You are currently viewing Jawaban Terhadap Kritik Umum Menyangkut Ateisme dan Agnostisisme Saya

Jawaban Terhadap Kritik Umum Menyangkut Ateisme dan Agnostisisme Saya

Daftar Isi

Artikel ini bermaksud untuk memberikan suatu ikhtisar yang pendek, namun komprehensif, menyangkut posisi-posisi saya terhadap berbagai pertanyaan-pertanyaan religi. Untuk membuat pembacaan artikel ini menjadi simpel dan teratur, saya akan mengorganisir posisi-posisi saya menjadi pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke saya – langsung atau tidak langsung. Spesifiknya, saya akan membagi dokumentasi ini menjadi dua bagian.

Bagian pertama akan bersangkutan dengan keberadaan Tuhan dan kebenaran agamawi. Bagian kedua bersangkutan dengan moralitas dan etika.

Bagian Pertama: Keberadaan Tuhan dan Kebenaran Agamawi

Bagian ini akan menjelaskan perspektif yang saya miliki yang berurusan utamanya dengan pertanyaan apakah tuhan itu ada atau tidak. Subtopik-subtopik yang bersangkutan juga akan dibahas.

Apakah Tuhan ada?

Saya tidak percaya bahwa ada bukti-bukti konklusif yang menunjuk kepada keberadaan ataupun ketidakadaan Tuhan.

Saya percaya bahwa bukti empiris (bukti yang bisa kita amati melalui pancaindra) adalah cara utama kita bisa menarik kesimpulan-kesimpulan tentang alam semesta.

Dan bersangkutan dengan Tuhan, sayangnya masih ada kekurangan bukti empiris untuk bisa kita simpulkan bahwa Tuhan itu ada atau tidak.

Mengapa tidak percaya dengan keberadaan Tuhan?

Karena saya secara pribadi belum menemukan bukti yang kuat/cukup yang mendukung keberadaan Tuhan.

Apa yang membuat kamu seorang ateis?

Ada dua cara orang-orang paling sering, sepengetahuan saya, mengartikan istilah ateis atau ateisme.

Ateisme Sebagai Absensi Teisme

Arti pertama cukup simpel. Yakni, ateis adalah seseorang yang bukan seorang teis. Definisi ini cukup jelas karena konsepnya bisa dilihat dari namanya langsung. “A-” dalam ateisme adalah awalan yang secara langsung menyatakan absensi dari istilah apapun yang diawalkan. Teisme adalah kepercayaan apapun yang mencakup satu atau lebih Tuhan/dewa. Sehingga, ateisme adalah absensi dari kepercayaan yang mencakup satu atau lebih Tuhan/dewa.

Contoh paling representatif dari definisi itu menurut saya adalah seorang bayi yang baru saja lahir. Ia sama sekali belum memiliki konsep ketuhanan di kepalanya. Jika kita tanya dia, dia tidak akan mengekspresikan ataupun mengerti apa itu Tuhan. Sehingga, bisa dikatakan bahwa seorang bayi adalah seorang ateis.

Bukan dari fakta bahwa ia memilih untuk menjadi ateis, melainkan karena bayi tersebut tidak memilih sama sekali untuk menjadi teis.

Ateisme Sebagai Penangkalan Teisme

Arti kedua lebih sempit daripada arti pertama. Yaitu bahwa ateisme adalah penolakan dalam bentuk apapun terhadap teisme. Seorang bayi tidak bisa dibilang sebagai seorang ateis dari pengertian ini karena seorang bayi belum bisa dikatakan untuk memilki kapasitas memikirkan tentang topik-topik ini. Seorang bayi tidak bisa membentuk kesimpulan apapun tentang pertanyaan ada atau tidak adanya Tuhan karena seorang bayi tidak bisa menangkal ataupun menerima gagasan apapun tentang Tuhan.

