You are currently viewing Musik Mozart Membuat Anda Lebih Cerdas?

Musik Mozart Membuat Anda Lebih Cerdas?

Revisi dan repost dari artikel di grupkapital.id

Tiga peneliti – Frances H. Rauscher, Gordon L. Shaw, dan Katherine N. Ky – melaksanakan dan mempublikasikan suatu studi di majalah Nature pada tahun 1993.[1]Rauscher, F. H., Shaw, G. L., & Ky, Katherine N. (1993). Music and spatial task performance. Nature, 365 (6447), 611–611. DOI: 10.1038/365611a0 Mereka tidak pernah membayangkan bahwa hasil riset mereka akan menjadi basis dari salah satu klaim dan sentimen yang paling diulang oleh masyarakat umum, yaitu musik-musik Mozart bisa membuat seseorang menjadi lebih pintar.

Dan di saat yang sama juga hampir menjadi alasan mengapa 100 ribu Dolar Amerika (sekitar 1.4 milyar rupiah) bisa diberikan setiap tahun di provinsi Georgia khusus untuk membeli rekaman atau CD lagu klasikal.

Bagaimana berlangsungnya penyebaran sentimen tersebut dalam masyarakat umum?

Dan apakah ada kebenaran dibalik sentimen tersebut bahwa lagu-lagu Mozart bisa membuat anda menjadi lebih pintar?

Kita akan mulai dengan pertanyaan kedua tersebut.

Penelitian Orisinil Dibalik Efek Mozart

Tujuan dari penelitian yang dilaksanakan Rauscher, Shaw, dan Ky aslinya berdasar pada konteks bahwa ada banyak hubungan korelasional, historis, dan anekdotal antara “mendengarkan musik” dan “fungsi-fungsi otak yang tinggi”. Sehingga, hal yang mereka harapkan untuk bisa coba uji dalam penelitian tersebut adalah jika memang benar ada hubungan seperti itu.

Prosedur yang mereka gunakan untuk menguji adalah sebagai berikut:

Subyek diharuskan melakukan tiga aktivitas, dimana setelah masing-masing aktivitas mereka harus langsung mengambil satu dari tiga tes kecerdasan dari Skala Kecerdasan Stanford-Binet. Ketiga aktivitas tersebut adalah:

  • Mendengarkan 10 menit dari suatu karya musik, spesifiknya Sonata for Two Pianos in D Major, K488 yang dibuat oleh Mozart
  • Mendengarkan 10 menit instruksi untuk relaksasi demi menurunkan tekanan darah
  • Diam selama 10 menit

Kembali pada tiga tes kecerdasan setiap subjek segera ambil (satu setiap mereka masing-masing selesai melaksanakan satu aktivitas), tes ini terdiri dari tiga tipe yaitu tes analisa pola, tes pilihan ganda berjenis matriks, dan tes pilihan ganda berjenis potongan kertas dan pelipatan kertas (paper cutting and paper folding multiple choice test).

Contoh suatu Tes Analisa Pola
(Bukan dari Tes Asli Penelitian Rauscher, et al)
(Hanya untuk alasan Ilustratif)
Contoh suatu Tes Pilihan Ganda Matriks
(Bukan dari Tes Asli Penelitian Rauscher, et al)
(Hanya untuk alasan Ilustratif)
Contoh suatu Tes Pilihan Ganda Berjenis Pelipatan Kertas
(Bukan dari Tes Asli Penelitian Rauscher, et al)
(Hanya untuk alasan Ilustratif)
Contoh suatu Tes Pilihan Ganda Berjenis Potongan Kertas
(Bukan dari Tes Asli Penelitian Rauscher, et al)
(Hanya untuk alasan Ilustratif)

Dari 36 partisipan (semua mahasiswa/mahasiswi), hasilnya adalah rata-rata mahasiswa – setelah mereka melaksanakan aktivitas “mendengarkan musik” – merupakan sekitar 57.56 dari 60. Di banding itu, para partisipan setelah melaksanakan “mendengarkan instruksi” dan “diam” mendapatkan masing-masing 54.61 dan 54.00. Rauscher dan kolega-koleganya kemudian mentranslasikan skor-skor tersebut menjadi equivalen dengan skor IQ.

Dan bisa dikatakan bahwa rata-rata skor 36 partisipan tersebut setelah mendengarkan musik Mozart yang terpilih sebelumnya – jika diequivalensikan menjadi IQ – lebih tinggi sebanyak 8-9 angka dibanding dengan ketika mereka baru saja menyelesaikan dua aktivitas lainnya.

