You are currently viewing Cerpen: PR dan Revolver

Cerpen: PR dan Revolver

Catatan Pendek dari Penulis

Ini sebenarnya ditulis demi ujian kuliah saya. Dikatakan bahwa saya tidak boleh mempublikasikan cerita ini dimanapun sebelum saya menyelesaikan ujiannya. Sehingga, karena sudah selesai ujiannya, saya memilih untuk mempublikasikannya.

Semoga yang membaca harinya terhibur.

Dan juga terima kasih kepada empat teman saya yang telah membantu merevisi dan mengkritik cerpen ini.

Opini kalian telah saya pertimbangkan dan dari pertimbangan tersebut, inilah hasil akhirnya.

Tentu, kalian yang baru saja datang kesini dan belum pernah melihat cerita ini sama sekali, saya tekankan juga untuk berkomentar menyangkut kualitas cerpen ini atau aspek lainnya.


Cerita

Aku harus menyelesaikan ini sekarang.

Itulah satu-satunya pemikiranku sekarang.

Bukan karena tugas ini harus dikumpulkan besok, ataupun karena tugas seratus soal – yang dimana aku sekarang kerjakan nomor 56 – adalah tugas matematika.

Aku setuju PR itu penting. Dan aku tahu bahwa menunda tugas Matematika adalah hal yang buruk.

Alasanku sekarang demi menyelesaikan tugas ini lebih penting dari kedua itu. Yaitu, karena hidupku yang sedang dipertaruhkan.

Sebuah suara klik revolver bergema ke seluruh pelosok ruang belajarku, membuatku menyentak ke mejaku. Jantungku berhenti sejenak.

“Untung aja,” Perempuan yang memegang revolver tersebut bilang, “Pelurunya ada di bilik selanjutnya. Kalo enggak, kepala lu udah bolong. Trus, siapa lagi yang bisa ngerjain PR gua?”

“S-sekitar lima puluh soal lagi a-aku akan selesai!” Aku teriak.

“Jangan coba tunda-tunda atau main kaya orang goblok.” Perempuan dibelakangku bilang. “Lanjutin kerjain PRnya.”

Aku kembali duduk, fokus kepada tugas yang sedang kukerjakan. Tubuhku merinding. Mencoba sekuat mungkin untuk tidak membeku dari revolver yang sedang diarahkan dari dan ke belakang kepalaku.

Perempuan yang berdiri dibelakangku datang sekitar sejam lalu. Saat aku selesai mandi.

Niatku awalnya adalah untuk rebahan saja karena besok juga sebenarnya hari libur sekolah.

Jika aku bisa menunjuk kepada salah satu hal yang paling kubenci untuk kulakukan, hal tersebut pastinya adalah sekolah saat aku tidak sekolah.

Tetapi tentu seperti yang bisa dilihat sekarang, rencanaku untuk rebahan telah digantikan dengan rencana untuk tidak mati.

Sebelumnya, perempuan tersebut menendang pintu rumahku ke dalam, dan kemudian ia segera menodong revolver ke kepalaku, memaksaku untuk berjalan ke ruang belajarku.

Setelah melemparkan sekumpulan kertas ke meja belajarku, ia segera memaksaku untuk duduk dan mengerjakan soal-soal yang ada di kertas tersebut.

Aku tidak pernah sangka bahwa sesuatu seperti ini bisa terjadi. Dan sekarang aku hanya peduli untuk bertahan hidup. Jika aku hanya perlu mengerjakan tugas yang ada di kertas-kertas tersebut, maka aku akan melakukannya agar bisa kembali ke kehidupan tentramku.

“Kamu pasti bingung.” Perempuan itu bilang.

Tidak, aku sebenarnya lebih takut daripada bingung, walaupun iya, tetap ada rasa kebingungan juga.

Ada jeda seketika sebelum ia melanjutkan perkataannya.

“Nama gua Elisa.”

Perempuan yang bernama Elisa ini menurunkan revolvernya. Ia berjalan mundur ke kasurku, dan kemudian berbaring seperti dia yang merasa lelah.

Memangnya dia yang mengerjakan tugasnya sambil ditodong revolver? Dasar bajingan.

Elisa mengarahkan revolvernya lagi ke aku.

“Nama lu siapa?” Dia tanya.

Aku menelan ludahku, dan mengusap keringat yang sudah bercucur-cucur dari jidatku.

“N-nama aku-“   

“Hidup gua susah.”

Hah?

 “Setiap kali gua sampai di pagar sekolah,” Elisa lanjut, “Jujur aja, gua selalu ingat bahwa gua harus bertarung.”