Dalam pengertian kedua tersebut, ateisme memiliki pengertian yang lebih aktif daripada sebelumnya. Dan hanya bisa ada sebagai konsekuensi dari pilihan sadar kita sebagai individu yang memiliki kapasitas untuk mempertimbangkan isu ada atau tidak adanya Tuhan.

Ateisme Saya

Dari kedua itu, manakah pengertian ateisme yang saya pegang?

Yang pertama. Tetapi saya juga nyaman-nyaman saja untuk menggunakan pengertian kedua, sesuai keperluan jika saya ingin menjelaskan diri saya dengan lebih jelas.

Saya seorang ateis karena saya tidak memiliki kepercayaan teistik apapun. Kasusnya adalah saya juga bukan seorang bayi yang tidak memiliki kapasitas untuk menangkal suatu kepercayaan. Teisme saya tidak hanya absen dari diri saya, tetapi saya juga menangkal teisme berdasarkan argumen dan bukti yang sudah pernah ditunjukan ke saya, yang menurut saya belum konklusif untuk menunjukan bahwa Tuhan itu ada.

Bagaimana anda tahu bahwa Tuhan tidak ada?

Saya tidak percaya ataupun tahu jika Tuhan itu ada atau tidak. Ateisme saya berakar tidak dari adanya kepercayaan atau kepengetahuan dalam ketidakberadaan Tuhan. Melainkan, ateisme saya berakar dari tidak adanya kepercayaan atau kepengetahuan dalam keberadaan Tuhan. Perbedaannya umumnya cukup sulit dan ceruk untuk dilihat sebagai seseorang yang awam, tetapi tetap penting untuk dimengerti agar gambaran kita semua jelas ketika membicarakan tentang keberadaan Tuhan.

Kasusnya bukanlah saya bisa mendemonstrasikan ke anda bahwa Tuhan itu tidak ada. Kasusnya adalah bahwa saya belum bisa mendemonstrasikan bahwa Tuhan itu ada. Dan ini menyebabkan saya menjadi seorang ateis.

Ateisme Halus dan Keras

Satu cara lain untuk mengerti perbedaan antara apa yang pernah dipanggil sebagai ateisme halus dan ateisme keras adalah dengan metafora berikut.

Bayangkan suatu hari anda didatangi oleh seorang individu bernama Jon Jo. Dan ia berkata kepada anda, “Bro, gua baru aja ngeliat Presiden Jokowi berkeliaran di samping rumah gua.” Dan di kasus ini, kita ingin mengetahui kebenaran dibalik pernyataan yang baru saja dibuat oleh Jon Jo.

Seorang ateis seperti saya hanya akan bertanya, “Oke, bisa ditunjukin ke saya? Mungkin suatu gambar, video, atau dokumentasi bentuk apapun yang menunjukan bahwa itu kasusnya? Atau mungkin bisa tunjukin aja gak lokasi dimana ia berada sekarnag agar saya bisa ketemu Presiden Jokowi juga?” Dan ini akan terhitung sebagai posisi ateis halus.

Saya tidak mengajukan bahwa anda salah dengan langsung. Saya penasaran jika anda benar atau tidak. Sehingga, saya melihat dulu apa yang anda miliki sebagai bukti atau dukungan untuk menopang pernyataan yang baru saja Jon Jo buat. Masih ada proses pertimbangan yang terjadi jika anda benar atau tidak.

Seorang ateis yang bisa dikatakan sebagai ateis kasar tidak akan bertanya lagi. Malah akan langsung menyatakan, “Itu goblok banget untuk dipercayain. Presiden Jokowi sekarang lagi ada di Istana Negara. Dan gua punya bukti 10 foto, 10 video, dan 10 esai yang menjelaskan bahwa Jokowi sekarang lagi di Istana Negara. Bukan di rumah lu.”

