signifikan.

Anti-Intelektualisme

Intelektualisme disini tidak membawa makna apapun yang esoteris. Semua orang melakukan aktivitas-aktivitas intelektual dalam hidupnya ke taraf tertentu. Entah aktivitas yang anda lakukan seperti membaca suatu buku sekolah ataupun ke sesuatu yang lebih “ringan” seperti mendiskusikan bersama teman mengenai suatu komik yang pernah kalian baca. Persamaan dari kedua hal itu, yang membuatnya suatu aktivitas intelektual, adalah mereka menyangkut penggunaan dan pengembangan akal anda dalam subjek-subjek yang relevan bagi masyarakat. Inilah yang dimaksud media massa ketika mereka merujuk seseorang seperti Rocky Gerung, Muhammad Hatta, dan Anies Baswedan sebagai “intelektual publik”. Mereka adalah orang-orang yang telah dan terus memikirkan mengenai bidang-bidang mereka, dan oleh karena itu, diminta kesimpulan yang mereka dapatkan mengenai isu-isu penting di kemasyarakatan kita. Sehingga, anti-intelektualisme disini merujuk ke preferensi atau kecenderungan untuk tidak melakukan hal tersebut. Untuk tidak mempertimbangkan tentang kesimpulan-kesimpulan yang mereka sudah miliki, dan untuk tidak mempertimbangkan tentang membentuk kesimpulan-kesimpulan yang mungkin bertentangan dengan pemikiran mereka yang sudah ada, dan selebihnya malah hostilitas terhadap hal-hal yang berhubungan dengan intelektualisme.

Dalam suatu Ruang Gema, sikap-sikap anti-intelektualisme tumbuh dalam bentuk kemauan untuk menghadapi orang dan pihak yang sudah setuju, dan ketidakmauan untuk menghadapi orang dan pihak yang tidak setuju.[12]Karlsen, Rune., Steen-Johnsen, Kari., Wollebæk, Dag., & Enjolras, Bernard. (April 2017). Echo chamber and trench warfare dynamics in online debates. SAGE Journals, European Journal of … Continue reading Selebihnya, fenomena ini bahkan mencakup bukti-bukti yang diterima oleh seseorang. Seorang anggota Ruang Gema akan juga mempunyai kemauan untuk mempertimbangkan hal-hal yang setuju dengan naratifnya saja, dan akan kurang rela untuk setuju dengan hal-hal yang menunjukan bahwa naratif tersebut salah atau kurang benar, apalagi jika informasi yang ia temukan secara langsung menentang naratif yang ia miliki.

Pemikiran dibalik mengapa dua fenomena (kemauan untuk menghadapi orang/pihak yang setuju dan ketidakmauan untuk menghadapi orang/pihak yang belum setuju) tersebut menyebabkan anti-intelektualisme adalah semakin terisolasinya seseorang dari mereka (dan hal-hal) yang mempunyai atau mendukung kepercayaan-kepercayaan yang berbeda, semakin terdorong bias konfirmasi yang ada dalam orang tersebut.[13]Kitchens, B., Johnson, S. L., Gray, P. (Desember 2020). Understanding Echo Chambers and Filter Bubbles: The Impact of Social Media on Diversification and Partisan Shifts in News Consumption. MIS … Continue reading Dan semakin besarnya rasa bias konfirmasi, maka semakin besar ketidakmauan orang tersebut untuk keluar dari kondisi terisolasinya individu tersebut dari pihak dan informasi yang menentang apa yang ia percayai.[14]Zollo F. (2019). Dealing with digital misinformation: a polarised context of narratives and tribes. EFSA Journal, Jumlah Halaman: 15. DOI: 10.2903/j.efsa.2019.e170720 Bisa dihipotesiskan bahwa hubungan tersebut berjenis umpan balik positif (positive feedback loop) yaitu: semakin ia terisolasi dari pihak dan informasi yang bertentangan, semakin ia jadi lebih terisolasi dari pihak dan informasi yang bertentangan. Dan tentunya, ini juga berkontribusi sebagai penghambat bagi perkembangan intelektual bagi individu tersebut. Dimana ia merubah pikirannya karena ia menemukan kesalahan pada pemikirannya, atau ia menemukan kelebihan pada pemikiran lain. Karena untuk seseorang bisa memanifestasikan dua karakteristik itu, mereka perlu mau/nyaman dengan menghadapi kesalahan-kesalahan pemikirannya dan kelebihan-kelebihan pemikiran lain.[15]Chi, X., Liu, J. & Bai, Y. College environment, student involvement, and intellectual development: evidence in China. Higher Education, Volume: 74, Issue: 1, Halaman: 81–99. DOI: … Continue reading

