You are currently viewing Takdir Tanaman Taoge

Takdir Tanaman Taoge

Artikel ini memiliki konsep yang mirip seperti artikel non-fiksi sebelumnya yang saya tulis, Kodok Makan Kentang, dimana saya membahas tentang apa yang akan terjadi jika suatu kodok memakan kentang. Kali ini, Rasa penasaran saya membawa saya untuk mencoba menerkam masalah yang lebih filosofis yakni:

Apa sebenarnya takdir sebuah tanaman taoge?

Saat saya pertama kali direkomendasikan topik ini, saya langsung merasa cukup aneh. Bukan karena topiknya sendiri (yang memang cukup aneh untuk ditanya), tetapi karena suatu asumsi jelas yang ada pada pertanyaan tersebut. Asumsi ini adalah bahwa sebuah tanaman tauge memiliki suatu takdir. Dan dalam asumsi ini, ada suatu konsep yang sepertinya memiliki kodrat yang cair (fluid). Dalam maksud, menurut saya, tidak ada pengertian definitif dari apa itu sebenarnya konsep takdir.

Sehingga, di artikel ini, saya tidak akan hanya mencoba menjawab tesis sebelumnya. Tetapi juga memberi suatu kajian pendek menyangkut berbagai konsepsi dari takdir. Kajian ini akan didasarkan pada berbagai pandangan, asumsi, dan ideologi. Tentu, kajian ini juga tidak bermaksud sebagai suatu pengkajian yang komprehensif dalam subjek takdir.

Setelah memberi kajiannya, saya akan menjelaskan perspektif saya sendiri terhadap isu ini, dan kemudian menggunakan perspektif tersebut untuk kembali menjawab tesis utama artikel ini, yakni apa sebenarnya takdir sebuah tanaman taoge?

Tipe-Tipe Takdir

Untuk menjawab apakah takdir dari apapun, kita pertama-tama harus menyimpulkan dulu bahwa tanaman toge itu memang memiliki suatu takdir. Dan dikarnakan bahwa takdir itu suatu konsep yang tidak secara konsisten memiliki nuansa yang sama bagi setiap orang, kita berarti harus menelusuri dulu bentuk-bentuk takdir yang ada dalam sejarah pemikiran manusia.

Umumnya, takdir adalah suatu ide bahwa ada semacam kejadian/kondisi yang – entah bagaimanapun dan oleh pihak manapun – sudah ditentukan terjadi di masa yang akan datang. Sebagai suatu demonstrasi dari konsepsi umum takdir ini, ketika seseorang kecelakaan dan meninggal, keluarganya bisa saja menggunakan gagasan umur takdir untuk mengatakan bahwa kematian dari orang tadi sebenarnya sudah ditakdirkan.

Takdir Berdasarkan Agama

Dalam konteks yang lebih spesifik, kita bisa menemukan bahwa agama banyak mendorong atau melopori konsep dari takdir berdasarkan ketuhanan dimana ada suatu figur Tuhan yang utamanya menetapkan takdir seseorang atau sesuatu. Berikut adalah tiga konsepsi takdir berdasarkan agama-agama yang cukup besar. Yaitu, Islam Sunni, Kristen Katolik, dan Hindu.

Islam Sunni

Dalam Islam Sunni, Qada (قَضَى) mewakilkan konsep takdir dimana Allah dikatakan telah “menetapkan” semua kejadian yang akan terjadi.[1]Ahmad, Abdul W. (24 September 2018). Mengurai Takdir dari Tiga Perspektif: Allah, Malaikat, dan Manusia. NU Online. Link: … Continue reading Meskipun dengan begitu, penetapan ini dibilang tidaklah secara langsung menjadi sebab dari mengapa kejadian-kejadian tersebut terjadi, melainkan hanya suatu indikasi bahwa Allah memiliki pengetahuan-pengetahuan menyangkut apa yang akan terjadi.

Konsep Takdir dalam Islam Sunni juga didistingsikan menjadi dua dimana ada yang namanya Takdir Mubram dan ada yang namanya Takdir Muallaq.[2]Berita Hari Ini. (26 April 2021). Pengertian Takdir Mubram dan Contohnya dalam Ajaran Islam. Link: … Continue reading Jenis Takdir yang pertama disebutkan adalah takdir yang sudah kekal, tidak bisa diubah oleh apapun karena Allah sudah “menetapkannya” dari dulu. Sementara, jenis Takdir yang kedua merupakan takdir yang dikatakan masih bisa diubah dengan kehendak manusia, meskipun Allah memang secara teknis sudah mengetahui hasil akhir semua hal yang ada di alam semesta.

Kristen Katolik

Dalam Kristen Katolik, Doktrin Predestinasi bahwa Tuhan menetapkan suatu rencana besar (grand plan) untuk semua yang ada di alam semesta. Dalam konteks rencana besar tersebut, manusia memiliki peran untuk menerima atau menolak rencana tersebut sesuai dengan kehendak diri masing-masing yang bebas dari intervensi Tuhan.[3]Catechism of the Catholic Church. Christ’s Redemptive Death in God’s Plan of Salvation. Link: https://www.vatican.va/archive/ENG0015/__P1O.HTM

Santo Agustinus merupakan pemikir signifikan yang cukup bertanggung jawab atas bentuk doktrin tersebut dalam pengajaran Kristen Katolik. Dia menulis pada tahun 426/427 Masehi bahwa Kehendak Bebas manusia merupakan alasan esensial mengapa pedoman-pedoman dari Tuhan memiliki makna.[4]Agustinus dari Hippo. (426 atau 427 M). On Grace and Free Will. New Advent. Link: https://www.newadvent.org/fathers/1510.htm Pemikirannya adalah dengan adanya kehendak bebas untuk memilih, manusia diuji untuk memilih pilihan yang baik berdasarkan pedoman Tuhan. Dan dengan memilih untuk mengikuti pedoman yang diberi oleh Tuhan , manusia akan mendapatkan hadiah-hadiah yang dijanjikan oleh Tuhan sendiri.

Hindu

Dalam Hindu, takdir sepertinya dianggap sebagai suatu konsep yang tidak pasti.[5]Queensborough Community College. Hinduism. Link: https://www.qcc.cuny.edu/socialsciences/ppecorino/phil_of_religion_text/chapter_2_religions/hinduism.htm Semua orang memiliki kemampuan untuk mengatur takdir mereka sendiri melalui aksi-aksi masing-masing. Dan karma merupakan suatu konsep yang mewakilkan aksi-aksi diri sendiri. Jika kita memilih pilihan-pilihan yang moral, kita akan mendapatkan karma yang baik. Dan jika kita memilih pilihan-pilihan yang imoral, kita akan mendapatkan karma yang buruk. Mereka yang mendapatkan karma yang buruk akan terhukum secara alami. Hukuman tersebut pasti datang entah di inkarnasi mereka sekarang, atau dalam inkarnasi mereka selanjutnya.