Grafik Data yang diberi Studi Aslinya[2]Rauscher, F. H., Shaw, G. L., & Ky, C. N. (1993). Music and spatial task performance. Nature, 365(6447), 611–611. doi:10.1038/365611a0

Rauscher dan kolega-koleganya juga menemukan bahwa efek tersebut bersifat sementara, hanya ada selama sekitar 10-15 menit yakni di saat masing-masing subjek studi melaksanakan tes kecerdasan yang diberikan kepada mereka.

Apa Yang Tidak Ditunjukan dari Penelitian Rauscher

Sesuatu yang harus diklarifikasi disini adalah bahwa Rauscher hanya menemukan suatu peningkatan sementara dalam penalaran/pemikiran spasial, daripada peningkatan jangka panjang dalam IQ atau penalaran umum. Ini adalah nuansa yang harus kita sangat berhati-hati karena ada terlalu banyak instansi dimana orang-orang menyatukan kedua konsep tersebut menjadi satu konsep umum yaitu “kecerdasan”.

Daripada seperti apa Alex Ross bilang (nanti kita akan melihat apa yang ia katakan spesifiknya di bab Reaksi Publik terhadap Mozart Effect),[3]Ross, Alex. (28 Agustus 1994). ‘CLASSICAL VIEW; Listening To Prozac . . . Er, Mozart’, Section 2, Page 23. New York Times.  … Continue reading penelitian yang dilaksanakan Rasucher sama sekali tidak menemukan peningkatan dalam IQ atau penalaran umum (general reasoning), hanya penalaran/pemikiran spasial. Dimana IQ merujuk kepada suatu skor dari sejumlah tes yang mencoba mengukur kecerdasan, dan penalaran umum merujuk kepada kemampuan kita untuk membentuk kesimpulan yang reliabel, Penalaran Spasial merujuk kepada kemampuan kita untuk membentuk kesimpulan-kesimpulan yang reliabel khususnya mengenai objek-objek dan ruang.

Untuk menyamakan dua konsep tersebut merupakan suatu kesalahpahaman besar. Karena jikalaupun kedua konsep itu berhubungan dengan satu sama lain, mereka adalah kedua konsep yang masing-masing mempunyai ruang lingkup mereka masing-masing. Dan faktanya adalah sudah ada banyak sentimen publik yang mengatakan bahwa “Penelitian Rauscher membuktikan musik Mozart bisa membuat seseorang menjadi lebih pintar” dengan implikasi bahwa kepintaran yang dimaksud oleh studi Rauscher tidak hanya bersifat permanen (yang sendirinya juga sudah salah berdasarkan penemuan Rauscher et al), namun juga ada implikasi bahwa kepintaran yang dimaksud adalah kepintaran sehari-hari yang kita gunakan yakni kecerdasan/penalaran umum.

Rauscher sendiripun mengatakan,

Komentar-komentar dari Chabris dan Steele et al. menggemakan yang paling umum dari (miskonsepsi-miskonsepsi) ini semua: bahwa mendengarkan Mozart meningkatkan kecerdasan. Kami tidak mengklaim seperti itu. Efeknya terbatas pada tugas-tugas spasial-temporal yang meliputi pencitraan mental dan penyusunan temporal

Rauscher, Prelude or requiem for the Mozart Effect?[4]Rauscher, F. Prelude or requiem for the ‘Mozart effect’?. Nature 400, 827–828 (1999). DOI: 10.1038/23614

Sains Efek Mozart Pasca-Rauscher et al dan Kondisi Penelitiannya Sekarang

Tentunya, penelitian menyangkut “Mozart Effect” tidak berhenti pada Rauscher, Shaw, dan Ky. Bisa dikatakan bahwa merekalah permulaan dari penelitian-penelitian menyangkut efek musik pada kecerdasaran manusia. Fenomena yang mereka temukan pada dasarnya terlalu populer dan menarik untuk dibiarkan dalam satu studi saja.

Kelanjutan dari penelitian-penelitian yang dilakukan oleh dunia ilmiah setelah penelitian orisinil Rauscher dan kolega-koleganya datang juga dalam bentuk banyak sekali studi, analisa, dan kritik. Tentu saja, artikel ini tidak akan bisa melingkup keseluruhan dari studi-studi tersebut dan menjelaskan secara mendalam masing-masing studi. Oleh karena itu, kita akan mengkaji studi-studi yang dengan sendirinya mencoba mengkaji dan mengevaluasi hasil studi-studi sebelumnya.

Atau dalam kata lain, kita akan melihat hasil-hasil meta-analisis yang pada sebagian besasrnya sudah diterima oleh peneliti-peneliti lain sebagai representatif dari kondisi penelitian mengenai topik “Mozart Effect”.