Saya bukanlah seorang ateis kasar. Saya adalah seorang ateis halus. Saya penasaran dengan kebenaran dibalik pertanyaan Tuhan itu ada atau tidak. Saya tidak menyatakan secara langsung bahwa Tuhan itu adalah omong kosong. Yang saya katakan adalah ketika saya bertanya, “Mengapa anda percaya Tuhan itu ada?” ke teis-teis yang saya temui, tidak ada dari mereka yang pernah memberi bukti atau alasan yang cukup atau kuat untuk mendukung kepercayaan teistik mereka masing-masing. Sehingga, dari pengalaman itu, saya mengambil posisi awal saya bahwa Tuhan itu belum konklusif ada.

Anda itu ateis atau agnostik?

Saya seringkali memperkenalkan diri saya sebagai seorang agnostik ateis. Dan seringkali, orang-orang – utamanya yang dari Indonesia – merasa bahwa itu adalah suatu lelucon karena konsepsi agnostisisme di pikiran mereka cukup bertentangan dengan konsepsi ateisme yang mereka miliki.

“Jika seseorang itu agnostik, mereka bukanlah atau tidak bisa menjadi ateis.”

Saya tidak secara intrinsik menentang cara berpikir itu. Isunya adalah, menurut saya, agnostisisme sangat berhubungan dengan ateisme dan bahkan secara langsung mengimplikasikan ateisme.

Saya adalah seorang agnostik ateis. Ini berarti saya tidak percaya bahwa dalam Tuhan manapun (ateis) karena saya tidak percaya bahwa ada atau tidak adanya Tuhan adalah suatu pertanyaan yang tidak bisa kita verifikasi kebenarannya (agnostisisme). Dalam kata lain, ateisme saya berakar utamanya dari agnostisisme saya. Dimana, saya tidak percaya keberadaan Tuhan dikarnakan ketidapercayaan saya menyangkut bisa atau tidak bisanya kita mencari tahu keberadaan Tuhan.

Agnostisisme Saya

Meskipun dengan begitu, saya biasanya hanya agnostik terhadap jenis Tuhan yang supernatural. Tuhan-tuhan seperti Allah, Wisnu, Krisna, Roh Kudus, dan Ahura Mazda termasuk pada jenis Tuhan yang supernatural karena dikatakan bahwa mereka kodratnya berada di bidang eksistensi yang berbeda dari manusia dan binatang. Mereka tidak hidup atau nyata di dunia yang natural. Melainkan mereka ada di bidang eksistensi mereka sendiri yang tidak bisa diakses oleh pancaindra manusia. Namun mereka tetap bisa berintervensi dengan dunia natural/alami yang kita tinggali. Ini menurut saya membawa kita ke suatu isu yang lebih besar daripada Tuhan saja.

Bagaimana caranya kita bisa mengetahui keberadaan dunia supernatural tersebut?

Itu adalah suatu pertanyaan yang saya secara pribadi juga tidak pernah secara konklusif temukan jawabannya. Dan sehingga, mengambil posisi “tidak percaya” juga untuk sementara sampai ada bukti-bukti yang muncul bahwa kita bisa secara reliabel mendemonstrasikan keberadaan dunia supernatural itu. Tanpa ada bukti-bukti reliabel akan keberadaan hal-hal ghaib atau supernatural, maka saya juga menangkal gagasan bahwa ada benda/objek/entitas yang berada di “luar” alam semesta kita atau berada di bidang eksistensi yang berbeda dari kita sekarang.

Apa yang buruk dari mengambil asumsi positif terhadap pertanyaan ada atau tidak adanya dunia supernatural adalah dikarnakan faktanya Tuhan bukanlah satu-satunya topik yang kita pertanyakan ketika mempertimbangkan hal-hal supernatural. Konsep Mickey Mouse faktanya jugalah suatu hal yang supernatural, meskipun dalam kehidupan sehari-hari kita mengasumsi saja bahwa Mickey Mouse merupakan suatu karakter ciptaan Disney.

Isunya adalah jika seseorang tiba-tiba berjalan ke depan kita dan mengatakan,

“Eh, gua baru aja ngeliat Mickey Mouse di samping rumah lu!”