Samsara sebagai siklus reinkarnasi adalah suatu konsep yang sudah pasti dalam ajaran Hindu.[6]BBC. The nature of human life in Hinduism. Link: https://www.bbc.co.uk/bitesize/guides/zmgny4j/revision/ Dikatakan bahwa orang-orang pasti akan mati dan mengalami samsara ke inkarnasi hidup selanjutnya dimana mereka akan menjadi subjek proses karma lagi. Samsara akan terjadi berulang-ulang sampai seseorang telah “mengumpulkan” karma yang cukup banyak dan tercapailah kondisi yang bernama Moksha. Kondisi ini adalah dimana seseorang mencapai tujuan Hinduisme. Yakni, untuk bebas dari kesengsaraan. Ketika seseorang bebas, dibilang bahwa jiwa (Atman) mereka akan bergabung dengan Brahman, suatu keberadaan universal dan kekal yang berperan sebagai sebab dari segala hal yang ada di alam semesta.[7]Universitas Krisnadwipayana. Brahman. https://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Brahman_22353_unkris_p2k-unkris.html

Takdir Berdasarkan Filsafat

Takdir tidak hanya dibicarakan dalam rangka agamawi/religius. Tetapi juga dibahas dalam domain yang, meskipun non-religius, cukup filosofis karena memang konsepnya sendiri merupakan suatu konsep yang jatuh dalam bidang metafisika. Berikut adalah tiga konsepsi takdir berdasarkan pemikiran-pemikiran yang cukup dikenal dalam bidang filsafat. Yaitu, Aristotelianisme, Stoisisme, dan Eksistensialisme.

Aristotelianisme

Pandangan Aristotelian terhadap takdir muncul dalam karya Aristoteles dengan nama De Interpretatione. Aristoteles menulis tentang suatu konsep yang sekarang dipanggil sebagai masalah kontingen masa depan (problem of future contingents).

Mari saya ilustrasikan. Suatu pertempuran-laut entah harus berlangsung besok atau tidak, tapi tidak perlu bahwa itu harus berlangsung besok, ataupun perlu bahwa itu harus tidak berlangsung besok, meski tetap perlu bahwa itu entah harus atau tidak harus berlangsung besok. Sejak proposisi-proposisi berkorespondensi dengan fakta-fakta, cukup jelas bahwa ketika di masa depan ada suatu alternatif asli, dan suatu potensialitas di arah-arah yang berkebalikan, afirmasi dan penangkalan yang berkorespodensi akan memiliki sifat yang sama.

Translasi Bahasa Indonesia dari De Interpretatione, Bagian 9[8]Aristotle. On Interpretation. Link: https://web.archive.org/web/20190805111102/https://ebooks.adelaide.edu.au/a/aristotle/interpretation/

Masalah Kontingen Masa Depan muncul pada konsep keadaan yang mungkin terjadi di masa depan. Aristoteles menggunakan suatu skenario pertempuran laut untuk mengilustrasikan masalah ini. Tetapi simpelnya, jika kita mengasumsi bahwa X akan terjadi di masa depan, maka kita bisa menyimpulkan bahwa X perlu untuk terjadi di masa depan. Jika X perlu untuk terjadi di masa depan, maka tidak ada agen yang bisa memberhentikan X untuk tidak terjadi. Argumen dari rasionil ini adalah bahwa jika memang kasusnya sesuatu itu entah benar atau salah, maka manusia tidak ada gunanya untuk mencoba apapun untuk merubah hasilnya. Ini karena pada akhirnya, hasil dari situasi manapun sudah – entah – akan terjadi atau tidak akan terjadi. Aristoteles sendiri mencoba menyelesaikan masalah ini dengan menulis bahwa kita tidak bisa tahu dengan pasti sekarang jika X itu akan terjadi atau tidak. Yang kita hanya bisa bilang dengan pasti adalah tidak mungkin bahwa X itu akan terjadi dan tidak akan terjadi di saat yang sama. Sehingga, Aristoteles menyimpulkan bahwa suatu logika yang diterapkan ke yang nyata tidak berguna untuk diterapkan ke yang masih berpotensial.

Salah satu dari dua proposisi di instansi seperti itu harus benar dan yang lainnya salah, tapi kita tidak bisa katakan dengan pasti bahwa ini atau itu salah, tapi harus meninggalkan alternatifnya tidak tertentu. Salah satu memang bisa menjadi lebih mungkin untuk benar daripada yang lain, tetapi itu tidak bisa entah nyatanya benar atau nyatanya salah. Sehingga, cukup jelas bahwa perlu ada suatu afirmasi dan penangkalan, satu harus benar dan yang lain salah. Karena untuk kasus dimana ada potensi, tetapi bukan nyata, kaidah yang diterapkan ke sesuatu yang ada dengan nyata tidak bertahan dengan baik.

Translasi Bahasa Indonesia dari De Interpretatione, Bagian 9[9]Aristotle. On Interpretation. Link: https://web.archive.org/web/20190805111102/https://ebooks.adelaide.edu.au/a/aristotle/interpretation/

Takdir, bagi seorang Aristotelian, maka bisa dibilang merupakan suatu konsep yang ada dalam bentuk yang belum pasti. Gagasan ini diperkuat dalam karya Aristoteles yang lebih populer, yakni Etika Nikomakea (Nichomachean Ethics). Dalam buku itu, Aristoteles memberi pandangannya menyangkut bagaimana seharusnya manusia menjalankan hidupnya sebaiknya mungkin, suatu tema yang sama seperti yang ada di dalam Metafisika (Metaphysics) oleh Plato. Dalam Etika Nikomakea, Aristoteles menulis bahwa kebajikan manusia berdasar pada pilihan yang dibuat dengan sadar.

Sekarang sesuatu seperti kebahagiaan, di atas segalanya, menjadi suatu pegangan; Karena ini kita pilih selalu untuk diri sendiri dan tidak pernah demi sesuatu lain, tapi kehormatan, kenikmatan, akal, dan setiap kebajikan yang kita pilih memang untuk mereka sendiri (karena jika tidak ada yang berhasil dari mereka kita tetap harusnya memilih setiap mereka), tapi kita pilih mereka juga demi kebahagiaan, menilai bahwa melalui mereka kita akan bahagia. Kebahagiaan, antara lain, tidak ada yang memilih demi mereka ataupun, pada umumnya, demi apapun selain dirinya sendiri.

Translasi Bahasa Indonesia dari Nichomachean Ethics, Book 1[10]Aristotle. Book 1, Nichomachean Ethics. Link: https://historyofeconomicthought.mcmaster.ca/aristotle/Ethics.pdf

Itu menyarankan bahwa Aristoteles sendiri memikirkan takdir sebagai sesuatu yang tidak hanya tidak pasti, tapi juga sebagai suatu konsep yang tidak bisa diaplikasikan dalam rangka moralitas. Manusia sepertinya dianggap sebagai – setidaknya – suatu mahluk yang memiliki agen bebas untuk memilih aksi diri mereka sendiri. Sebagai ekstensi dari logika itu, Aristoteles berarti juga menerima bahwa di alam semesta, ada keberadaan mahluk yang memiliki agensi untuk memilih aksi diri.

Stoisisme

Stoisisme membagi domain ilmu filsafat menjadi tiga; Logika, Fisika, dan Etika.[11]Pigliucci, Massimmo. Internet Encylopedia of Philosophy. Link: https://iep.utm.edu/stoicism/ Yang pertama berurusan dengan cara manusia menganalisa proposisi, berbeda dengan analisis yang dilaksanakan oleh Aristoteles dimana fokusnya adalah pada menganalisa istilah yang ada pada suatu argumen. Konsep takdir dalam Stoisisme disajikan dalam bidang yang kedua dan ketiga, Fisika dan Etika. Dan suatu kajian yang cukup representatif bisa dicapai dengan mengerti bentuk takdir dari sudut masing-masing, dan mencari persamaan dan perbedaan yang ada dalam konsepsi takdir yang tersaji.