Dengan ini, kita bisa tidak hanya dengan mudah mengkaji penelitian-penelitiannya, namun kita juga bisa melihat isu-isu apa yang mungkin ada dalam cara para peneliti melakukan penelitian mereka pada saat meneliti fenomena ini.

Isu Pertama: Susah Direproduksi?

Satu isu besar yang seringkali disangkutpautkan kepada “Mozart Effect” oleh banyak peneliti adalah kesusahan yang tampak ketika peneliti-peneliti mencoba untuk mereproduksi efek-efek populer yang seringkali diasosiasikan dengan efek tersebut (i.e musik mozart meningkatkan IQ seseorang).

Dalam sains, bisa atau tidaknya suatu penelitian dilakukan lagi dengan hasil yang sama adalah sesuatu yang sangat penting. Prinsip dasarnya cukup simpel untuk diilustrasikan.

Jika saya memakan wortel, dan saya tiba-tiba mendapatkan kanker, saya bisa berhipotesis bahwa mungkin memakan wortel itu bisa menyebabkan kanker. Namun, jika kemudian orang lain mencoba memakan wortel, dan mereka tidak mendapatkan kanker, maka saya mungkin tidak terlalu benar tentang hipotesis saya.

Mungkin saja kondisi saya cukup unik dimana interaksi antara fisiologi saya dengan nutrisi wortel itu bisa menyebabkan kanker.

Hal yang sama (seperti contoh wortel itu) dibilangnya terjadi dengan hal-hal yang sering dilaporkan pada saat itu sebagai efek-efek dari mendengarkan Mozart.

Lynn E. McCutcheon, seorang peneliti dari Floridan Southern College, mengkaji ini dalam studinya,[5]McCutcheon, L. E. (2000). ‘Another Failure to Generalize the Mozart Effect’. Psychological Reports, 87(1), 325–330. DOI: 10.2466/pr0.2000.87.1.325

Sejak 1993 telah banyak sejumlah percobaan untuk memproduksi efek Mozart ini, melalui berbagai rangsangan musik dan desain-desain penelitian. Beberapa studi telah mendukung penemuan-penemuan orisinilnya (Rauscher, et al., 1995; Nguyen, Shaw, & Tran, 1996; Rauscher, Hughes, & Miller, 1996; kdeout & Laubach, 1996; Nantais, 1997; kdeout, Doughercy, & Wernert, 1997; Rideout & Taylor, 1997; Wilson & Brown, 1997), tetapi tidak yang lain (Newman, Rosenbach, Burns, Latirner, Matocha, & Vogt, 1993; Stough, Kerkin, Bates, & Magnan, 1994; Carstens, Huskins, & Hounshell, 1995; Cash, El-Mallakh, Chamber- lain, Bratton, & Li, 1997; Steele, Ball, & Runk, 1997; Rideout, Fairchild, & Urban, unpublished manuscript). Beberapa studi menghasilkan entah efek-efek kecil (fideout & Laubach, 1996; Rideout & Taylor, 1997) atau tidak ada efek pada dua dari empat ukuran yang digunakan (Wilson & Brown, 1997)

Translasi dari Studi Orisinilnya Lynn E. McCutcheon, “Another Failure to Generalize the Mozart Effect”

Rauscher mengakui keberadaan kesusahan tersebut, dan memberi beberapa alasan mengapa ini kasusnya.[6]Rauscher, Frances H.; Shaw, Gordon L.; Ky, Katherine N. (1995). Listening to Mozart enhances spatial-temporal reasoning: towards a neurophysiological basis. Neuroscience Letters. 185 (1): 44–47. … Continue reading Ada tiga alasan, dia bilang. Yaitu, pertama-tama, aktivitas yang diberi pada para subjek/partisipan riset hanya menguji rekognisi spasial (spatial recognition) dan tidak menguji penggambaran mental (mental imagery), dan juga keteraturan temporal (temporal order). Kedua, banyak desain riset yang dilaksanakan memiliki semacam tes yang dilakukan mendahului ujian aslinya, dan ini meningkatkan kemungkinan terjadinya inakurasi dalam hasil yang didapatkan (Lihat: Ceiling Effect[7]Statology. What is a Ceiling Effect? (Explanation & Example). statology.org/ceiling-effect/[8]Faculty of Psychology of Binus. Ceiling Effect. psychology.binus.ac.id/kamus-psikologi/kamus-psikologi-c/ceiling-effect/). Dan ketiga, banyak musik yang dipakai terlalu simpel dan berulang-ulang, dimana Rauscher menjelaskan bahwa ada hubungan antara seberapa “kompleks” musik yang didengarkan dan apakah akan ada efek terhadap kemampuan spasial-temporal individu yang mendegarkan musik tersebut.