Dogmatisme

Dogmatisme sering membawa konotasi religi atau filosofis, namun bagaimana kita menggunakan istilah ini disini mempunyai ruang lingkup yang lebih luas. Sebagai contoh, ada suatu bidang Teologi Kekristenan bernama Kristologi yang mempelajari hal-hal menyangkut Yesus Kristus. Di bidang ini, gagasan bahwa Yesus adalah seorang manusia dan Tuhan di saat yang sama memang sudah menjadi suatu konsensus sebagai salah satu dari ajaran-ajaran dasar yang harus diterima seorang pengikut agama Kristen. Oleh karena itu, ketuhanan Yesus Kristus bisa dikatakan sebagai salah satu dogma Kekristenan.[16]Kärkkäinen, Veli-Matti (2016). Christology: A Global Introduction. Baker Academic. ISBN: 9781493403639[17]Gunton, Colin E. (Ed.). (1997). Chapter 13: Jesus Christ, The Cambridge Companion to Christian Doctrine. Cambridge University Press. ISBN: 9780521476959 Dalam pengertian yang lebih luas dan umumnya, dogma juga telah digunakan untuk menggambarkan gagasan-gagasan yang sudah tidak bisa dipertanyakan atau dibantah. Dan dalam arti inilah juga kita menggunakan istilah dogmatisme. Dimana dalam pengertian tradisionalnya, dogmatisme bisa dibilang sebagai kebiasaan untuk mengikuti atau menyatakan prinsip-prinsip berdasar. Versi istilah yang akan kita gunakan akan sedikit lebih modern (dan relevan) dalam maksud dogmatisme akan menjadi kebiasaan untuk mempunyai keyakinan yang kuat terhadap suatu kepercayaan tanpa mempertanyakan argumen/pemikiran dibalik kepercayaan tersebut.

Sikap dogmatis yang perlu kita perhatikan disini utamanya ada dalam bentuk kuatnya keyakinan seseorang terhadap naratif tertentu tanpa orang tersebut harus memikirkan secara rasional mengenai pemikiran-pemikiran dari kepercayaannya. Ruang Gema mengintensifkan dogmatisme melalui repetisi opini-opini tertentu yang mendukung naratif Ruang Gema tersebut.[18]Mutz, Diana C. (2006). Hearing the Other Side: Deliberative versus Participatory Democracy. Cambridge University Press, Jumlah Halaman: 171 (183). ISBN: 9780511617201. DOI: 10.1017/CBO9780511617201 Dan akibat terintesifikasinya opini-opini tersebut melalui cara pengulangan saja, yang terjadi adalah terciptanya dan terdorongnya suatu sentimen bahwa naratif mereka benar, tanpa ada keperluan apapun untuk mereka sadar tentang mengapa spesifiknya bahwa itu kasusnya. Inilah dogmatisme yang dimaksud. Dimana keyakinan kita kuat akan suatu kepercayaan, tetapi berbasis sepenuhnya pada suatu sentimen yang sepenuhnya tidak rasional.