Mulai dengan Fisika Stoik, Logos merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan dari Stoisisme itu sendiri. Untuk mengerti peran yang dimiliki konsep Logos dalam konsepsi Fisika Stoik, harus dimulai dengan mengerti pemisahan yang dilakukan oleh Stoisisme dalam rangka alam semesta. Zeno dari Citium, seseorang yang diakui sebagai pelopor pertama dari Stoisisme, dilaporkan percaya dalam adanya dua prinsip yang berjalan dalam Alam Semesta – yang dengan sendirinya ia identifikasikan sebagai sosok Tuhan.[12]Inwood, Brad, et al. (Juli 2003). The Cambridge Companion to the Stoics. Cambridge University Press, Halaman: 129. ISBN: 9780521779852 Ada juga suatu api ilahi yang merupakan suatu esensi yang mendasari segala aktivitas yang ada dalam alam semesta.[13]Cicero. De Natura Deorum. Link: https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Roman/Texts/Cicero/de_Natura_Deorum/2A*.html

Itu adalah suatu Hukum Alam bahwa semua hal yang bisa dipelihara dan tumbuh mengandung dalamnya suatu sumber panas, dimana tanpanya pemeliharaan dan pertumbuhan mereka tidak akan mungkin; karena semua yang berkodrat panas dan membara, memasoki dirinya dengan suatu sumber pergerakan dan aktivitas; tetapi itu yang berkembang dan tumbuh memiliki suatu mosi yang pasti dan beragam; Dan selama mosi ini berada dengan kita, selama sensasi dan hidup ada, dimana segitu cepatnya panas kita didinginkan dan dipadamkan diri kita tewas dan dan mati.

Translasi Bahasa Indonesia dari Cicero, De Natura Deorum[14]Cicero. De Natura Deorum. Link: https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Roman/Texts/Cicero/de_Natura_Deorum/2A*.html

Dua prinsip yang dipercayai oleh Zeno terdiri dari Prinsip Aktif dan Prinsip Pasif. Prinsip pertama bermanifestasi dengan memberi suatu “arahan” yang rasional dan kreatif dalam alam semesta. Sementara, Prinsip Pasif memberi bentuk materiil yang ada dalam Alam Semesta. Menurut Zeno, sesuai laporan yang ada, kedua prinsip tersebut memiliki bentuk jasmani mereka masing-masing. Prinsip Aktif tadi-lah yang dipanggil sebagai Logos, suatu aturan dan akal yang menyelimuti dan menghidupkan alam semesta.

Takdir dalam Fisika Stoik bisa dimaknakan – seperti Takdir Aristotelian – sebagai suatu konsep yang bukan ditetapkan oleh suatu keberadaan supernatural. Tetapi, suatu konsep yang ada sebagai konsekuensi langsung dari bagaimana dunia itu sendiri bekerja. Dimana dalam pemikiran Aristoteles takdir itu adalah sesuatu yang tidak pasti, Zeno menetapkan bahwa alam semesta itu bekerja dengan adanya aturan-aturan rasional yang sudah pasti interaksinya. Ia juga menyatakan bahwa alam semesta selalu menjalankan apa yang benar, dan tidak akan menjalankan apa yang bertentangan dengan kebenaran tersebut.[15]Cicero. De Natura Deorum. Link: https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Roman/Texts/Cicero/de_Natura_Deorum/2A*.html

…tidak ada keberadaan yang lebih sempurna daripada dunia ini, dan tidak ada yang lebih baik daripada kebajikan; sehingga keajikan adalah suatu atribut esensial dari dunia ini.

Translasi Bahasa Indonesia dari Cicero, De Natura Deorum[16]Cicero. De Natura Deorum. Link: https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Roman/Texts/Cicero/de_Natura_Deorum/2A*.html

Meskipun dengan kepastian tersebut yang ada dalam takdir, Etika Stoik menekankan suatu konsep yang cukup mirip dengan Aristoteles dalam rangka tipe Etika yang seharusnya dipraktekan oleh manusia. Konsepsi takdir alam semesta yang deterministik dan rasional dalam Fisika Stoik mendasari konsepsi etika dan moralitas yang ada dalam Stoisisme. Dikarnakan alam semesta merupakan – secara keseluruhan, termasuk apa yang ada dalamnya – sesuatu yang sudah pasti, kita para manusia seharusnya fokus dengan apa yang bisa kita kendalikan untuk mencapai suatu keadaan apatheia, dimana seseorang tidak akan terganggu oleh emosi-emosi yang mengganggu.[17]Pigliucci, Massimmo. Internet Encylopedia of Philosophy. Link: https://iep.utm.edu/stoicism/

Dengan pemikiran ini, Stoisisme mengakui kodrat dari alam semesta sebagai deterministik, tetapi juga di saat yang sama, menekankan tanggung jawab pribadi untuk fokus ke apa yang bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Ini mengimplikasikan bahwa takdir dalam Stoisisme, meskipun sesuatu yang sudah pasti, tetap merupakan sesuatu yang – dalam rangka diri sendiri – bisa dikendalikan lewat pilihan-pilihan yang selaras dengan logika yang ada dalam Alam Semesta.

Eksistensialisme

Tidak seperti Aristotelianisme atau Stoisisme, Eksistensialisme tidak memiliki sekumpulan ide esensial selain suatu gagasan yang menyelimuti segala pemikiran-pemikiran Eksistensialis, yakni bahwa manusia mendahului makna atau esensi apapun dan hanya manusia-lah yang bisa memberi dirinya suatu makna atau esensi.[18]Stanford Encylopedia of Philosophy. Existensialism. Link: https://plato.stanford.edu/entries/existentialism/ Ekspresi terpopuler dari ide sentral Eksistensialis tersebut ada dalam bentuk yang dipelopori oleh Jean-Paul Sartre, seorang filsuf besar Francis dalam pergerakan Eksistensialisme. Bentuk yang diekspresikannya tersebut adalah eksistensi mendahului esensi.

Apa yang kami maksud dengan mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi? Kami bermaksud bahwa pertama manusia ada, menemukan dirinya, melonjak di dunia — dan mendefinisikan dirinya setelah itu. Jika manusia sebagai sang Eksistensialis melihat dia sebagai tidak bisa diidentifikasikan, itu karena ia bukan apa-apa dari awalnya. Dia tidak akan menjadi apapun sampai nanti, dan setelah itu, dia akan menjadi apa yang ia buat sebagai dirinya sendiri. Maka, tidak ada Kodrat Manusia, karena tidak ada Tuhan untuk mengonsepsikannya. Manusia hanya ada.