Tiga alasan tersebut dipertimbangkan lebih lanjut oleh McCutcheon yang melakukan penelitian lanjut menggunakan tiga alasan tersebut. Dua dari tiga kondisi yang dicetuskan oleh Rauscher dalam respon sebelumnya dibilang sudah dipenuhi dalam penelitian baru tersebut, namun ia masih gagal dalam memproduksi hasil yang memuaskan gagasan bahwa ada semacam efek positif dari musik-musik, apalagi musik Mozart, pada kemampuan spasial-temporal seseorang.

Isu Kedua: Efek Mozart Bukan Efek Langsung dari Musiknya?

Jika kita mengasumsi bahwa musik-musik Mozart benar-benar mempunyai efek yang positif terhadap kemampuan spasial-temporal kita, ada suatu posibilitas yang pernah didemonstrasikan bahwa efek positif tersebut ternyata merupakan bukan secara langsung efek dari musik yang didengarkan.

Dalam satu meta-analisis C.F Chabris yang dipublikasikan pada 1999 di jurnal Nature[9]Chabris, C. F. (1999). Prelude or requiem for the “Mozart effect”?. Nature, 400 (6747), 826–827. DOI: 10.1038/23608. PMID 10476958 – jurnal yang sama dimana Rauscher mempublikasikan studi orisinilnya – dikatakan bahwa tidak hanya peningkatan pada kemampuan pemikiran abstrak (abstract reasoning) merupakan kecil dan tidak mencerminkan bertingkatnya IQ atau kemampuan penalaran umum, namun juga mempunyai penjelasan neuropsikologis yang cukup simpel. Mengapa bisa ada peningkatan kecil ini dikatakan oleh Chabris bisa dijelaskan juga karena fakta bahwa proses-proses otak yang berlangsung ketika seseorang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan pada tes Rauscher terlibat dengan fungsionalitas dari belahan otak tengah kanan, yang juga berurusan dengan fungsi kebahagiaan.

Atau dalam kata lain, alasan mengapa orang-orang memiliki peningkatan yang kecil sesudah mendengarkan musik Mozart pada studi Rauscher adalah karena orang-orang tersebut lebih bahagia sesudah mendengarkan musik tersebut. Bukan secara langsung karena Sonata for Two Pianos in D Major, K488 dengan sendirinya menyebabkan peningkatan kognitif, tetapi lebih tepatnya karena yang mendengarkan musik tersebut kebetulan saja menyukai lagu itu ke batas tertentu, sehingga keadaan pikiran mereka menjadi meningkat dan lebih bahagia/tentram ketika mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Satu kesimpulan yang bisa diambil dari gagasan itu adalah berarti “Mozart Effect” tidaklah merujuk ke musik-musik Mozart saja, namun hampir segala hal bahkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan musik. Sebagai contoh, Chabris juga merujuk kepada suatu studi yang menemukan bahwa mendengarkan musik Mozart atau membaca suatu bagian dari cerita Stephen King bisa meningkatkan prestasi dalam jenis tes pelipatan dan potongan kertas seperti yang ditemukan oleh Rauscher.

Isu Ketiga: Kemungkinan Bias Publikasi?

Kembali kepada isu pertama yang sudah dikaji tadi, suatu meta-analisis yang dilakukan oleh Jakob Pietschnig, Martin Voracek, dan Anton Formann pada 2010 mengatakan bahwa susahnya direproduksi hasil studi Rauscher menyarankan ada kemungkinan terjadinya semacam Bias Publikasi (publication bias) dalam studi orisinil tersebut.[10]Pietschnig, Jakob; Voracek, Martin; Formann, Anton K. (2010). Mozart effect–Shmozart effect: A meta-analysis. Intelligence. 38 (3):314-323. DOI: 10.1016/j.intell.2010.03.001

Bias Publikasi adalah kecendrungan apapun dimana para peneliti gagal untuk mempublikasi hasil-hasil studi/penelitian dengan basis arah atau kekuatan dari hasil-hasil penelitian.[11]Dickersin K, Min YI. Publication bias: the problem that won’t go away. Ann N Y Acad Sci. 1993 Dec 31;703:135-46; discussion 146-8. DOI: 10.1111/j.1749-6632.1993.tb26343.x. PMID 8192291 Ketika fenomena ini terjadi, “kemurnian” dari riset yang dilakukan bisa rusak sehingga membuat riset, terutama meta-analisis yang dilakukan nanti, menjadi semakin tidak reliabel.