Kenapa nanyain namaku jika ingin lanjut ngomong saja?

“Bertarung melawan para pembully, bertarung melawan para guru, dan juga pastinya bertarung melawan tugas-tugas anjing yang lu kerjain sekarang.” Elisa bilang. “Udah nomer berapa, btw?”

“Tujuh puluh ena-“

“Gua pernah dikasih lima tugas di saat yang sama.” Elisa memotong lagi, “Lima tugas ini dari pelajaran matematika dan fisika. Dan gua gak sempet selesai ngerjain. Orang tua marah karena nilai nihil. Akhirnya ngusir gua dari rumah.”

“Aku turut berduka.” Aku bilang.

Elisa menarik kembali revolvernya.

“Makasih.” Elisa bilang.

Apa yang Elisa lakukan adalah hal yang gila. Itu sudah pasti. Tetapi di saat yang sama aku tidak bisa tak simpati dengan situasi yang ia hadapkan. Karena aku sendiri juga merasakan tekanan gila yang ada di sekolahku.

Dalam kasusku, tekanan tersebut tidak bisa tertolong karena memang sekolahku suatu sekolah yang prestigius, dan aku memiliki reputasi yang tinggi sebagai murid yang baik.

Tentu, aku tidak tahu Elisa berasal dari sekolah mana. Mungkin dia dari sekolah prestigius juga.

“Gua langsung sadar setelah itu,” Elisa bilang, “Sekolah itu hanya bullshit dari para guru agar mereka dapat kerjaan. Gak pantas dianggap serius atau penting.”

Aku diam.

“Dan dari itulah, gua bisa menyimpulkan,” Elisa lanjut, “Kalau orang lain bisa ngerjain, kenapa harus gua?”

Ia kemudian ketawa terbahak-bahak selama 5 menit. Semua rambutku naik. Aku hanya bisa fokus pada apa yang aku kerjakan sambil ditemani oleh suara tawaan yang mengerikan.

Selesai Elisa ketawa, ia mengatakan,

“Malam-malam, gua ambil revolver bapak gua dan nyari murid lain yang bisa ngerjain tugas-tugas sekolah gua.” Elisa bilang, “Dan gua ngecek rumah-rumah di daerah ini. Ketemu lu abis nanya orang-orang setempat. Kata para tetangga lu murid paling pinter di sekolah lu.”

Aku sedih melihat seorang murid terdorong sejauh ini. Sampai dirinya merasa bahwa tekanan yang ada di sekolah cukup keras untuk menjustifikasikan apa yang Elisa lakukan sekarang.

Dia mengarahkan revolvernya kembali ke arahku. Elisa bangun dari kasur dan mulai mendekatiku.

 “Sudah nomor berapa?” Elisa tanya selagi senyum kecil.

Ia menekankan revolvernya ke belakang kepalaku.

“S-satu nomor lagi sebelum selesai.” Aku jawab.

Aku fokus lagi dengan soalnya. Tinggal menghitung sin dari sudut ini dan seharusnya selesai.

“Oke, selesai.” Aku bilang setelah menemukan sin-nya.

Elisa mengambil kertas-kertas jawabanku dan melihatnya dengan cepat. Ia tersenyum lebar. Melihatnya, aku juga ikut senyum kecil.

Akhirnya aku bebas. Akhirnya aku bisa tetap hidup tentram.

Ada suara letusan keras. Dan kemudian rasa sakit muncul di perutku.

“AHHHHHH!” Aku teriak sekencang mungkin.

Dari kursiku, aku jatuh ke lantai. Tidak bisa bangun. Sensasi yang kurasakan melampaui semua hal lain yang pernah kurasakan dalam hidup.

“A-aku sudah menyelesaikan PR-nya…” Aku bilang ke Elisa.

Asap dari revolvernya masih bisa terlihat.

Elisa menatapku dengan mata yang dingin. Seperti mengatakan bahwa ia acuh tak acuh dengan kondisiku sekarang. Tetapi mulutnya – di saat yang sama – memiliki senyum yang sadis.

“Sekarang lu bakal ngerti.” Ia bilang.

Elisa berjalan keluar dari ruangan belajarku.

Aku masih tidak mengerti.

Mengapa aku tetap ditembak?

Aku sudah mengerjakan PRnya.

Aku sudah mencoba sekeras mungkin.

Aku bahkan cukup teliti.

Tetapi tetap saja. Usahaku sia-sia. Dan sekarang, sepertinya aku akan mati saja.

Tinggalkan Balasan