You are currently viewing Agama Bersembunyi Dibalik Tirai Toleransi

Agama Bersembunyi Dibalik Tirai Toleransi

Revisi dan repost dari grupkapital.id

Agama bukanlah ras

Di Indonesia, topik agama adalah suatu topik yang bisa dibilang sebagai “sakral”. Yaitu dimana berdasarkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila, topik tersebut ditinggalkan begitu saja menurut kepercayaan masing-masing. Ini dibilang sama halnya seperti ras.

Tidak ada masalahnya jika seseorang dari Papua dan berkulit hitam, atau dari Cina dan bermata sipit, karena Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi kita tetap menerima perbedaan tersebut dan bersatu.

Maka dengan logika yang sama, seharusnya tidak ada masalahnya jika seseorang pemeluk agama Islam dan ingin sholat, atau pemeluk agama Kristen dan ingin beribadah pada hari Minggu. Namun, menurut saya ini merupakan suatu cara berpikir yang keliru.

Karena agama bukanlah suatu atribut sebagaimana ras merupakan atribut yang kita miliki. Semua lahir ke dalam suatu ras, namun tidak ada orang yang lahir ke dalam suatu agama.

Kepercayaan tidak seperti atribut fisik

Bayi secara otomatis entah akan memiliki tidak secara otomatis memeluk agama orang tuanya, ataupun memeluk agama yang benar. Mereka pertama-tama harus diajarkan oleh orang lain agar bisa menerima – sepanjang apapun yang mereka terima – ajaran agama tersebut. Sama seperti tidak ada orang yang lahir ke dalam sosialisme, kapitalisme, ataupun fasisme, karena hal-hal tersebut bukanlah atribut-atribut manusia yang secara alami didapat oleh seseorang ketika mereka dikandung atau dilahirkan.

Hal-hal tersebut merupakan ide. Dan suatu ide, untuk bisa dimiliki oleh siapapun, perlu diajarkan atau dipelajari terlebih dahulu.  

Jika saya bilang bahwa anak saya yang belum bisa berbicara adalah seorang Muslim atau Kristen, seharusnya ini merupakan suatu pernyataan yang tidak dianggap pantas untuk dinyatakan. Ini seperti saya memanggil bahwa anak tersebut seorang Kapitalis atau Komunis. Mengapa tidak pantas untuk dinyatakan?

Hal yang tidak senonoh disini adalah presumsi bahwa anak tersebut – yang belum bisa mengerti kata-kata orang dewasa ataupun mengutarkan kata-kata yang bisa dimengertikan – sudah mempunyai mentalitas yang cukup dewasa dan telah menggunakan mentalitas tersebut untuk mempertimbangkan masalah-masalah seperti sistem ekonomi di contoh kedua, dan ketuhanan di contoh sebelumnya. Poinnya disini adalah – secara praktek – kita tidak mengakui seorang anak berumur satu tahun sebagai mempunyai pengalaman dan kemampuan yang cukup untuk menyetir mobil.

Namun dalam rangka agama, orang-orang sepertinya nyaman melakukan itu. Bagi saya, mereka pada dasarnya bersandiwara bahwa anak-anak yang berumur sekitar dibawah 13 tahun sudah mengeksplorasi keagamaan yang diajari ke mereka.

Isu bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat Ilmiah

Masalah dalam topik ini tidak hanya bersifat filosofis. Bidang filsafat adalah dimana kita mungkin membicarakan apa yang sebenarnya menjadi penyebab semua hal atau apakah kita benar-benar mempunyai kehendak bebas.

Isu lebih besarnya adalah dari pembicaraan-pembicaraan filosofis ini, kemungkinan bisa berakarnya kepercayaan kita menjadi bagaimana kita seharusnya bertindak dalam hidup kita. Dan disinilah dimana bisa ada hal-hal yang membahayakan bukan hanya dalam rangka keselamatan hidup kita, namun juga kemasyarakatan nasional ataupun internasional kita.

Topik agama meranjangkan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Untuk apa kita hidup?”, “Apa kodrat dari alam semesta?”, dan pertanyaan-pertanyaan ini bisa membawa dengannya jawaban-jawaban yang berbahaya jika kita meninggalkannya ke suatu bidang yang, menurut prinsip negara kita, semuanya dianggap benar sesuai kemauan pihak yang menjawab. 