Contoh yang cukup ternama dari Bias Publikasi ada pada penggunaan narkoba Reboxotine (dijual dengan nama Edronax) sebagai suatu antridepresan pada tahun 2001 di banyak negara Eropa, namun setelah 9 tahun Institute for Quality and Efficiency in Healthcare mempublikasikan suatu meta-analisis menyangkut penggunaannya untuk menangani depresi berat (acute depression) yang memproduksikan penemuan-penemuan bahwa ada sejumlah data (menyangkut 3000 subjek) yang tidak dipublikasikan oleh Pfitzer – perusahaan produksi Edronax pada saat itu.[12]Lowe, Derek. (17 Januari 2011). Reboxetine Doesn’t Work. But That’s Not the Real Problem. Science Translational Medicine. … Continue reading

Dalam kasus Bias Publikasi yang ditemukan oleh Pietschnig, et al tadi, mereka spesifiknya pertama-tama melihat 226 studi (yang sudah terpublikasi) yang diidentifikasikan berkemungkinan relevan untuk dianalisis lebih lanjut. Namun 201 dari 226 studi tersebut dihilangkan dari daftar total studi yang dianalisis karena menggunakan variabel-variabel independen yang kurang relevan demi mengukur kemampuan spasial-temporal, tidak cukupnya informasi statistik, atau kurang relevannya subjek studi tersebut demi meta-analisis Pietschnig, et al. Sehingga, mereka pada akhirnya menggunakan 25 dari studi yang mereka dapatkan.

Setelah itu mereka juga mengambil 19 studi (yang belum terpublikasi) dari suatu meta-analisis lain yang dilaksanakan oleh Hetland.

Totalnya Pietschnig, et al memiliki hampir 40 studi, dan juga lebih dari 3000 subjek dari studi-studi tersebut.

Mereka kemudian mengkategorisasikan 39 studi tersebut menjadi tiga kelompok berdasarkan dapat atau tidak dapatnya para subjek studi rangsangan/stimulus musik. Kelompok studi pertama (MO-NM) adalah kelompok yang mendengarkan musik Mozart K488 versus yang sedikit atau tidak mendengarkan musik. Yang kedua (MO-OM) adalah mereka yang mendengarkan musik Mozart K488 versus mereka yang mendapat rangsangan dengan mendengarkan musik selain Mozart K488. Yang kelompok terakhir (OM-NM) adalah mereka yang sedikit/tidak mendengarkan musik versus mereka yang mendengarkan musik selain Mozart K488.

Dengan pengelompokan yang sudah dilaksanakan, Pietschnig dan kolega-koleganya melaksanakan proses analisis data yang cukup komprehensif (dan karena ini juga penulis dari artikel ini takut untuk menyalahgunakan/menyalahinterpretasikannya untuk dijelaskan mendetil disini, tolong bacalah penjelasan studi aslinya dalam waktu anda sendiri nanti).

Yang mereka temukan berdasarkan analisis data yang mereka lakukan adalah ukuran efek (Lihat: effect size[13]Simply Psychology. What does effect size tell you?. simplypsychology.org/effect-size.html[14]Akhtar, Hanif. (16 Februari 2020). Signifikansi, Effect Size, Statistical Power, dan Besaran Sampel. Semesta Psikometrika. semestapsikometrika.com/2020/02/signifikansi-effect-size-statistical.html[15]Social Science Statistics. Effect Size Calculators. socscistatistics.com/effectsize/) dari para peneliti kelompok MO-NM yang berafiliasi dengan dengan Lab Rauscher atau Lab Rideout – seorang peneliti selain Rauscher – lebih dari tiga kali lipat tinggi daripada ukuran efek para peneliti kelompok lain yang juga tidak mempublikasi studi mengenai Mozart Effect yang dilaporkan oleh Rauscher. Dalam kata lain, dari 39 studi tadi yang sudah dikategorisasikan menjadi 3, studi-studi yang berhubungan dengan Lab Rauscher dan Lab Rideout ditemukan “lebih kuat” dalam membuktikan apa yang Rauscher pertama kali temukan, daripada studi-studi yang tidak berhubungan dengan Lab Rauscher dan Lab Rideout.

Dalam seksi diskusi penelitian meta-analisis Pietschnig, mereka mengatakan bahwa hal tersebut mendukung gagasan bahwa mungkin ada bias publikasi dalam penelitian-penelitian yang dilaksanakan menyangkut topik “Mozart Effect”.