Translasi Bahasa Indonesia dari Jean-Paul Sartre, Existensialism is a Humanism[19]Sartre, Jean-Paul. Existensialism is a Humanism. Link: https://warwick.ac.uk/fac/cross_fac/complexity/people/students/dtc/students2011/maitland/philosophy/sartre-eih.pdf)))

Takdir, sebagai suatu hal yang sudah dipastikan, secara langsung melanggar Eksistensialisme. Sehingga, bisa disimpulkan dengan relatif simpel bahwa disini para Eksistensialis – setidaknya – secara definisinya tidak akan mendorong suatu bentuk takdir yang dimana itu menjadi suatu esensi yang mendahului makna yang kita beri kepada diri kita sendiri. Friedrich Nietzsche – salah seorang filsuf Jerman Eksistensialis yang paling terkenal di seluruh dunia – menekankan bahwa manusia sebenarnya cukup mirip dengan binatang.[20]Academy of Ideas. (20 Desember 2018). Nietzsche and The Human Animal: The Domesticated and The Strong. Link: https://academyofideas.com/2018/12/nietzsche-human-animal-domesticated-strong/[21]Hill, Kevin. (2007). Nietzsche: A Guide for the Perplexed. Continuum International Publishing Group, Halaman: 61. ISBN: 9780826489241 Bahwa kita – faktanya – tidak memiliki kehendak bebas[22]Nietzsche, Friedrich. 21, Beyond Good and Evil. Link: https://www.goodreads.com/book/show/12321.Beyond_Good_and_Evil[23]Stanford Encyclopedia of Philosophy. Nietzsche’s Moral and Political Philosophy. Link: https://plato.stanford.edu/entries/nietzsche-moral-political/. Argumennya adalah bahwa kehendak bebas secara langsung mengimplikasikan suatu sebab yang menyebabkan dirinya sendiri (causa sui), dan gagasan bahwa adanya suatu causa sui tersebut merupakan sesuatu yang tidak bisa secara logis ada. Sehingga, kehendak bebas merupakan yang secara logis tidak ada.

Causa Sui adalah suatu kontradiksi diri terbaik yang pernah dipikirkan sejauh ini, itu suatu jenis pemerkosaan dan kemesuman dari logika; tapi kebanggaan ekstravagan manusia telah berhasil untuk menjeratkan dirinya secara mendalam dan menakutkan dengan omong kosong ini. Keinginan untuk “kebebasan dari kehendak” dalam rangka superlatif metafisis, yang masih berpengaruh, sayangnya, dalam pikiran-pikiran yang setengah terdidik; suatu keinginan untuk menanggung seluruh dan pokok responsibilitas untuk aksi diri sendiri, dan untuk menghilangkan Tuhan, dunia, nenek moyang, peluang, dan masyarakat melibati tidak kurang tepatnya Causa Sui ini dan, dengan keberanian yang lebih dari Munchausen, untuk menarik diri ke atas memasuki eksistensi, keluar dari rawa-rawa ketidakadaan.

Translasi Bahasa Indonesia dari Friedrich Nietzsche, Beyond Good and Evil, 21[24]Nietzsche, Friedrich. Beyond Good and Evil. Link: https://www.goodreads.com/book/show/12321.Beyond_Good_and_Evil

Selain kesimpulannya menyangkut ketidakmungkinan konsep kehendak bebas, Nietzsche juga menekankan bahwa makna dan nilai tidak seharusnya diambil dari Tuhan karena Tuhan sebenarnya adalah suatu kebohongan.

Frasanya, “Tuhan sudah mati. Tuhan tetap akan mati. Dan kita yang telah membunuhnya,” merujuk ke konsep tersebut dimana Nietzsche percaya bahwa kemajuan-kemajuan ilmiah seperti model alam semesta Heliosentris dan teori Evolusi telah menarik dasar moral dari masyarakat.

Dan dalam absensi dasar moral tradisional tersebut, Nietzsche bergagasan bahwa manusia seharusnya mencari makna hidup bukan melalui Moralitas Tradisional atau Tuhan, tetapi melalui apa yang ia panggil sebagai Übermensch (manusia superior atau overman).[25]Ojimba, Anthony C. Ikuli, Bruno Y. (31 Oktober 2019). Friedrich Nietzsche’s Superman and Its Religious Implications. International Institute for Science Technology and Education, Journal of … Continue reading Ini, Nietzsche nyatakan, merupakan suatu kontras dengan norma-norma yang didorong oleh Platonisme dan Kekristenan. Yang pertama, Nietzsche bilang, berdasar pada suatu paradgima epistemik yang naif, yakni bahwa ada suatu kebenaran objektif yang melampaui subjektivitas manapun di dunia ini.[26]Wilkerson, Dale. Nietzsche. Internet Encyclopedia of Philosophy. Link: https://iep.utm.edu/nietzsch Yang kedua, Nietzsche mengkritik, telah menjadi suatu ideologi bagi para gereja untuk mengendalikan orang-orang awam, dan juga telah menyalahgunakan dan menyalahinterpretasikan ajaran-ajaran Yesus[27]Nietzsche, Friedrich. The Anti-Christ, 26-27.

Kekristenan telah mengambil bentuk yang hostilitas mematikan kepada realita, suatu hostilitas yang tak terlampaui sampai hari ini. “Orang-orang suci” telah menyimpan hanya nilai-nilai yang imamat, kata-kata imamat untuk hal; dengan konsistensi logis yang menyeramkan, mereka telah melepaskan diri mereka dari semua kekuatan lain di bumi, mempertimbangkan mereka ‘tidak suci’, ‘duniawi’, ‘berdosa’; sekarang orang-orang ini telah menghasilkan formula akhir untuk insting mereka, satu yang logis sampai ke titik penghancuran diri: sebagai Kekristenan, mereka menegasi bentuk akhir dari realita, ‘orang-orang suci’, ‘orang-orang terpilih’, realita Yahudi itu sendiri. Ini adalah kasus kelas-satu: pergerakan kecil dan pemberontakan dibaptis dengan nama Yesus dari Nazareth adalah insting Yahudi itu sekali lagi, – dalam kata lain, insting imamat yang tidak bisa mentoleransikan pendeta-pendeta untuk realita mereka, suatu invensi dari suatu keberadaan yang lebih usang, dari suatu pandangan dunia yang lebih tidak nyata daripada apa yang didiktat dari organisasi suatu gereja. Kekristenan menegasi Gereja…

Translasi Bahasa Indonesia dari Friedrich Nietzsche, The Anti-Christ, 27

Dengan basis Akal dan Keyakinan, Nietzsche melanjutkan, Platonisme dan Kekristenan merupakan sesuatu yang memiliki konsepsi moral yang tradisional. Karena Nietzsche merasa moralitas tersebut adalah sesuatu yang berkontribusi menariknya perhatian kemasyarakatan dari dunia nyata ke suatu dunia yang palsu. Ia menyimpulkan bahwa manusia akan dan seharusnya sekarang fokus dengan percobaan untuk urusan-urusan dunia nyata yang lebih tinggi, yang menurut dia seharusnya difokuskan kepada percobaan untuk mencapai Übermensch, dimana manusia dibilangnya sebagai puncak kesempurnaan kemanusiaan yang akan memberi nilai-nilai fondasional baru untuk masyarakat. [28]Robertson, Simon. The Disvalue of Morality. Cardiff University. Link: https://www.cardiff.ac.uk/__data/assets/pdf_file/0004/147109/nietzschescritiqueofmorality.pdf[29]Fortich, Ingrid F. (Juni 2010). Nietzsche’s Ubermensch: the notion of a higher Aristocracy of the Future. Civilizar 10(18): 75-80. Link: http://www.scielo.org.co/pdf/ccso/v10n18/v10n18a08.pdf

Takdir, bagi Eksistensialisme – utamanya yang mendorong Nietzsche – merupakan sesuatu yang tidak pasti dan tidak ditentukan oleh siapapun, kecuali oleh mereka yang memiliki takdir itu sendiri. Dengan menentukan takdir sendiri, Eksistensialisme mengatakan bahwa manusia kemudian bisa benar-benar memiliki suatu makna yang jelas dan berarti bagi diri sendiri. Dimana bagi Nietzsche takdir seseorang merupakan sang Ubermensch, Nietzsche tetap menekankan bahwa takdir tidak bisa ditentukan oleh siapapun kecuali oleh diri sendiri. Eksistensi selalu mendahului Esensi bagi Eksistensialisme.