Secara teknis dan praktis, kita memang bisa mengambil asumsi normal saja. Bahwa orang ini berbohong atau berkelainan. Tidak mungkin Mickey Mouse bisa muncul di dunia nyata, apalagi di samping rumah kita.

Tetapi apa yang terjadi jika dia juga tiba-tiba bilang, “Oh, gua cuma ngeliat dia tadi. Dia juga sebenarnya gak bisa dilihat siapa-siapa. Dan hanya keluar kadang-kadang aja dari dunia dia.”

Itu merupakan suatu penjelasan yang sepenuhnya valid, tetapi tetap saja belum/tidak bisa untuk diverifikasi. Sehingga, jika kita sepenuhnya berasumsi bahwa klaim-klaim yang tidak bisa diverifikasi adalah benar, kita juga harus mengakui kebenaran dalam situasi sebelumnya. Dimana, ada orang yang mengklaim ia baru saja melihat Mickey Mouse. Sama juga dengan mereka yang mengklaim melihat Donald Duck. Dan juga mereka yang mengklaim melihat Superman di samping masjid. Kita harus menganggap mereka semua benar jika kita mengasumsikan kebenaran dibalik klaim-klaim yang tak bisa diverifikasi.

Dan itu adalah suatu isu.

Kita tidak bisa mengetahui mereka salah atau benar, jika kita mengasumsi klaim-klaim yang tidak bisa/belum bisa diverifikasi sebagai benar. Kalau begini, apa solusinya?

Kita menangkal klaim mereka terlebih dahulu. Untuk sementara. Sampai ada bukti-bukti (yang idealnya mereka yang mengklaim berikan) yang konklusif.

Jika kita tidak bisa mengetahui Tuhan itu ada atau tidak, mengapa anda mengambil posisi bahwa Tuhan itu tidak ada?

Saya sudah jelaskan sebelumnya bahwa ketidakpercayaan saya terhadap keberadaan Tuhan tidaklah sama dengan suatu kepercayaan terhadap ketidakberadaan Tuhan. Secara teknis dan semantik, memang benar bahwa saya memegang posisi bahwa Tuhan itu tidak ada. Tetapi posisi yang saya pegang sangat jauh berbeda dari saya mengatakan bahwa saya memiliki bukti-bukti demonstratif bahwa Tuhan itu tidak ada.

Saya memiliki posisi ini karena tidak adanya bukti-bukti demonstratif, dan juga karena inkapasitas Tuhan (umumnya) untuk bisa didemonstrasikan. Ini bukanlah suatu posisi yang ada karena pilihan saya atau keinginan saya, melainkan suatu posisi yang ada karena ini adalah posisi default ketika saya belum bisa menyimpulkan kebenaran dibalik suatu topik.

Seseorang bisa mengajukan ke kita sekarang bahwa ada suatu teko teh di luar angkasa (Lihat: Teko Teh Russel). Tetapi, secara default, kita tidak langsung percaya dia hanya karena dia mengatakan itu. Kita – secara default – mempercayai dia hanya ketika ia telah membuktikan atau mendemonstrasikan bahwa pernyataan dia benar. Persis kasusnya dalam ketuhanan. Persis kasusnya seperti klaim-klaim lain yang kita temui di kehidupan sehari-hari kita.

Jika Tuhan itu tidak ada, bagaimana anda menjelaskan X dalam Al-Quran/Alkitab/(buku atau teks suci agama lain)?

Biasanya saya tidak bisa ataupun mau untuk menjelaskan itu. Karena itu juga biasanya tidak relevan.

Ketika suatu buku benar tentang sesuatu, itu sama sekali tidak mengimplikasikan secara langsung bahwa hal-hal lain yang ada dalam buku itu juga benar. Mari saya beri suatu contoh dalam bentuk yang berbeda.

