You are currently viewing Fiksi Cepat (Mendeti): Sang Pemburu

Fiksi Cepat (Mendeti): Sang Pemburu

Revisi drastis dari karya seorang teman, Paulus Gaius

Segerombolan mayat di tengah-tengah hutan. Semua mengenakan rompi peluru selayaknya tentara. Semua mati dengan bagian dalam tubuh mereka terbuka. Semua kecuali satu, yang masih hidup sambil menahan ususnya yang keluar dari perutnya selagi mencoba menghentikan darahnya untuk mengalir keluar.

Ia menatap figur didepannya dengan rasa teror yang dirinya tidak pernah rasakan sebelumnya. Seorang manusia yang hampir telanjang, kecuali dengan kulit serigala yang ia kenakan sebagai suatu topi dan jubah.

Sepenuhnya karena figur didepannya adalah,

“Sang Pemburu.” Tentara yang hampir mati itu bilang. “Tolong, a-a-aku ingin ketemu nenekku.”

Lorquinia memandang ratusan mayat yang ada didepannya. Ia melolong seperti serigala dengan keras sampai menciptakan suatu gelombang kejut yang menebangkan sejumlah pohon di tempat tersebut. Kemudian suara lolongannya berubah menjadi raungan singa. Kemudia berubah menjadi berbagai binatang lain.

Setelah 5 menit melakukan itu, ia kemudian menatap tentara yang memanggil namanya. Corak kulitnya sudah pucat, dan matanya sudah tidak responsif. Lorquinia menyentuh dada dari tentara tersebut, dan sebuah cahaya muncul dari jari indexnya. Cahaya tersebut berjalan dari jari Lorquinia sampai masuk ke dalam jantung sang tentara tadi. Dengan seketika, semua luka dan kerusakan yang ada pada tubuh tentara itu menghilang. Tubuhnya segera kembali seperti ia tidak pernah pergi ke hutan ini dari awalnya.

“Siapa nama kamu?” Lorquinia tanya.

Tentara itu terkejut dan termegap-megap. “Ba-bagaimana ini bisa?”

Lorquinia hanya menatap tentara tersebut dengan tatapan yang tajam. Tentara tersebut hanya menelan ludahnya.

“Na-namaku Pagas.” Tentara itu bilang.

“Pagas.” Lorquinia bilang. “Jelaskan mengapa kalian semua memasukki kawasanku.”

“Kita semua hanya mengikuti perintah dari perusahaan.” Pagas bilang. “Para atasan PT. Etegoham menyuruh kita semua untuk menyerbu hutan ini untuk mencari dan menjemput seorang VIP yang tinggal di-“

“Hutan ini adalah wilayah saya. Wilayah buruan saya!” Lorquinia tekankan.

“Maka anda adalah VIP yang para atasan ku sedang cari.” Pagas bilang.

Lorquinia memandang Pagas dengan marah. Ia segera berjalan ke suatu arah yang berkebalikan dari posisi Pagas.

“Pergilah.” Lorquinia bilang. “Bilang atasanmu aku sudah dapat panggilannya dan akan datang.”

Tinggalkan Balasan