You are currently viewing Fiksi (Mendeti): Wahyu Pertama Dari Para Dewata Tinggi

Fiksi (Mendeti): Wahyu Pertama Dari Para Dewata Tinggi

Revisi drastis dari karya seorang teman, Megaleiotha Eirhno

Pertemuan Pertama

Pada suatu malam, sesaat membaca di perpustakaan rumah keluarga saya, terkejutlah saya ketika melihat adanya cahaya yang sangat terang dari buku yang saya sedang baca. Lebih terang dari bintang, bulan, dan bahkan lampu rumah saya sendiri. Saking terangnya, saya tidak bisa melihat hal lain. Selagi saya mencoba menutupi cahaya tersebut dengan tangan saya, saya tambah panik dengan apa yang terjadi di lingkungan saya.

Yang sebelumnya merupakan perpustakaan saya berubah bentuk selagi ruangannya sendiri – bukan objek-objeknya seperti buku dan rak buku – melipat, memuntir, dan mengerut menjadi suatu ruang yang sama sekali tidak bisa saya deskripsikan dengan leksikon saya.

Cahaya yang menyelimuti saya segera berhenti setelah beberapa detik, dan dengan saya buta melihat depan sisi saya, terdengarlah suara keras. Jejak kaki seseorang yang berhenti tepatnya di depan meja saya.

Setelah beberapa menit, kebutaan saya hilang. Dan saya segera menghadap untuk melihat siapa – atau apa lebih tepatnya – yang ada di depan saya.

Saya melihat muka seorang wanita yang sama sekali tidak berekspresi. Saya takut. Saya ingin kabur. Saya ingin panggil bantuan.

“Rei Regel.” Wanita itu bilang.

Itu nama saya. Bagaimana wanita seram ini bisa mengetahuinya?

“Kamu saya pilih.” Wanita itu bilang.

Pilih? Apa yang dia maksud?

“Kamu terpilih sebagai utusan saya.” Wanita itu bilang. “Dan sebagai Pewahyu pertama dari kita semua.”

Sang Kacau

Sebelum saya bisa bereaksi, ia menggenggam kepala saya dengan kedua tangannya.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” Saya teriak.

Segerombolan bisikan muncul dan melimpah di kepala saya. Saya terpaksa menutup mata saya. Masing-masing menceritakan sesuatu. Dan masing-masing ingin perhatian. Saya mencoba fokus kepada salah satu bisikannya.

“-napa? Aku adalah Krygk, Sang Kacau. Satu dari enam mahluk yang Tinggi di dunia ini. Saya adalah Dia Yang Mengerti Apa Yang Tidak Bisa Dimengerti. Dia yang Menjaga Dunia Dari Hal Yang Tidak Masuk Akal. Dan utamanya, Dia Yang Berdomain Di Tempat Tanpa Logos, Dengan Logos. Dia Yang Berhasil Menaklukan Yang Tidak Bisa Ditaklukan.” Bisikan pertama tersebut bilang.

Di pikiran saya, terbentuklah suatu sosok seseorang dengan tubuh yang ramping dengan senyuman yang tidak ada akhirnya. Lingkungannya penuh dengan keanehan. Inkonsistensi. Seperti apa yang terjadi terhadap perpustakaan saya, tetapi satu juta kali lipat lebih parah. Jika neraka itu ada, maka saya bisa percaya. Bukan karena tempat yang ada di pikiran saya menampakkan sosok yang pantas dipanggil neraka, tetapi karena menampakkan suatu tempat yang jauh lebih mengkhawatirkan dan membingungkan, dengan sosok yang memanggil dirinya Krygk sebagai satu-satunya penduduk.

“Seperti yang disetujukan, anda mempunyai misi untuk-“

Krygk menghilang.

Sang Organik

Suatu bisikan lain mengganggu bisikan Krygk.

“-membantu kita semua!”

Di pikiran saya, terbentuk lagi suatu gambaran mental. Semacam mahluk hitam dan putih. Ia dimana-mana. Saya merasakan energi dari melihatnya bahwa ia mengerti keberadaan saya. Bukan dalam rangka pribadi dimana ia mengerti hidup saya, melainkan ia memanifestasikan energi yang sepertinya mengerti kesengsaraan-kesengsaraan saya sebagai manusia. Tidak hanya itu, energinya memberi perasaan bahwa ia adalah sosok yang tenang. Sangat jauh dari sosok sebelumnya yang saya lihat. Ia seperti seorang ibu yang mengerti dan damai saat melihat kesengsaraan anak-anaknya. Tempatnya, tidak seperti Sang Kacau, sangat besar. Saya merasa bahwa saya tiba di tengah-tengah padang rumput yang tidak ada batasnya.