Saya seratus persen berkemampuan untuk menulis suatu artikel tentang penciptaan bola lampu. Dan setelah riset dengan banyak, saya mungkin bisa seratus persen juga benar tentang fakta-fakta ilmiah tentang proses cara kerja suatu bola lampu dan bagaimana pertama kali itu dibuat. Dan tiba-tiba, saya juga bisa mengatakan bahwa sebenarnya bukan Humphry Davy-lah yang menciptakan lampu pijar pertama, meskipun faktanya dialah yang menciptakan lampu pijar pertama kali.

Dalam artikel hipotetis yang saya buat tersebut, seharusnya jelas bahwa satu hal yang benar dalam suatu teks tidak membuktikan kebenaran dalam hal-hal yang ada dalam teks yang sama. Perlu ada informasi lebih banyak untuk kita bisa memverifikasi keberadaan Tuhan melalui teks-teks suci.

Kita harus sangat berhati-hati spesifiknya ketika meneliti suatu buku apapun karena mereka bisa benar tentang suatu topik, tetapi itu saja. Belum tentu mereka benar tentang hal-hal lain. Jangan gabungkan satu klaim dengan klaim-klaim lainnya.

Jika Tuhan itu tidak ada, bagaimana anda menjelaskan keajaiban X yang pernah terjadi?

Mirip seperti jawaban saya ke pertanyaan sebelumnya, saya tidak pernah dan tidak akan mencoba untuk menjelaskannya. Karena itu tidak relevan dengan posisi ataupun pertanyaan saya.

Ketidakmampuan saya atau mungkin para ilmuwan-ilmuwan untuk menjelaskan kejadian tersebut bukanlah suatu bukti bahwa Tuhan itu ada. Jika saya tidak bisa menjelaskan, saya akan tanya yang membawa kejadian tersebut ke percakapan kita untuk menjelaskan kejadian tersebut.

Satu poin penting yang saya harus tekankan disini adalah bahwa penjelasan anda tidak boleh sejenis dengan pernyataan, “Tidak ada penjelasan lain selain Tuhan” karena itu bukanlah suatu penjelasan, tetapi suatu pengelakan. Jika argumen seseorang bahwa Tuhan itu ada adalah karena mereka tidak bisa menjelaskan sesuatu, itu mengimplikasikan dengan berat ke saya bahwa orang tersebut tidak tertarik untuk mendemonstrasikan keberadaan Tuhan dia. Melainkan, ia tertarik hanya untuk menggunakan ketidaktahuan dia menyangkut suatu peristiwa atau kejadian sebagai justifikasi bahwa Tuhan itu ada. Dan ini tidak masuk akal.

Masalah utamanya adalah bagaimana mereka datang ke kesimpulan bahwa Tuhan itu yang menjadi penjelasan dibelakang kejadian tersebut? Dan seseorang yang menggunakan ketidaktahuan dia untuk menjustifikasikan keberadaan Tuhan – dari pengalaman saya – belum pernah berhasil menjawab pertanyaan itu. Ini mengimplikasikan berat juga bahwa mereka tidak menggunakan Tuhan sebagai jawaban karena mereka bisa mendemonstrasikan keberadaan Tuhan, tetapi karena mereka tidak bisa mendemonstrasikannya. Tuhan dalam kasus ini menjadi suatu presuposisi yang tidak berguna, bukan suatu klaim yang bisa didemonstrasikan.

Saya berharap bahwa keberadaan Tuhan tidak didemonstrasikan karena kedunguan manusia, tetapi karena kecerdasan kita untuk mendemonstrasikan keberadaannya dengan konklusif daripada menyerahkan diri kita terhadap kebodohan kita dan menggunakan Tuhan sebagai suatu jawaban yang menangkap semua masalah tanpa alasan yang jelas.

Jika Tuhan tidak ada, mengapa ada hal-hal yang sains masih tidak bisa jelaskan, tetapi Al-Quran/Alkitab/(buku atau teks suci agama lain) bisa jelaskan?