Dua Jenis, Dua Kriteria

Dari pengkajian tersebut, kita bisa mensimplifikasi dua jenis takdir berdasarkan dua kriteria yang didorong oleh agama dan filsafat. Jenis pertama dibuat berdasarkan kriteria kepastian, dan jenis kedua dibuat berdasarkan kriteria penentuan. Lihat tabel berikut.

Ditentukan (intensional)Tidak Ditentukan (non-intensional)
Pasti (determinisme)Islam Sunni, Kristen KatolikStoisisme
Tidak Pasti (non-determinis/libertarianisme)Hindu, EksistensialismeNihilisme

Dalam kategori takdir yang bersifat pasti dan ditentukan, takdir merupakan suatu hal yang tidak bisa diubah lagi karena sudah dimaksudkan oleh suatu keberadaan atau pihak tertentu, biasanya suatu sosok ketuhanan. Kita bisa saja menamakan jenis takdir ini determinisme intensional. Contoh dari konsepsi takdir yang determinis intensional merupakan Islam Sunni dan Kristen Katolik. Kedua denominasi agama tersebut mendorong suatu konsep dimana ada suatu sosok Tuhan yang sudah menentukan dengan pasti nasib dari ciptaannya.

Dalam kategori takdir yang bersifat pasti, dan tidak ditentukan, takdir merupakan suatu hal yang tidak bisa diubah lagi karena mekanika dari cara kerja takdir itu sendiri, yang biasanya bergantung dengan cara kerja alam semesta. Kita bisa menamakan jenis takdir ini determinisme non-intensional. Contoh dari konsepsi takdir yang determinis non-intensional merupakan Stoisisme yang mendorong adanya suatu sistem alam semesta yang rasional dimana semua yang terjadi pasti akan sudah “diniatkan” terjadi karena mekanika dari alam semesta.

Dalam kategori takdir yang bersifat tidak pasti dan ditentukan, takdir merupakan suatu hal yang bisa dirubah karena maksud atau niat keberadaan-keberadaan yang memiliki takdir itu sendiri. Ini berkontras dengan determinisme intensional, sebagai libertarianisme intensional, dalam rangka kepastian yang didorong oleh konsepsi takdirnya. Libertarianisme sering dikenal sebagai suatu posisi yang mendorong adanya agen yang berkehendak bebas untuk menentukan nasib diri sendiri. Dan contoh baik dari libertarian intensional tersebut adalah Eksistensialisme dan Aristotelianisme yang masing-masing menekankan keberadaan dan kepentingan tanggung jawab pribadi dalam hidup.

Dalam kategori yang bersifat tidak pasti dan tidak ditentukan, takdir – cukup jelas – adalah sesuatu yang bisa berubah karena tidak ada apapun yang menetapkan nasib apapun. Saya mengisi bagian ini dengan nihilisme karena itu adalah pemikiran – yang menurut saya – terdekat dengan suatu konsep libertarianisme non-intensional. Label libertarianisme non-intensional itu sendiri bisa dibilang tidak masuk akal karena libertarianisme cukup memperlukan suatu agen yang berkehendak bebas, yang bisa menentukan takdir mereka sendiri atau takdir hal-hal lain. Nihilisme, menurut saya, masuk ke kategori ini karena ini merupakan suatu jenis pemahaman filsuf yang tipikalnya, meskipun tidak eksklusif dengan, mendorong gagasan bahwa makna, prinsip, dan nilai yang ada dalam moralitas masyarakat itu tidak berdasar pada apapun, sehingga tidak pantas untuk manusia – atau moral agen manapun – untuk memilih melakukan sesuatu dalam hidup. Melakukan sesuatu perlu suatu arti atau makna yang mendasarinya, maka jika tidak ada dasar dalam arti atau makna tersebut, tidak perlu untuk melakukan sesuatu tersebut. Dalam konteks Nihilisme ini, kasusnya bukanlah manusia tidak bisa menentukan. Tetapi, manusia dibilangnya tidak pantas untuk melakukan apapun. Sehingga, saya masukkan Nihilisme sebagai suatu posisi default dimana tidak ada suatu takdir yang pasti karena tidak ada yang menentukan, sendirinya karena tidak ada makna untuk menentukan apapun.

Mana yang Benar?

Di seksi ini, saya akan menjelaskan perspektif saya sendiri sesuai kerangka filosofis yang saya pegang. Sesuai dengan kerangka filosofis tersebut, saya akan mencoba menjelaskan suatu justifikasi mengapa kerangka-kerangka filosofis lain sebenarnya tidak patut untuk digunakan ketika mempertimbangkan isu takdir.

Inkonsistensi Dalam Definisi Takdir

Apakah takdir itu sesuatu yang benar-benar nyata?

Jawabannya adalah tergantung, menurut saya. Dalam mempertimbangkan keberadaan apapun dalam realita, saya cukup mengambil perspektif yang ilmiah dimana saya akan menekankan pentingnya empirisme dan penggunaan uji coba untuk menentukan keberadaan sesuatu. Saya akan memberi contoh dari dimana kedua konsep tersebut diterapkan, dan membuahkan suatu hasil yang dipreferensikan, dan juga bagaimana saya menyimpulkan bahwa hasil yang saya dapatkan berdasarkan pengamatan dan uji coba itu seharusnya kita inginkan.

Dalam perspektif saya, jika kita ingin mengasumsi bahwa takdir merupakan suatu konsep yang bisa diverifikasi sebagaimana kita memverifikasi keberadaan suatu kursi dalam ruangan, maka kita harus mencoba memikirkan variabel-variabel operasional yang kita ingin uji coba untuk memverifikasi keberadaan takdir. Suatu variabel adalah suatu objek atau faktor dalam suatu hipotesis yang dianggap bisa mempengaruhi hasil dari suatu eksperimen. Sebagai contoh, ketika kita memancing, kita fundamentalnya bisa dibilang melakukan suatu eksperimen dimana kita ingin mengetahui jika ada atau tidak ikan dalam suatu tempat. Suatu variabel penting dalam eksperimen seperti itu adalah lokasi pemancingannya. Jika lokasi yang kita pilih tidak tepat, dimana memang tempat tersebut sudah terlalu sering dipakai, maka kita bisa dikatakan tidak memperhitungkan suatu variabel saat memilih untuk memancing.

