You are currently viewing Cerpen: Pilihan Yang Baik

Cerpen: Pilihan Yang Baik

Pilihanku akan menentukan takdirku di masa depan.

Itu merupakan suatu fakta hidup yang sudah selalu aku terima sampai sekarang. Tetapi, alasannya mengapa itu benar susah dimengerti.

Setiap momen, setiap menit, dan bahkan setiap detik kita hidup, kita memiliki apa yang namanya pilihan. Ini bukanlah suatu konsep yang sulit untuk dimengerti secara intuitif bagi siapapun. Bagi para presiden, politikus, dan jendral, mungkin pilihan-pilihan mereka lebih berpengaruh ke kehidupan orang-orang lain dibanding dengan pilihan-pilihan yang dimiliki bagi para pengemis. Tetapi esensinya tetap sama.

Suatu pilihan tetap akan mempengaruhi sesuatu, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka.

Aku pernah ingat di sekolah dimana pilihanku membawa suatu hasil yang tidak kuinginkan.

Karena aku tidak mempertimbangkan dengan baik pilihan-pilihan yang ada.

Adegannya terjadi di siang hari. Sedikit lagi padahal mau pulang. Gurunya juga sudah bosan mengajar, seperti anak-anaknya yang tentu sudah bosan diajar.

Aku adalah anak murid SD yang bertipe relatif rajin dibanding dengan teman-temanku. Saat itu, aku sampai di nomor 56 pekerjaan rumah matematika-ku. Niatnya aku ingin menyelesaikannya di sekolah sebelum pulang agar aku tidak harus menyelesaikannya lagi di rumah. Tetapi, dalam proses mengerjakannya, seorang teman melempar suatu bongkahan kertas.

Aku tidak tahu benda apa isinya, tetapi bongkahan kertas tersebut entah bagaimana berhasil mendorongku sampai jatuh dari kursiku. Semua temanku ketawa, kecuali satu orang, sahabat terbaiku. Salah satu dari mereka yang ketawa berteriak keras,

“Ben yang ngelempar!”

Ia melihat keadaanku dengan tampak kaget. Ia langsung lari untuk menolongku sambil mencoba untuk menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk melukai aku. Disinilah pilihanku muncul.

Apakah aku menerima pertolongannya dan melupakan perbuatannya saja?

Atau aku balas dendam dan membuat sahabatku agar tidak melupakan momen ini seumur hidupnya?

Aku memilih yang kedua. Menampar dia, menonjok dia, mencakar dia, dan memukul dia dengan bongkahan kertas yang berisi apapun itu yang bisa membuatku jatuh dari kursinya. Teman-temanku tambah ketawa melihat hal ini terjadi. Guru melotot ke arahku, tetapi membeku di tempatnya karena kaget melihat responku.

Setelah membalaskan dendamku, sahabatku tidak bergerak. Aku kira dia hanya berpura-pura agar aku berhenti memukul dia. Dia ternyata benar-benar pingsan setelah aku memukulnya dengan bongkahan kertas tersebut.

Aku membongkar bongkahan tersebut, dan yang aku temukan adalah sekumpulan batu kerikil. Guru kelasku keluar dari keadaan bekunya, dan menendangku sampai pingsan. Aku masih bisa mendengar tawa teman-teman kelasku lainnya yang melihat kejadian itu.

Setelah kejadian tersebut, aku berkontemplasi. Orang tuaku dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Aku dibilang untuk tidak melakukannya lagi, dan orang tuaku hanya tertawa kecil saja selagi memberi Kepala Sekolah-ku amplop. Mungkin hadiah orang tuaku menyelamatkanku dari nasibku yang lebih parah. Pilihan baik mereka menyelamatkanku.

Aku sadar setelah suatu momen refleksi diri yang amat sangat mendalam bahwa aku memilih pilihan yang buruk.

Aku sadar bahwa aku seharusnya juga menampar, menonjok, mencakar, dan memukul guru kelasku. Dan teman-temanku juga. Dan Kepala Sekolahku juga. Dan orang tuaku juga.

Jika mereka semua pingsan, aku tidak akan bisa mendapatkan konsekuensi yang buruk, tentunya.

Kembali ke pilihanku sekarang, satu pelajaran inti yang aku dapatkan dari pengalamanku sebelumnya adalah untuk mempertimbangkan segala faktor yang ada secara menyeluruh tanpa eksepsi.

Kalau aku pikir-pikir, grafit merupakan suatu elemen yang bisa aku hapus dengan penghapus, benar. Tetapi bagaimana dengan saat-saat ketika aku sudah menghapusnya berkali-kali? Akan ada bekas-bekas tulisan yang tidak akan bisa aku hilangkan seberapa kerasnya aku coba hapus. Plus, jika aku hapus terlalu keras, bisa merobek kertasnya. Aku tidak suka jika ada bekas-bekas tulisan yang jelek, atau jika ada resiko untuk kertasnya robek.

Itu adalah takdir yang jelek.

Dan aku sudah mengetahui bahwa takdir yang jelek – secara logis – adalah suatu masa depan yang jelek juga. Jika setiap momen, detik, dan menit itu penting bagi masa depan aku, maka aku harus membuat pilihan yang membawaku ke takdir yang baik, dan sehingga, masa depan yang baik juga.

***

“Dan, oleh karena itu, aku memilih untuk menggunakan pulpen daripada pensil.” Aku bilang ke kasir dengan senyum besar.

“Um…” Ia bilang. “Baiklah. Kita hanya punya Joyko dan Snowman. Mau yang mana?”

“Aku pikir dulu.” Aku bilang.

“Hah?” Kasir itu heran. “Maaf dek, saya masih punya pelanggan lain untuk-”

“Pilihanku akan menentukan takdirku di masa depan.” Aku bergumam.

Tinggalkan Balasan