Sains adalah usaha yang teliti dan menyeluruh. Jika melalui sains, kita belum bisa menjelaskan sesuatu, maka teks suci, yang dikatakan bisa menjelaskan hal tersebut, seharusnya juga seteliti dan semenyeluruh daripada sains. Sayangnya, mayoritas teks suci (i.e Al-Quran dan Alkitab) yang pernah – saya secara pribadi ketahui – tidaklah setara dengan artikel-artikel ilmiah yang reguler. Dalam rangka informasi dan penulisan informasi faktual yang dituangi, suatu artikel ilmiah memiliki standar yang jauh lebih tinggi dan teliti daripada Al-Quran dan Alkitab.

Tentu, dalam rangka ajaran-ajaran moral dan/atau keindahan literatur, ini kasus yang berbeda. Tetapi saya hanya ingin fokus kepada informasi-informasi faktual dan ilmiah disini.

Hanya karena suatu teks suci bisa menjelaskan sesuatu, bukan berarti bahwa penjelasan tersebut benar. Kita seharusnya tidak mengasumsikan bahwa apa yang ada di Al-Quran, Alkitab, Zabur, Torah, dan lain-lain sudahlah benar tanpa menginvestigasi klaim-klaim dan bukti-bukti yang mereka beri lebih lanjut.

“Tuhan mengatakan: (surat/ayat/bagian dari teks suci apapun)” bukanlah bukti dalam bentuk apapun untuk memverifikasi fakta-fakta tertentu yang diterakan dalam buku yang sama. Mereka adalah klaim-klaim yang perlu kita verifikasi.

Anda dipersilahkan untuk mengatakan Tuhan itu tidak ada, tetapi saya memiliki keyakinan bahwa ia ada, dan banyak orang lain juga sama. Apa hak anda untuk untuk mengabaikan keyakinan dan kepercayaan pribadi orang-orang?

Saya kurang yakin jika saya harus peduli. Hanya karena kita memegang suatu kepercayaan tertentu, bukan berarti kita benar. Harus ada alasan-alasan yang menopang kepercayaan-kepercayaan kita, dan alasan-alasan tersebut seharusnya selalu bisa dikritik ketika mereka ditempatkan dalam suatu percakapan dengan individu-individu lain. Dengan kritik, idealnya kita bisa memperbaiki pengertian kita terhadap realita.

Tentu, akan ada orang-orang yang tidak tertarik untuk mendiskusikan topik-topik ini. Jika itu kasusnya, anda sepenuhnya dipersilahkan untuk tidak berikutserta dalam percakapan-percakapan ini. Saya tidak memaksa anda untuk membicarakan keberadaan Tuhan. Tidak ada yang memaksa anda untuk melakukan itu.

Bayangkan jika sejumlah penggemar sepak bola sendang mendiskusikan dan menonton suatu permainan sepak bola, dan tiba-tiba saya datang – seorang non-penggemar – dan mengatakan, “Apa hak anda untuk membicarakan dan menikmati sepak bola? Ada banyak orang-orang yang tidak tertarik!”

Solusi untuk para penentang fans sepak bola bukanlah untuk mereka berhenti membicarakan dan menikmati sepak bola. Melainkan, solusinya adalah untuk para penentang untuk diam saja dan berikutserta hal lain yang mereka secara pribadi lebih sukai daripada sepak bola.

Ini mirip seperti topik Tuhan. Solusinya bukanlah untuk saya diam saja. Melainkan, untuk mereka yang tidak nyaman untuk diam saja.

Saya membicarakan karena saya penasaran kebenaran dibalik pertanyaan ada atau tidak adanya Tuhan. Jika anda tidak penasaran, anda tidak harus mengobrol dengan saya.

Bagian Kedua: Moralitas dan Etika

Bagian ini utamanya akan menjelaskan perspektif yang saya miliki tentang berbagai topik yang bersangkutan dengan moralitas dan etika agama. Subtopik-subtopik yang bersangkutan juga akan dibahas.

Apakah Tuhan baik atau jahat?