Suatu kepercayaan logis adalah kepercayaan dengan sebab-sebab yang kita bisa dan mau periksa daripada hanya berdasar suatu sentimen yang sudah ada sebelumnya. Contoh adalah kepercayaan kita konvensional terhadap hasil 1+1 yang, jika kita menggunakan aturan-aturan matematis yang konvensional, adalah 2. Kita bisa menunjukan ke alasan-alasan spesifik mengapa 2 adalah hasilnya. Karena di sisi kiri ada 1 yang digabungkan nilainya dengan 1 lagi, maka nilai selanjutnya adalah 2. 

Tetapi pengulangan suatu opini yang sudah kita setujui tetap memberi kita suatu rasa kenyamanan bahwa kita mempunyai “ide yang benar” tanpa mendorong kita untuk memeriksa pemikiran yang ada dibalik suatu kepercayaan yang kita punya. Jika diilustrasikan dengan contoh 1+1 tadi, seseorang yang mempunyai dogma mengenai 1+1 mungkin memang mengatakan bahwa itu hasilnya adalah 2, tetapi mereka tidak akan bisa menjelaskan mengapa ini kasusnya atau bagaimana proses spesifiknya 2 itu tercipta. 

Masalah dengan sikap ini adalah pada saat diterapkan dimana orang-orang akan memiliki berbagai kepercayaan yang berbeda dan bisa berkemungkinan kontradiktif, tetapi mereka tidak akan bisa menyelesaikan kontradiksi tersebut. Dalam filosofi formal, isu ini dipanggil principle of explosion dimana karena kita sudah menerima suatu kontradiksi, kita secara teknis bisa menjustifikasikan kepercayaan apapun, tanpa mempedulikan seberapa absurdnya kepercayaan tersebut.[19]Ferguson, T., & Priest, G. (2016). principle of explosion, In A Dictionary of Logic. Oxford University Press. ISBN: 9780191816802. Oxford Reference

Tribalisme

Tribalisme adalah keadaan dimana kita terorganisir melalui “suku-suku” (tribes). Atau tribalisme juga bisa merujuk kepada kecenderungan manusia untuk beraktivitas dalam keadaan tersebut. Ruang Gema melakukan ini dengan pembentukan sesuatu yang bisa kita panggil sebagai suku epistemik. Ini artinya suku yang terbentuk melalui Ruang Gema tidak secara intrinsik fokus pada politik, kultur, sosial, atau agama, atau jenis lainnya. Melainkan mereka kodratnya fokus terhadap sisi epistemologi mereka.[20]Nguyen, C. T. (2018). Echo Chambers, ECHO CHAMBERS AND EPISTEMIC BUBBLES. Episteme. DOI: 10.1017/epi.2018.32

Seperti yang sudah dijelaskan, interaksi Ruang Gema dengan Non-Anggota berfungsi melalui suatu “mekanisme penguatan perselisihan”. Mekanisme yang sama ini juga bertanggung jawab atas mengapa orang-orang yang sudah termasuk ke dalam suatu Ruang Gema akan lebih cenderung untuk memanifestasikan sikap-sikap yang tribalistik dengan membuat orang-orang lebih cendrung mendengarkan apa yang sudah mereka setujui, dan utamanya menggunakan opini-opini yang menentang sebagai suatu dorongan naratif mereka – daripada hambatan. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu suku epistemik yang terbentuk akibat itu akan menyatukan orang-orang berdasarkan bagaimana mereka mencapai suatu kesimpulan, spesifiknya pengulangan opini-opini yang mendukung naratif mereka. Dalam kata lain, selama opini tersebut mendorong naratif, tidak ada isunya bagi suatu Ruang Gema jika itu rasional atau tidak.Dari pembentukan suku epistemik ini, hipotesis yang bisa kita dapatkan adalah konten-konten yang mereka konsumsilah yang bertanggung jawab akhirnya akan bentuk akhir apa manifestasi Ruang Gema tersebut. Mungkin bisa saja jika suku epistemik yang terbentuk diberi konten-konten yang politik, terciptalah suatu suku politik. Tetapi hipotesis ini lebih baik ditelusuri lain waktu saja.