Ketika pertanyaan, “Untuk apa kita hidup?” dijawab oleh seorang Muslim, ia bisa menjawab, “Untuk menyembah Allah.”

Tetapi, jawaban dia dianggap sama-sama benar seperti jawaban orang Kristen yang bisa saja menjawab, “Untuk menyembah Bapak, Anak, dan Roh Kudus.”

Disini, prinsip yang dipegang teguh oleh Indonesia mengatakan, “Kedua jawaban mempunyai kedudukan yang sama” dan karena itu, orang Muslim dibiarkan untuk mempraktekan ajarannya, dan orang Kristen juga mendapat hak yang sama. 

Menurut saya, merupakan suatu kesalahan jika kita menganggap bahwa tidak akan/pernah ada konflik di antara ajaran-ajaran kedua agama tersebut. 

Mungkin ini hal yang cukup jelas karena justru kebalikannya yang terjadi.

Ketika seseorang ingin masuk agama Islam, ia harus mengucapkan apa yang disebut sebagai shahada. Ini adalah suatu pernyataan yang berbunyi, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah… dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul (utusan) Allah.”[1]Yunita, Niken Widya. (4 April 2020). Bacaan Dua Kalimat Syahadat, Arab, Latin, dan Artinya. DetikNews. news.detik.com/berita/d-4964156/bacaan-dua-kalimat-syahadat-arab-latin-dan-artinya

Bagian pertama dari kalimat itu merupakan suatu pengakuan mengenai keadaan alam semesta dari pandangan dunia Islam, dan pada dasarnya bertentangan dengan pandangan dunia Kristen yang bersikeras mengenai kepercayaan pada Sang Bapak, Sang Anak, dan Sang Roh Kudus dalam bentuk satu Trinitas. 

Ketika pertentangan tersebut dibiarkan ada tanpa ada usaha untuk mencoba mencari apa yang benar, hal-hal yang belum tentu menjadi kepentingan kita bisa terjadi. Ini seperti kita menghargai kedua kepercayaan yaitu bumi suatu bola, dan bumi itu suatu dataran. Ketika tidak ada usaha untuk mencari apa yang benar, akan berdampak ke aspek-aspek hidup lain yang berdasar pada kedua kepercayaan tersebut.

Sebagai contoh, ada suatu jembatan yang bernama Verrazano-Narrows Bridge di Amerika yang menghubungi Staten Island dan Brooklyn.

Saat konstruksi jembatan tersebut, kurvatur bumi harus diperhitungkan terlebih dahulu dan ini bisa dilihat dari kedua menara suspensi jembatan tersebut, yang walaupun tetap sama-sama vertikal dan tegak lurus ke air laut, lebih berjauhan 41 mm di bagian atasnya, daripada di bagian bawahnya. 

Although each tower is vertical and perpendicular to the water, they are 41.28 mm (1 5⁄8 in) farther apart at the top than the bottom. This is due to the Earth’s curvature.

Te Awahutu Space Centre[2]Owen, Dave. Do human-made structures account for the Earth’s curvature?. https://www.spacecentre.nz/resources/faq/solar-system/earth/flat/structures.html

Pengetahuan kita akan bentuk bumi adalah produk dari suatu aktivitas yang kita namai sains, suatu usaha dimana kita mencoba untuk mencari apa yang paling dekat dengan kebenaran. Spesifiknya, sains mencoba menggapai tujuan itu dengan merangkai dan menginterpretasi informasi yang ada berdasarkan sistem tertentu (sistematik) yang berdasar pada pengamatan (empiris) dan uji coba (eksperimentatif)[3]KBBI. sains. kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sains[4]Australian Academy of Science. What is science?. science.org.au/curious/people-medicine/what-science.