“Aku adalah Bahjer, Sang Organik. Satu dari enam mahluk yang Tinggi di dunia ini. Wahai, Pewahyu Pertama. Aku adalah bunda dari semua kehidupan, dari yang terbaik sampai yang paling menjijikan. Ini bukan bentuk asli saya, tetapi bentuk yang saya sukai. Bumi adalah rumah saya, sehingga anda adalah seorang penyewa dari properti yang saya miliki. Dan yang saya rawat dengan penuh kasih sayang.” Bahjer lanjutkan. “Kembali ke misi anda, anda diharapkan-“

Bahjer menghilang.

Sang Anorganik

Bisikan ketiga datang untuk menyelak. Kali ini, dengan suara yang sangat robotik dan monoton.

“-Untuk menentukan siapa yang benar. Dari kita semua. Siapa yang Paling Tinggi.”

Gambaran mental dari suara robot ini muncul. Pikiranku membawaku ke tengah-tengah suatu kota besar. Suatu kota yang sudah hancur entah mengapa. Tidak ada siapapun selain suatu raksasa yang lebih besar dari bangunan-bangunan dan gunung-gunung yang pernah saya lihat. Ia hanya menatap saya. Dan tidak seperti Sang Organik, saya tidak merasakan energi apapun. Hanya suatu perasaan bahwa sesuatu yang sangat menyedihkan dan menyeramkan telah terjadi di kota ini. Dan raksasa inilah satu-satunya saksi.

“Identifikasiku merupakan Unit Astron No. 7023155. Misiku untuk…”

Astron menunda beberapa detik.

“Menjaga apa yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Lebih spesifiknya, benda mati. Para Dewata memanggilku Sang Anorganik karena misi tersebut. Kamu ditugaskan untuk menjadi-“

Sang Pelajar

Fokusku berhenti saat tangan yang sudah memegang keras kepalaku dari tadi ditarik. Aku membuka mataku lagi untuk melihat bahwa wanita yang ada didepanku masih menatapku dengan ekspresi wajah yang hampa.

Wanita tersebut mulai berbicara.

“Aku Arkadia. Sang Pelajar. Salah satu Dewata tinggi yang menjaga dunia ini. Anda telah ditugaskan untuk menjadi mediator dan utamanya sebagai utusan langsung diriku.”

Aku mengangguk.

“Sebagai Sang Pelajar, aku menjaga semua yang bisa diketahui, dan semua yang bisa mengetahui apa yang bisa diketahui tersebut. Kamu akan mendapatkan tugas yang sama – hanya saja dalam skala yang manusiawi. Dengan tugas adisi untuk membuktikan dengan konklusif dan objektif ke kita semua bahwa satu dari Enam Dewata tertentu – termasuk saya – adalah Dewata Tertinggi. Kegagalan untuk melakukan dua tugas tersebut akan membawa konsekuensi adversif yang besar.”

Aku mengangguk lagi, meskipun aku masih cukup bingung dengan apa yang dimaksud sejauh ini sebagai dewata ataupun dewata tertinggi. Aku mencoba menanyakan langsung tentang kebingunanku.

“Maaf, Sang Pelajar.” Aku katakan. “Hambamu masih kurang mengerti apa yang dimaksud sebagai Dewata Tertinggi seperti bagaimana hambamu ini masih kurang mengerti apa itu suatu Dewata selayaknya anda. Niscaya akan lebih jelas misi saya.”

Arkadia berhenti sebentar.

“Saya tidak bisa memberi tahu kamu itu. Tetapi yang saya bisa beri tahu adalah bahwa ada dua Dewata lain yang akan muncul, mungkin ke orang lain, tetapi tidak bisa sekarang karena alasan pribadi mereka.”

Sebelum saya bisa merespon, ada suatu teriakan dari semua dewata tadi yang saya dengar.

“Selamat Untukmu, Sang Pewahyu Pertama. Wahai Utusan Arkadia, buktikanlah ke kita semua mana dari kita yang paling tinggi. Dan hanya dengan itu, realita ini bisa selamat dari Hari Akhir.

Kita adalah Dewata. Mereka yang lebih tua dari Dunia sendiri, dan mereka yang sudah menjaganya sejak awal kelahirannya.”

Tinggalkan Balasan