Referensi

Referensi
1 Goodman, Jack. Caramichael, Flora. (Juni 26, 2020). Coronavirus: 5G and microchip conspiracies around the world.  BBC News. https://www.bbc.com/news/53191523
2 SOCTV9. (November 26, 2019). Woman opens fire on cell tower workers hundreds of feet in the air, sheriff says. https://www.youtube.com/watch?v=MMH65DWbDB8
3, 8 Jamieson, Kathleen H. Cappella, Joseph N. (2010). Effects of an Echo Chamber, Echo Chamber: Rush Limbaugh and the Conservative Media Establishment. Oxford University Press. ISBN: 9780195398601
4 Grimes, David R. (December 4, 2017). Echo chambers are dangerous –  we must try to break free of our online bubbles The Guardian. theguardian.com/science/blog/2017/dec/04/echo-chambers-are-dangerous-we-must-try-to-break-free-of-our-online-bubbles
5, 9 Nguyen, C. T. (2018). ECHO CHAMBERS AND EPISTEMIC BUBBLES. Episteme. DOI: 10.1017/epi.2018.32
6 Del Vicario, M., Vivaldo, G., Bessi, A., Zollo, F., Scala, A., Caldarelli, G., & Quattrociocchi, W. (2016). Echo Chambers: Emotional Contagion and Group Polarization on Facebook. Scientific Reports, 6(1). DOI: 10.1038/srep37825
7 Abrams, D., Wetherell, M., Cochrane, S., Hogg, M. A., & Turner, J. C. (1990). Knowing what to think by knowing who you are: Self-categorization and the nature of norm formation, conformity and group polarization. British Journal of Social Psychology, 29(2), 97–119. DOI: 10.1111/j.2044-8309.1990.tb00892.x
10 Brugnoli, E., Cinelli, M., Quattrociocchi, W. et al. Recursive patterns in online echo chambers. Sci Rep 9, 20118 (2019). DOI: 10.1038/s41598-019-56191-7
11, 12 Karlsen, Rune., Steen-Johnsen, Kari., Wollebæk, Dag., & Enjolras, Bernard. (April 2017). Echo chamber and trench warfare dynamics in online debates. SAGE Journals, European Journal of Communication, Volume 32 Issue 3. DOI: 10.1177/0267323117695734. PMID: 28690351
13 Kitchens, B., Johnson, S. L., Gray, P. (Desember 2020). Understanding Echo Chambers and Filter Bubbles: The Impact of Social Media on Diversification and Partisan Shifts in News Consumption. MIS Quarterly, Volume: 44, Issue: 4, Halaman: 1619–1649. DOI: 10.25300/MISQ/2020/16371
14 Zollo F. (2019). Dealing with digital misinformation: a polarised context of narratives and tribes. EFSA Journal, Jumlah Halaman: 15. DOI: 10.2903/j.efsa.2019.e170720
15 Chi, X., Liu, J. & Bai, Y. College environment, student involvement, and intellectual development: evidence in China. Higher Education, Volume: 74, Issue: 1, Halaman: 81–99. DOI: 10.1007/s10734-016-0030-z
16 Kärkkäinen, Veli-Matti (2016). Christology: A Global Introduction. Baker Academic. ISBN: 9781493403639
17 Gunton, Colin E. (Ed.). (1997). Chapter 13: Jesus Christ, The Cambridge Companion to Christian Doctrine. Cambridge University Press. ISBN: 9780521476959
18 Mutz, Diana C. (2006). Hearing the Other Side: Deliberative versus Participatory Democracy. Cambridge University Press, Jumlah Halaman: 171 (183). ISBN: 9780511617201. DOI: 10.1017/CBO9780511617201
19 Ferguson, T., & Priest, G. (2016). principle of explosion, In A Dictionary of Logic. Oxford University Press. ISBN: 9780191816802. Oxford Reference
20 Nguyen, C. T. (2018). Echo Chambers, ECHO CHAMBERS AND EPISTEMIC BUBBLES. Episteme. DOI: 10.1017/epi.2018.32

Tinggalkan Balasan