Jadi, Mozart Effect benar atau tidak?

Dengan membandingkan penelitian Rauscher orisinilnya dengan penelitian-penelitian yang lebih kontemporer, saya percaya bahwa tidak hanya efek Mozart merupakan suatu fenomena yang nihil, tetapi versi efek Mozart yang lebih realistis yang dipersembahkan di studi Rauscher et al sebenarnya juga suatu fenomena yang belum konklusif. Ketiga isu sebelumnya yang saya kaji dan jelaskan dengan cukup panjang menurut saya memberi keraguan-keraguan yang cukup untuk kita sekarang meragukan sepenuhnya bahwa musik Mozart bisa menjadi suatu alat yang meningkatkan kecerdasan kita dengan ajaib, entah dalam bentuk kecerdasan umum kita ataupun dalam bentuk aspek-aspek spesifik yang dirujuk oleh Rauscher di studi orisinilnya.

Untuk sekarang, kebenaran dibalik fenomena Efek Mozart adalah hal yang masih belum terbuktikan dengan cukup.

Reaksi Publik Terhadap Mozart Effect

Dengan pengetahuan yang kita tahu sekarang, “The Mozart Effect” menjadi suatu istilah untuk mengilustrasikan suatu korelasi – yang disangka benar – antara mendengarkan karya-karya musik Mozart dengan naiknya kecerdasan kita (walaupun tidak terbatas pada itu saja). Satu manifestasi prevalen dari sentimen ini adalah seperti apa yang ditulis oleh Alex Ross, kritikus musik, di suatu artikel satu tahun setelah publikasi studi Rauscher, et al.

Jika masih ada keraguan dalam pikiran siapapun (bahwa Mozart telah menggantikan posisi Beethoven sebagai komposer terbaik di dunia), para peneliti di Center for the Neurobiology of Learning and Memory (Pusat untuk Neurobiologi dari Pembelajaran dan Ingatan) di University of California, Irvine, telah menentukan bahwa mendengarkan Mozart sebenarnya membuat kamu lebih cerdas

Alex Ross[16]Ross, Alex. (28 Agustus 1994). ‘CLASSICAL VIEW; Listening To Prozac . . . Er, Mozart’, Section 2, Page 23. New York Times. Link: … Continue reading

Tentu, tidak hanya itu eksposur yang didapatkan oleh Rauscher dan kolega-koleganya. National Public Radio (NPR) melaporkan bahwa pada awalnya, apa yang diketahui sebagai “The Mozart Effect” dimulai dengan suatu cerita yang dipublikasikan oleh Associated Press (AP).[17]Spiegel, Alix. (28 Juni 2010). ‘Mozart Effect’ Was Just What We Wanted To Hear. National Public Radio. https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=128104580 Pemublikasian cerita itu membawa lebih banyak eksposur lagi dari pihak publik terhadap penelitian Rauscher dan kolega-koleganya, dan juga terhadap Rauscher, Shaw, dan Ky sebagai peneliti-peneliti dibalik studi tersebut. Untuk mengilustrasikan seberapa besarnya eksposur yang mereka dapatkan, Rauscher sendiri mengatakan bahwa ia sampai harus memperkerjakan seseorang untuk mengurus semua telpon yang ia dapatkan pada saat itu.

Namun, legenda dari “Mozart Effect” ini tambah diperbesar – dan bisa dibilang paling dibesarkan – melalui karya-karya Don Campbell. Ia dikenal sebagai orang yang paling influensial dalam membuat “The Mozart Effect” dikenal oleh jutaan-jutaan orang.

Karya pertamanya yang berurusan dengan hal tersebut mempunyai judul yang cukup sesuai dengan apa yang ia bicarakan.

Cover: The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit[18]Campbell, Don. (1997). The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit. HarperCollins, Reprint Edition. (April 25, 2009). ISBN: … Continue reading

Dalam The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit (Efek Mozart: Memanfaatkan Kekuatan dari Musik untuk Menyembuhkan Tubuh, Memperkuat Pikiran, dan Membuka Kunci Jiwa Kreatif), Campbell menggunakan berbagai pengalaman dan studi – termasuk studi Rauscher – untuk mendorong gagasan bahwa mendengarkan musik-musik (utamanya yang berjenis concerto seperti Piano Concerto No. 21 in C, The Marriage of Figaro, Piano Concerto No. 12 in A major, K. 414 (385p), dan Clarinet Concerto (K. 622)) tidak hanya bisa membuat seseorang bisa lebih cerdas, namun juga bisa membawa efek-efek positif lain antara lain seperti membuat pencernaan kita lebih lancar dan mendorong fungsi sistem kekebalan tubuh.