Ini menurut saya membawa kita kembali ke isu besar sebelumnya. Yakni, ketika suatu kepercayaan dilindungi dari kritisisme. Ketika sekumpulan ide diberi hak istimewa khusus untuk dipeluk. Ketika masyarakat menerima tanpa alasan baik bahwa ada yang dipanggil suatu “agama” dan agama tersebut mengajarkan hal-hal deskriptif tentang alam semesta kita tanpa masyarakat mendorong untuk pemeriksaan yang komprehensif sebagaimana suatu ide normal di dunia sains diperika. Dan lebih bermasalah lagi menurut saya ketika ada banyak sekali agama yang mengajarkan hal-hal deskriptif yang seringkali bertentangan dengan ajaran-ajaran agama lain.

Pertimbangkan skenario berikut.

Jika kita menempatkan kepercayaan bahwa bumi itu datar setingkat dengan kepercayaan bahwa bumi itu bulat, dan bilang, “Kedua-duanya sama-sama benar sesuai kemauan yang menjawab”, maka akan tidak mungkin untuk kita membangun jembatan Verrazano-Narrows tadi karena kita tidak bisa sama sekali memilih untuk merancang dari perspektif bumi itu datar atau bumi itu bulat.

Sama halnya di bidang keagamaan.

Ketika kita bilang, tanpa menginvestigasi terlebih dahulu, bahwa agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu sama-sama benar dalam pernyataan mereka masing-masing mengenai kodrat alam semesta yang kita tinggali, kita akan kesusahan dalam jangka panjang karena kita pada intinya memberikan hak orang-orang untuk mempraktekan dan mempertahankan kepercayaan mereka tanpa melihat terlebih dahulu apakah kepercayaan mereka itu telah terbukti benar atau belum. 

Kita tidak melakukan ini di aspek-aspek lain kehidupan manusia.

Kita tidak membiarkan seseorang yang tidak mempunyai kartu SIM untuk menyetir, kita tidak membiarkan seseorang yang tidak tahu hukum untuk menjadi seorang pengacara, dan tentunya kita tidak bergantung pada seseorang yang tidak tahu bahwa dihidrogen monoxida itu air untuk informasi mengenai bidang kimia.

Masalahnya disini bukanlah orang-orang perlu suatu lisensi atau surat izin untuk mempraktekan agama mereka, namun di bidang-bidang lain, orang-orang perlu mendemonstrasikan kemampuan, pengetahuan, pengalaman, dan pentingnya, ide-ide mereka terlebih dahulu sebelum dianggap serius oleh orang lain.

Kalau begitu, mengapa bidang agama tidak mendapatkan perlakuan yang sama? Mengapa banyak orang diam saja ketika mendengar suatu khotbah mengenai peran tuhan dalam alam semesta atau topik apapun yang tampangnya terlalu abstrak untuk bisa dianggap serius, namun tetap dianggap serius karena itu adalah topik keagamaan

Mengapa banyak orang yang ketika mendengar apapun yang berhubungan dengan agama, langsung menutup bagian diri mereka yang – pada umumnya – kritis dan skeptis karena itu adalah topik keagamaan? 

Ini adalah hal yang sangat penting karena walaupun tidak semua orang peduli dengan klaim-klaim deskriptif yang diberikan oleh suatu agama, akan menjadi masalah yang besar kalau ada orang – terutama segerombolan orang – yang mendasarkan jawaban atas pertanyaan, “Apa yang patut saya lakukan?” pada klaim-klaim faktual tersebut.

Apa yang bisa terjadi saat manusia mendasarkan norma/moral terhadap jawaban “agamawi”

Ambil kasus pengeboman September 11 (atau yang sering disebut sebagai 9/11) yang melihat hampir tiga ribu korban yang meninggal. Dalam buku Richard Dawkins, The God Delusion, ia mengutip suatu artikel yang bernama, An Arsenal of Believers yang diterbitkan oleh Nasra Hassan pada November 12, 2001. Dalam artikel tersebut, Hassan menunjukan seorang pembom yang gagal. Ia dirayakan sebagai salah satu dari pahlawan martir atau yang dinamakan sebagai shaheed batal. Pembom yang dipanggil S. ini ditanya apa daya tarik dari penderitaan martir (martyrdom) dan ia menjawab,