Menurut saya, ini tergantung dengan Tuhan mana yang kita ingin tunjuk dan juga ajaran-ajaran yang dipromosikan oleh Tuhan tersebut. Sebagai contoh, saya menganggap Ares – Dewa Perang Yunani – adalah suatu dewa yang jahat. Ia adalah suatu personifikasi konsep kekerasan, brutalitas, dan konflik yang – bagi saya – adalah konsep-konsep yang idealnya kita rendahkan sebesar mungkin dalam kehidupan manusia.

Untuk menyatakan apapun sebagai baik atau buruk dalam rangka moralitas manusia, saya selalu mempertimbangkan terlebih dahulu apakah hal tersebut mempromosikan atau mendorong kesehjateraan dan kemakmuran. Jika tidak, maka hal tersebut tidak baik. Jika hal tersebut malah mempromosikan atau mendorong kesengsaraan, maka hal tersebut adalah buruk/jahat. Ini kasusnya karena saya percaya kebahagiaan adalah cara utama, jika bukan satu-satunya cara, kita bisa membedakan kebaikan dari keburukan. Ini faktanya jugalah kerangka paling dasar dari sistem moral saya.

Allah, Yesus Kristus, dan YHWH lebih sulit untuk saya pertimbangkan dikarnakan ada banyaknya interpretasi. Ada juga terlalu banyak variasi-variasi dalam masing-masing interpretasi tersebut. Sehingga, tidak seperti Ares, saya tidak bisa menyimpulkan dengan konklusif jika Allah, Yesus Kristus, dan YHWH itu baik atau tidak. Tentu, Ares juga memiliki banyak interpretasi, tetapi perbedaannya adalah konsensusnya lebih jelas dalam konteks Ares, tidak seperti Allah, Yesus Kristus, dan YHWH.

Apakah agama baik atau buruk untuk masyarakat?

Pencarian google cepat terhadap tentang “bagaimana pendidikan religius berdampak pada kesehjateraan” (spesifiknya, Bahasa Inggrisnya yaitu “how religious education affects wellbeing”) bisa segera menunjukan kita semua data-data yang cukup menarik.

Mayoritas studi yang saya lihat (tidak hanya dari pencarian Google) mendemonstrasikan bahwa ada asosiasi-asosiasi positif antara religiusitas dan kesehjateraan (i.e Jackson dan Bergman, Estrada et al). Itu sudah konklusif. Bahwa ada korelasi antara religiusitas dan kesehjateraan.

Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan karena proses eksaknya masih belum dimengerti dengan baik.

Apakah kita benar-benar bisa mengatribusikan asosiasi positif tersebut dengan ajaran-ajaran agamawi yang diikuti para subjek penelitian? Atau apa mungkin ada faktor-faktor eksternal yang lebih membantu daripada ajaran-ajaran agamawinya?

Mungkin saja kasusnya tanpa agama, akan menjadi lebih positif kesehjateraan subjek-subjek tersebut.

Itu, spesifiknya, saya cukup percaya berlaku jika kita membicarkaan tentang literasi ilmiah yang cukup penting untuk masyarakat bisa menghadapi masalah-masalah besar di masyarakat seperti perubahan iklim dan apalagi suatu pandemi (Lihat: Science Literacy and Why it is Important). Efek religiusitas terhadap literasi ilmiah juga sudah cukup konklusif bahwa religiusitas memiliki asosiasi negatif dengan literasi ilmiah (i.e MhPhetres dan Zukerman, Sherkat). Tetapi tetap saja, ini bukan secara langsung berarti ajaran-ajaran agama tersebut yang bertanggung jawab.

Menurut saya, tetap perlu ada penelitian lebih lanjut untuk kita bisa menyimpulkan apapun tentang baik atau buruknya agama untuk masyarakat.