Meskipun cukup sulit untuk mengukur seberapa banyaknya buku itu terjual, Campbell mengatakan di websitenya bahwa bukunya ditranslasikan ke dalam 24 bahasa.[19]mozarteffect.com

Melalui situs yang sama, ia juga membuat suatu bisnis online menjual CD musik yang dikatakan bisa mengaktifkan “Mozart Effect” kepada mereka yang mendengarkannya. Produk-produknya juga ia implikasikan bisa menyembuhkan – atau setidaknya – memperbaiki kondisi Dyslexia, Autisme, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang dimiliki anak-anak.[20]mozarteffect.com/faq

Ini semua pada akhirnya membangun suatu “legenda ilmiah” yang diketahui secara umum. Sangat umum sampai legenda ini akhirnya berdampak pada operasi politik di Amerika Serikat, spesifiknya di Provinsi Georgia.

Pada 13 Januari 1998, Gubernur Zell B. Miller mengajukan suatu tambahan provisi dengan perlengkapan dan peralatan yang diberi rumah sakit kepada bayi-bayi yang baru saja lahir di provinsi Georgia.[21]Sack, Kevin. (15 Januari 1998). Georgia’s Governor Seeks Musical Start for Babies. New York Times. nytimes.com/1998/01/15/us/georgia-s-governor-seeks-musical-start-for-babies.html Dimana rumah sakit pada saat itu hanya memberi sejumlah tisu bayi, popok, dan instruksi menyusui dan mengimunisasikan bayi, Gubernur Miller ingin rumah sakit untuk juga menambahkan sebuah pita kaset atau CD yang berisi musik klasikal dalam perlengkapan tadi untuk setiap bayi yang baru lahir.

Dia katakan, “Tidak ada yang mempertanyakan bahwa mendengarkan musik dari usia yang sangat muda mempengaruhi pemikiran spasial (dan) temporal yang mendasari matematika dan teknik, dan bahkan catur,” Gubernur Miller lanjutkan, “Membuat bayi itu mendengar musik yang menenangkan membantu trilliun-trilliun koneksi otak untuk berkembang.”

Dielaborasikan dalam suatu laporan penelitian oleh Office of Legislative Research (OLR) bahwa Gubernur Miller meminta legislatur Georgia, yaitu Georgia General Assembly (Majelis Umum Georgia), untuk menggunakan $105,000 (1.5 milyar Rupiah) demi memenuhi ajuannya tersebut. Namun penggunaan dana tersebut banyak ditolak oleh anggota dari legislaturnya.[22]Spigel, Saul. (13 Juli 1998). RE: Georgia’s Provision of Classical Music for Newborns. Office of Legislative Research, OLR Research Report. cga.ct.gov/PS98/rpt%5Colr%5Chtm/98-R-0888.htm

Meskipun dengan begitu, proposal Gubernur Miller masih tetap dilaksanakan dengan dana yang bersumber bukan dari legislatur Georgia, melainkan dengan dana yang diberi oleh SONY yang menawarkan – tanpa biaya – untuk memenuhi keinginan Gubernur Miller.

Kesimpulan Dibalik Reaksi Publik Terhadap Mozart Effect

Dalam kedua aspek ilmiah dan pesona publik, “Mozart Effect” ini tanpa keraguan berdampak signifikan. Satu publikasi di British Journal of Social Psychology memanggil fenomena tersebut sebagai suatu “legenda ilmiah” yang telah menyebar tidak hanya ke berbagai bidang sains, namun juga ke pengetahuan umum orang-orang di luar dunia akademis.[23]Bangerter, Adrian. Heath, Chip. (2010). ‘The Mozart effect: Tracking the evolution of a scientific legend’. British Journal of Social Psychology 43, issue 4, 605-623. DOI: … Continue reading

Untuk menjawab pertanyaan awal kita, ringkasan dari kajian tadi mungkin bisa sebagai berikut:

Bagaimana berlangsungnya penyebaran dari sentimen “Mozart Effect” dalam masyarakat umum?

Paling awal, mulai dari penelitian Rauscher yang menarik perhatian media massa. Kemudian Don Campbell memilih untuk menulis sebuah buku yang cukup sukses demi memperbesar eksposur yang didapatkan mengenai “Mozart Effect” (dan juga demi menarik orang-orang untuk membeli produk-produk “Mozart Effect” dia). Setelah itu, reputasi legenda ini mencapai puncaknya dengan Gubernur Zell B. Miller yang – dengan berhasil – mengajukan rumah sakit untuk memberi CD musik klasikal dengan motif untuk “mengembangkan trilliun-trilliun koneksi otak” para bayi yang mendengarnya.