”Kekuatan roh menarik kami ke atas, sementara kekuatan hal-hal materil menarik kami ke bawah,” dia bilang. “Seseorang yang bertekad untuk kesyahidan (martyrdom) menjadi kebal terhadap tarikan materil. Perencana kami mengatakan, ‘Bagaimana jika operasinya gagal?’ Kami menjawab dia, ‘Dalam kasus apapun, kita akan bertemu sang Nabi dan sahabat-sahabatnya, insyallah.’ Kami mengambang, berenang, dengan perasaan bahwa kita akan memasuki kekekalan. Kita tidak memiliki keraguan. Kita bersumpah pada Quran, dalam kehadiran Allah — suatu sumpah untuk tidak bimbang. Sumpah jihad ini dipanggil bayt al ridwan, setelah Taman di Surga yang disimpan untuk para nabi dan martir. Saya mengetahu bahwa ada cara lain untuk berjihad. Tetapi yang ini manis—yang paling manis. Semua operasi kesyahidan, jika dilaksanakan demi Allah, melukai lebih sedikit daripada gigtan suatu agas.”

 Translasi artikel An Arsenal of Believers[5]Hassan, Nasra. (19 November 2001). An arsenal of believers. The New Yorker. https://www.newyorker.com/magazine/2001/11/19/an-arsenal-of-believers

S. pada intinya menjawab pertanyaan, “Apa yang patut saya lakukan?” dengan dia patut bertemu Sang Rasul dan kawan-kawannya di Surga. Dan ia melanjutkan pemikirannya dengan, karena itu, saya patut berjuang untuk Allah (jihad), dan lebih khususnya, melakukan jihad dalam bentuk melaksanakan operasi pemboman. Banyak perdebatan akan motif asli dari pembom-pembom ini dan tidak mengejutkan jika keagamaan mereka bukanlah alasan utama mereka melakukan apa yang mereka lakukan, namun demi rangka argumentasi saja, bayangkan jika kita menetapkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika terhadap kepercayaan tersebut.

Bayangkan saja bahwa kita membuat kepercayaan S. imun terhadap kritisisme, dan menerima legitimasi kepercayaan tersebut untuk ada di Indonesia. Dengan contoh itu, seharusnya jelas bahwa sebuah masalah yang secara teknis berada di ruang lingkup filosofis juga menjadi suatu kepentingan yang lebih dari rangka filsafat saja.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi tidak bisa dijauhkan saja dengan sendaan, “Topik itu tidak penting, serahkan saja ke masing-masing orang untuk mencari kebenarannya masing-masing.”

Selama ada orang-orang yang mendasarkan jawaban mereka terhadap pertanyaan “Apa yang seharusnya saya lakukan?” pada agama, bidang agama menjadi kepentingan kita semua.

Dengan ini, kita tidak bisa bilang bahwa prinsip Bhinneka Tunggal Ika adalah suatu prinsip yang baik kita praktekan dalam rangka ide-ide dan pemikiran yang kita punya. Kita tidak bisa tetap memperlakukan aspek agama dalam kemasyarakatan kita sebagai sesuatu seperti ras, karena agama bukanlah seperti ras.

Agama harus dipelajari, dan kita bisa mengendalikan apa yang kita pelajari. Dan oleh karena itu, agama seharusnya diperlakukan oleh masyarakat tidak sebagai semata-mata suatu identitas, tetapi juga sebagai ide-ide yang bisa kita kritik.

Referensi

Referensi
1 Yunita, Niken Widya. (4 April 2020). Bacaan Dua Kalimat Syahadat, Arab, Latin, dan Artinya. DetikNews. news.detik.com/berita/d-4964156/bacaan-dua-kalimat-syahadat-arab-latin-dan-artinya
2 Owen, Dave. Do human-made structures account for the Earth’s curvature?. https://www.spacecentre.nz/resources/faq/solar-system/earth/flat/structures.html
3 KBBI. sains. kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sains
4 Australian Academy of Science. What is science?. science.org.au/curious/people-medicine/what-science
5 Hassan, Nasra. (19 November 2001). An arsenal of believers. The New Yorker. https://www.newyorker.com/magazine/2001/11/19/an-arsenal-of-believers

Tinggalkan Balasan