Faktanya religiusitas, walaupun memiliki dampak negatif terhadap literasi ilmiah, sepertinya di saat yang sama memiliki dampak negatif terhadap alkoholisme dan juga pecanduan rokok (Lihat: Luczak et al, Nunziata dan Toffolutti). Dalam kata lain, penelitian juga sepertinya menunjukan semakin seseorang religius, semakin mungkin juga mereka untuk tidak menjadi seorang alkoholik dan perokok. Mekanisme dibelakang cara kerja ini, walaupun spesifiknya juga belum dimengerti dengan baik, tetap bisa dirasionalisasikan secara intuitif yakni mungkin karena agama pada umumnya mempromosikan sikap anti-menggunakan alkohol dan rokok.

Untuk kita bisa menjawab pertanyaan, “Apakah agama baik atau buruk?”, sepertinya perlu diteliti lebih lanjut tentang mekanisme spesifiknya ketika suatu ajaran agama itu mempengaruhi tingkah laku manusia dan signifikansi dibalik pengaruh tersebut.

Jika sekarang saya dipaksa harus menjawab dengan konklusif, saya hanya bisa mengatakan bahwa – dari pengetahuan saya saja – agama adalah baik dan buruk bagi masyarakat, tergantung dalam aspek yang ditunjuk. Jika kita membicarakan tentang pendidikan ilmiah dan kritis, sepertinya agama memiliki dampak yang buruk. Tetapi jika kita membicarakan mungkin tentang kesehjateraan umum, perilaku alkoholisme, dan pecanduan rokok, agama memiliki dampak yang baik.

Tanpa Tuhan, bagaimana anda hidup dengan moral?

Saya hidup sesuai dengan apa yang membuat saya – dan orang-orang yang saya pedulikan – menjadi paling bahagia. Sebagai patokan moralitas pribadi saya, saya ingin semua orang untuk hidup bahagia dan tidak sengsara. Dari ini, saya mencoba menyesuaikan aksi dan perilaku saya dari hari ke hari untuk memaksimalkan kebahagiaan dan kesehjateraan, selama meminimalisir kesengsaraan.

Jika bukan Tuhan, apa yang anda ikuti?

Tidak ada. Atau setidaknya, tidak ada yang saya ikuti yang mirip seperti mengikuti sesuatu secara religi. Saya tidak menyembah apa dan siapapun. Saya hanya mencoba sekemampuan saya untuk memaksimalkan kebahagiaan dan kesehjateraan, selama meminimalisir kesengsaraan.

Sebagai seorang ateis, bukankah anda berarti nyaman untuk melakukan perbuatan buruk apapun yang anda ingin lakukan (i.e genosida, pembunuhan massa, pemerkosaan)?

TIdak. Saya tetap mengikuti moralitas yang saya miliki di hidup saya. Ada juga hukum, tetapi itu menurut saya idealnya merupakan formalisasi dari moralitas yang saya miliki juga.

Saya tidak ingin membunuh orang lain karena saya tidak ingin melihat orang lain sengsara. Saya tidak ingin memerkosa orang lain karena saya tidak ingin orang lain sengsara. Saya tidak ingin genosida untuk terjadi karena saya tidak ingin melihat orang untuk sengsara. Saya tidak ingin orang lain sengsara karena saya tidak ingin sengsara. Saya ingin bahagia. Ini seharusnya cukup simpel.

Jika Tuhan itu nyata, dan anda akhirnya menemukan bukti konklusif bahwa ia ada, apakah anda tetap akan menangkalnya?

Menangkal keberadaannya? Tidak. Saya akan menerima bukti konklusif tersebut, dan juga menerima bahwa Tuhan itu suatu fakta dunia.

Menangkal ajaran moralnya? Tergantung apa yang diajarkan oleh Tuhan yang nyata tersebut. Jika ia mempromosikan genosida, pemerkosaan, perbudakan, atau hal-hal lain yang mirip, maka tentu saya akan tetap menentang Tuhan dari sisi moral. Jika ia mempromosikan hal-hal yang saya ingin promosikan juga sebagai kode moral, maka saya akan langsung mengikuti dia.

Tinggalkan Balasan