Referensi

Referensi
1 Rauscher, F. H., Shaw, G. L., & Ky, Katherine N. (1993). Music and spatial task performance. Nature, 365 (6447), 611–611. DOI: 10.1038/365611a0
2 Rauscher, F. H., Shaw, G. L., & Ky, C. N. (1993). Music and spatial task performance. Nature, 365(6447), 611–611. doi:10.1038/365611a0
3 Ross, Alex. (28 Agustus 1994). ‘CLASSICAL VIEW; Listening To Prozac . . . Er, Mozart’, Section 2, Page 23. New York Times. https://www.nytimes.com/1994/08/28/arts/classical-view-listening-to-prozac-er-mozart.html
4 Rauscher, F. Prelude or requiem for the ‘Mozart effect’?. Nature 400, 827–828 (1999). DOI: 10.1038/23614
5 McCutcheon, L. E. (2000). ‘Another Failure to Generalize the Mozart Effect’. Psychological Reports, 87(1), 325–330. DOI: 10.2466/pr0.2000.87.1.325
6 Rauscher, Frances H.; Shaw, Gordon L.; Ky, Katherine N. (1995). Listening to Mozart enhances spatial-temporal reasoning: towards a neurophysiological basis. Neuroscience Letters. 185 (1): 44–47. DOI: 10.1016/0304-3940(94)11221-4. PMID 7731551. S2CID 20299379
7 Statology. What is a Ceiling Effect? (Explanation & Example). statology.org/ceiling-effect/
8 Faculty of Psychology of Binus. Ceiling Effect. psychology.binus.ac.id/kamus-psikologi/kamus-psikologi-c/ceiling-effect/
9 Chabris, C. F. (1999). Prelude or requiem for the “Mozart effect”?. Nature, 400 (6747), 826–827. DOI: 10.1038/23608. PMID 10476958
10 Pietschnig, Jakob; Voracek, Martin; Formann, Anton K. (2010). Mozart effect–Shmozart effect: A meta-analysis. Intelligence. 38 (3):314-323. DOI: 10.1016/j.intell.2010.03.001
11 Dickersin K, Min YI. Publication bias: the problem that won’t go away. Ann N Y Acad Sci. 1993 Dec 31;703:135-46; discussion 146-8. DOI: 10.1111/j.1749-6632.1993.tb26343.x. PMID 8192291
12 Lowe, Derek. (17 Januari 2011). Reboxetine Doesn’t Work. But That’s Not the Real Problem. Science Translational Medicine. blogs.sciencemag.org/pipeline/archives/2011/01/17/reboxetine_doesnt_work_but_thats_not_the_real_problem
13 Simply Psychology. What does effect size tell you?. simplypsychology.org/effect-size.html
14 Akhtar, Hanif. (16 Februari 2020). Signifikansi, Effect Size, Statistical Power, dan Besaran Sampel. Semesta Psikometrika. semestapsikometrika.com/2020/02/signifikansi-effect-size-statistical.html
15 Social Science Statistics. Effect Size Calculators. socscistatistics.com/effectsize/
16 Ross, Alex. (28 Agustus 1994). ‘CLASSICAL VIEW; Listening To Prozac . . . Er, Mozart’, Section 2, Page 23. New York Times. Link: https://www.nytimes.com/1994/08/28/arts/classical-view-listening-to-prozac-er-mozart.html
17 Spiegel, Alix. (28 Juni 2010). ‘Mozart Effect’ Was Just What We Wanted To Hear. National Public Radio. https://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=128104580
18 Campbell, Don. (1997). The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit. HarperCollins, Reprint Edition. (April 25, 2009). ISBN: 978-0060937201
19 mozarteffect.com
20 mozarteffect.com/faq
21 Sack, Kevin. (15 Januari 1998). Georgia’s Governor Seeks Musical Start for Babies. New York Times. nytimes.com/1998/01/15/us/georgia-s-governor-seeks-musical-start-for-babies.html
22 Spigel, Saul. (13 Juli 1998). RE: Georgia’s Provision of Classical Music for Newborns. Office of Legislative Research, OLR Research Report. cga.ct.gov/PS98/rpt%5Colr%5Chtm/98-R-0888.htm
23 Bangerter, Adrian. Heath, Chip. (2010). ‘The Mozart effect: Tracking the evolution of a scientific legend’. British Journal of Social Psychology 43, issue 4, 605-623. DOI: 10.1348/0144666042565353. PMID 15601511

Tinggalkan Balasan