Umumnya, kita seharusnya relatif langsung mendapatkan variabel-variabel untuk memverifikasi sesuatu. Dalam kasus kita ingin menelusuri hipotesis “Memakan Oreo akan menyebabkan berbagai jenis kanker”, saya merasa bahwa variabel-variabel yang bisa kita identifikasikan adalah oreo dan berbagai jenis kanker. Jika kita menggunakan eksperimen simpel dimana kita memberi sejumlah Oreo masing-masing ke 50 orang yang kita pilih dengan acak di lingkungan tertentu dengan kriteria mereka tidak memiliki kanker, dan kita mencoba mengukur efeknya dalam jangka waktu sekitar 20 tahun setelah mereka mengonsumsi oreo tersebut, kita akan bisa memverifikasi hipotesis yang ada dalam eksperimen hipotetis ini. Mungkin saja hasil yang kita dapatkan – dalam skenario tersebut – adalah 40 dari 50 subjek terdiagnosis kanker setelah 1 tahun mengonsumsi oreo tersebut. Mungkin saja hasil yang kita dapatkan hanya biasa-biasa saja dimana tidak ada fenomena yang mengejutkan setelah 20 tahun observasi kesehatan 50 orang tersebut. Entah bagaimana, hipotesis yang kita miliki bisa diuji. Ini tidak kasusnya dalam takdir.

Takdir, sebagai suatu konsep, tidak memiliki definisi ataupun variabel yang operasional. Untuk menguji sesuatu, kita perlu mengetahui dengan jelas apa sesuatu itu. Takdir, sebagaimana kajian tadi mendemonstrasikan, memiliki banyak sekali interpretasi. Dan itupun tidaklah suatu kajian yang bermaksud sebagai komprehensif. Kita secara teknis bisa saja menggunakan satu saja demi verifikasi. Tetapi, isunya adalah kita hanya akan memverifikasi satu interpretasi tersebut saja. Kita tidak akan bisa menggunakan hasil verifikasi dari interpretasi tersebut untuk membuktikan atau menyalahkan konsep takdir secara keseluruhan. Suatu interpretasi spesifik takdir, pada dasarnya, tidak akan bisa dipanggil sebagai suatu konsepsi takdir yang umum karena konsepsinya memang cukup spesifik dalam agama atau filsafat itu saja.

Sehingga, dalam asumsi bahwa takdir bisa diverifikasi sebagaimana kita memverifikasi hipotesis ilmiah biasanya, kita tetap tidak akan bisa mempraktekan proses verifikasi tersebut karena, menurut saya, kita tidak akan bisa mengidentifikasikan suatu definisi/variabel operasional yang memuaskan untuk suatu konsepsi takdir yang umum. Tentu, kasusnya berbeda jika kita fokus ke suatu gagasan takdir yang spesifik, tetapi jika kita melakukan ini, maka kita harus memikirkan suatu label baru daripada takdir saja karena kita tidak bisa memvalidasikan konsep takdir yang umum dengan memverifikasi satu konsep takdir yang spesifik saja.

Takdir, maka bisa disimpulkan, dalam kasus dimana kita ingin secara ilmiah memverifikasi keberadaannya, merupakan suatu keberadaan yang jatuh ke dalam dunia not even wrong atau tidak bisa disalahkan (unfalsifiable). Kasusnya bukan kita tidak bisa membuktikan konsep takdir sebagai salah, kasusnya adalah kita sekarang tidak tahu mengecek kebenaran dan kesalahan di balik konsep tersebut karena konsepnya sendiri tidak memiliki pengertian yang jelas. Ini sebanding jika kita ingin memverifikasi keberadaan suatu segitiga yang memiliki empat sisi. Suatu segitiga yang memiliki empat sisi merupakan suatu oxymoron, sehingga menciptakan ketidakjelasan dalam definisi objek yang kita ingin verifikasi. Kasusnya dalam takdir adalah bukan bahwa itu mengkontradiksi diri sendiri seperti suatu segitiga dengan empat sisi, tetapi bahwa takdir memiliki definisi yang inkonsisten antara mereka yang mengajukan konsepnya.

Metafisika Non-Ilmiah yang Tidak Reliabel

Membuang asumsi takdir sebagai suatu hipotesis ilmiah biasa, kita akan datang ke dunia metafisika dimana kita lebih bebas untuk menggunakan kerangka-kerangka epistemik yang non-ilmiah untuk datang ke kesimpulan-kesimpulan tertentu. Suatu isu dalam pendekatan yang lebih metafisis menyangkut takdir adalah bahwa mereka tidak reliabel. Mereka tidak akan menghasilkan hasil-hasil yang bisa kita handalkan sebagaimana kita bisa menghandalkan hasil suatu eksperimen yang ilmiah dimana kita bergantung dengan indra-indra kita untuk mengamati hasil-hasil eksperimen tersebut.

Alasan utama mengapa saya cukup memegang kerangka yang ilmiah berdasar pada suatu “supra-struktur” epistemik yang seringkali dipanggil sebagai reliabilisme. Ini adalah suatu pandangan menyangkut pengetahuan dan bagaimana kita bisa menjustifikasikannya. Reliabilisme, setidaknya sebagaimana saya mengertinya, menyatakan bahwa pengetahuan hanya bisa dimiliki dan dijustifikasikan melalui suatu proses epistemik yang reliabel. Jika X sebagai suatu pengetahuan yang kita dapatkan melalui proses epistemik Y, seorang reliabilis akan menyimpulkan bahwa X itu reliabel hanya jika proses epistemik Y bisa didemonstrasikan sebagai reliabel. Suatu contoh praktis bagaimana saya secara pribadi menggunakan kerangka epistemik reliabilis ini bisa dilihat di skenario berikut.

Bayangkan kita sedang menyebrangi jalan, dan kita ingin suatu cara untuk mengetahui bahwa kita tidak akan mati ditabrak suatu mobil saat melaksanakan proses penyebrangan tersebut. Suatu metode yang reliabel dalam skenario itu menurut saya adalah untuk kita bergantung dengan panca indra kita.

Mengapa panca indra kita bisa menghasilkan pengetahuan yang reliabel?

Saya tidak mengetahui itu. Sesuatu yang saya cukup bisa pastikan adalah bahwa saat saya menyebrang, saya akan melihat kanan dan/atau kiri untuk mengantisipasi datangnya suatu mobil. Dan dari pengalaman saya, hasil yang saya dapatkan dari menggunakan panca indra saya cukup membuat saya mencapai tujuan utama saya ketika ingin menyebrangi jalan, yakni untuk tidak mati ditabrak suatu mobil atau kendaraan lain yang mungkin melewati jalan tersebut.

Saya bisa mengkontraskan metode empiris tersebut dengan suatu metode epistemik untuk menjustifikasikan pengetahuan yang non-empiris. Dari cara kerjanya, kita bisa menyimpulkan dengan mudah bahwa jika kita mencoba melewati jalan tanpa melihat kanan kiri dan tanpa mendengarkan apapun (klakson atau suara mobil yang mendekat), saya bisa menyimpulkan melewati kerangka saya – yang menurut saya cukup konvensional bagi siapapun di kehidupan sehari-hari – bahwa kemungkinan besar seseorang akan lebih mudah untuk mati karena mereka tidak akan bisa mengantisipasi mobil ataupun kendaraan-kendaraan lain.

Sehingga, suatu metode epistemik yang non-empiris menurut saya merupakan suatu metode epistemik yang cukup tidak seharusnya digunakan ketika membahas keberadaan sesuatu.

Untuk membahas konsep takdir melalui suatu kerangka metafisika yang non-ilmiah – yang secara langsung berarti non-empiris – menurut saya melalui ekstensi logis pernyataan saya sebelumnya, adalah suatu kesalahan besar. Karena kerangka-kerangka epistemik metafisis yang non-ilmiah tidak cukup untuk menghasilkan hasil-hasil yang reliabel.

Takdir Sebagai Determinisme Keras Murni

Meski dengan skeptisisme saya terhadap konsep takdir dari perspektif ilmiah, saya bisa setuju dengan suatu konsepsi takdir yang dilihat sebagaimana Stoisisme mendorong takdir sebagai suatu konsep. Spesifiknya, takdir sebagai suatu bentuk determinisme.

Dalam seksi-seksi sebelumnya, determinisme dibilang sebagai suatu bentuk takdir yang berdasarkan kepastian. Jika suatu hasil sudah pasti terjadi, maka bisa dikatakan bahwa itu adalah suatu hal yang sudah deterministik, sementara kebalikannya berarti adalah suatu hal yang masih non-deterministik atau spesifiknya, libertarian jika non-determinisme yang ada dikarnakan adanya kehendak bebas yang menjadi suatu pihak yang bisa merubah hasil dari suatu fenomena. Tetapi, determinisme sebagai suatu filsafat melebihi arti itu saja. Determinisme juga bisa berarti sebagai suatu pandangan filosofis dimana hasil suatu fenomena dipengaruhi oleh hasil-hasil sebelumnya, atau bahkan bisa ditentukan sepenuhnya oleh hasil-hasil sebelumnya. Kausal determinisme tersebut merupakan sesuatu yang saya secara pribadi pegang sebagai benar.

Spesifiknya, saya secara pribadi memegang pandangan yang sering dipanggil sebagai determinisme keras. Suatu pandangan halus menyangkut determinisme, atau yang dipanggil sebagai kompatibilisme, adalah suatu pandangan dimana dilihatlah suatu kompromi antara determinisme dan libertarianisme. Dua-duanya, yakni ketidakmungkinan untuk suatu perubahan dalam hasil dan kebebasan dalam kehendak manusia, memiliki ruangan dan peran mereka masing-masing untuk ada dalam alam semesta, entah bagaimana caranya. Saya memandang kompatibilisme tersebut – dalam rangka metafisika alam semesta – sebagai suatu imposibilitas. Suatu hasil entah pasti atau tidak pasti. Dan keberadaan suatu kehendak bebas merupakan suatu konsep yang secara fundamentalnya mengimplikasikan langsung ketidakpastian dalam hasil suatu fenomena karena akan ada suatu pihak yang bisa ikut campur dengan hasil suatu kejadian sesuai kemauan mereka. Untuk mengapa saya lebih cendrung untuk memegang sisi kepastian dari hasil-hasil di alam semesta, alasannya berdasar pada fakta bahwa sepertinya semua masalah memiliki aspek eksternal yang bisa kita pertimbangkan sampai internalitas masalah tidak penting lagi, dan bahwa ada “hukum-hukum” alam yang telah menentukan interaksi-interaksi sekecil atom sampai interaksi-interaksi sebesar planet.

Pemikiran saya untuk alasan pertama, bahwa selalu ada aspek eksternal dalam suatu masalah sampai aspek internal menjadi tidak penting, adalah sebagai berikut. Kita bisa mengambil masalah seperti kemiskinan dalam masyarakat. Secara sosiologis, kita bisa mengkaji masalah tersebut sebagai suatu masalah yang timbul karena sistem yang ada dalam masyarakat itu sendiri yang gagal untuk memberi suatu mekanisme dimana orang-orang yang miskin oportunitas-oportunitas yang cukup untuk melaksanakan mobilitas sosial agar kemiskinan mereka bisa diatasi dengan efektif. Kita, tentu, kemudian bisa menanyakan lagi mengapa sistem belum memberi suatu mekanisme yang sesuai untuk mengatasi kemiskinan, dan jawaban yang kita dapatkan akan lebih eksternal lagi dari orang-orang yang menderita kemiskinan itu. Yakni, bisa saja suatu sebab utama mengapa sistem belum berubah adalah karena adanya stigma sosiopolitik untuk mengadakan program-program pembantuan tertentu seperti gaji minimum, kupon makanan, dan insuransi pengangguran. Kita bisa menelusuri lagi. Mengapa adanya suatu stigma sosiopolitik untuk mengadakan program-program tersebut?

Kita bisa melihat bahwa dalam kasus itu, suatu aspek internal bukanlah suatu kebutuhan yang esensial agar kita bisa mendapatkan pengertian yang jelas menyangkut mengapa suatu masalah itu ada. Tetapi, bagaimana dengan hal-hal yang tidak se-obvious itu? Bagaimana dengan hal-hal yang, bukannya sudah cukup jelas, fundamentalnya sesuatu yang internal, sesuatu yang sudah paling dasarnya aspek yang seharusnya tidak bisa didasari oleh faktor-faktor eksternal lain?

Salah satu contoh dari sesuatu yang sepertinya merupakan suatu fenomena yang tidak memiliki sebab eksternal adalah orientasi seksual. Ada suatu sentimen yang datang ketika membicarakan orientasi seksual bahwa mereka adalah hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan sebagaimana kita tidak bisa mengendalikan ras. Ini menurut saya sesuatu yang benar untuk sebagian besarnya, tetapi di saat yang sama membawa suatu impresi dimana hanya karena tidak bisa dikendalikan sekarang, tidak akan bisa dikendalikan juga di masa lalunya juga saat seksualitas itu awalnya berkembang dalam psikologi kita. Itu adalah suatu impresi yang tidak sepenuhnya akurat.

Untuk sekarang, penelitian bersangkutan dengan seksualitas dan asal usul suatu orientasi seksual itu sendiri masih sering dikataan belum cukup untuk menyimpulkan suatu konsensus ilmiah. Dengan itu, penelitian yang ada sekarang menyarankan bahwa meskipun orientasi seksual banyak memiliki faktor yang bawaan (innate), ada juga sejumlah faktor-faktor environmental yang mempengaruhi orientasi seksual tersebut. Spesifiknya, ditemukan suatu faktor environmental non-sosial yang sepertinya memiliki peran besar terhadap menentukan jika seseorang akan menjadi seorang homoseksual.[30]Cook, Christopher C. H. (16 September 2020). The causes of human sexual orientation. Taylor & Francis Online. DOI: 10.1080/13558358.2020.1818541 Faktor environmental non-sosial yang saya ingin tekankan disini adalah suatu korelasi – yang menurut saya – menarik dan relevan. Yakni, bahwa seorang homoseksual laki-laki semakin berkemungkinan untuk memiliki lebih banyak kakak laki-laki dibanding dengan orang-orang non-homoseksual. Bagian yang membuat korelasi ini suatu hal yang menyarankan inakurasi dalam impresi sebelumnya adalah pada mekanisme mengapa korelasi itu bisa ada.

Sudah dihipotesiskan bahwa, saat fetus lelaki berkembang, ada suatu proses imunologis dimana antigen-antigen yang ada pada kromosom Y memicu suatu respon dari tubuh ibunya yang hamil. Pemicuan respon dari tubuhnya itu – dengan sendirinya – tidak akan meningkatkan kemungkinan untuk seorang fetus lelaki menjadi seorang homoseksual. Melainkan, dikarnakan tingkat antibodi yang sudah naik dari proses imunologis untuk anak sebelumnya, antibodi-antibodi yang ada akan meningkat lebih jauh lagi untuk anak kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Hipotesisnya utamanya – yang sepertinya sudah memiliki sejumlah dukungan empiris – mengatakan bahwa kondisi rahim yang tercipta akibat proses tersebut memiliki efek tertentu pada berkembangnya otak fetus lelaki, yang meningkatkan kemungkinan untuk berubahnya seksualitas dari anak tersebut yang masih berkembang. Sehingga, ada-lah suatu korelasi dimana semakin banyak kakak yang anda miliki, semakin besar juga kemungkinan untuk anda bisa menjadi seorang homoseksual.

Mekanisme tersebut, menurut saya, cukup untuk menghilangkan ilusi dari suatu internalitas dalam berkembangnya seksualitas. Meskipun memang ada faktor-faktor bawaan (innate), mereka secara konsepsual pastinya akan memiliki sebab-sebab yang mendahuluinya juga. Oleh karena itu, saya secara induktif menyimpulkan bahwa jika kita ingin menyelesaikan suatu masalah, kita seharusnya menghampiri masalah manapun, masyarakat ataupun ilmiah kodratnya, melalui lensa yang mengasumsi bahwa adanya faktor-faktor eksternal yang mendahului suatu masalah. DIsinilah juga dimana menurut saya apa yang sering dipanggil sebagai hukum sebab akibat atau rantai sebab akibat menjadi suatu presuposisi yang berguna.

Berguna karena tidak hanya faktanya semua hal memiliki sebab dan akibat, tetapi juga karena sikap kita seharusnya mencerminkan suatu pandangan dimana kita tidak seharusnya berhenti menelusuri sebab-sebab suatu masalah, meskipun masalah yang sedang dihadapi mungkin cukup susah untuk dilihat melalui lensa yang dipanggil sebagai determinisme keras dimana semua hal terjadi dengan pasti karena hal-hal sebelumnya sudah memiliki sebab-sebab yang berinteraksi dengan satu sama lain. Hukum-hukum alam seperti Gravitasi masih sedang ditelusuri oleh para fisikawan, dan menurut saya, menemukan hukum-hukum alam tersebut akan membawa kita ke suatu pengertian yang lebih holistik menyangkut sebab-sebab yang berinteraksi tersebut. Dengan mendekatkan pengertian kita ke yang lebih akurat, kita akan semakin bisa memprediksi lebih lanjut suatu kejadian.

Kembali kepada takdir, saya menyangkutkannya dengan mengatakan bahwa meskipun saya tidak percaya takdir sebagai suatu konsep metafisika yang dimana suatu hasil sudah ditentukan oleh Tuhan atau sosok yang mirip, saya masih memegang suatu pengertian metafisika yang cukup deterministik. Dan determinisme ini bisa dibilang sebagai hal terdekat yang saya punya sebagai suatu konsep ketakdiran di kepala saya.

Dalam pengertian ini, ketika saya mengatakan takdir dari suatu objek atau seseorang, saya akan merujuk bukan kepada suatu konsep metafisika yang berhubungan dengan apa hasil pasti yang diniatkan oleh suatu kuasa yang lebih tinggi, saya spesifiknya lebih akan merujuk kepada suatu konsep metafisika yang berhubungan dengan apa hasil pasti dari suatu objek atau seseorang berdasarkan faktor-faktor eksternal yang ada?

Implikasi dari tipe takdir dalam pandangan saya ini juga memiliki implikasi yang cukup berbeda dimana saya tidak membuat suatu preskripsi sebagaimana takdir sebagai konsep biasanya mengimplikasikan. Saya tidak membuat suatu pernyataan menyangkut apa yang seharusnya terjadi dengan memperkenalkan takdir sebagai suatu konsep. Saya membuat suatu pernyataan yang deskriptif ketika mengatakan takdir di seksi ini. Takdir, bagi Determinisme Keras yang saya dorong disini, adalah suatu konsep yang tidak bisa dipisahkan dengan pernyataan, “Apa yang akan terjadi?” dan sepenuhnya bisa dipisahkan dengan pernyataan, “Apa yang pantas terjadi?”

Jadi, apa itu takdir tanaman taoge?

Oh, kita lagi ngomongin tentang Taoge ya?

Berdasarkan pengertian dari saya yang sudah saya coba jelaskan dan demonstrasikan ke anda di seksi sebelumnya, saya percaya bahwa “takdir” dari taoge adalah bagaimanapun biologi dari suatu taoge sendiri itu bekerja, dan alasan apapun yang ada saat tanaman taoge itu sendiri di tanam. Mungkin juga taoge itu ternyata tertanam dan tumbuh berkembang tanpa intervensi manusia, sehingga dalam kasus ini, takdir taoge itu hanya ada dari sisi biologinya saja.

Referensi

Referensi
1 Ahmad, Abdul W. (24 September 2018). Mengurai Takdir dari Tiga Perspektif: Allah, Malaikat, dan Manusia. NU Online. Link: https://islam.nu.or.id/post/read/96195/mengurai-takdir-dari-tiga-perspektif-allah-malaikat-dan-manusia
2 Berita Hari Ini. (26 April 2021). Pengertian Takdir Mubram dan Contohnya dalam Ajaran Islam. Link: https://kumparan.com/berita-hari-ini/pengertian-takdir-mubram-dan-contohnya-dalam-ajaran-islam-1vcxVkOu0xN/full
3 Catechism of the Catholic Church. Christ’s Redemptive Death in God’s Plan of Salvation. Link: https://www.vatican.va/archive/ENG0015/__P1O.HTM
4 Agustinus dari Hippo. (426 atau 427 M). On Grace and Free Will. New Advent. Link: https://www.newadvent.org/fathers/1510.htm
5 Queensborough Community College. Hinduism. Link: https://www.qcc.cuny.edu/socialsciences/ppecorino/phil_of_religion_text/chapter_2_religions/hinduism.htm
6 BBC. The nature of human life in Hinduism. Link: https://www.bbc.co.uk/bitesize/guides/zmgny4j/revision/
7 Universitas Krisnadwipayana. Brahman. https://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Brahman_22353_unkris_p2k-unkris.html
8, 9 Aristotle. On Interpretation. Link: https://web.archive.org/web/20190805111102/https://ebooks.adelaide.edu.au/a/aristotle/interpretation/
10 Aristotle. Book 1, Nichomachean Ethics. Link: https://historyofeconomicthought.mcmaster.ca/aristotle/Ethics.pdf
11, 17 Pigliucci, Massimmo. Internet Encylopedia of Philosophy. Link: https://iep.utm.edu/stoicism/
12 Inwood, Brad, et al. (Juli 2003). The Cambridge Companion to the Stoics. Cambridge University Press, Halaman: 129. ISBN: 9780521779852
13, 14, 15, 16 Cicero. De Natura Deorum. Link: https://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Roman/Texts/Cicero/de_Natura_Deorum/2A*.html
18 Stanford Encylopedia of Philosophy. Existensialism. Link: https://plato.stanford.edu/entries/existentialism/
19 Sartre, Jean-Paul. Existensialism is a Humanism. Link: 20 Academy of Ideas. (20 Desember 2018). Nietzsche and The Human Animal: The Domesticated and The Strong. Link: https://academyofideas.com/2018/12/nietzsche-human-animal-domesticated-strong/
21 Hill, Kevin. (2007). Nietzsche: A Guide for the Perplexed. Continuum International Publishing Group, Halaman: 61. ISBN: 9780826489241
22 Nietzsche, Friedrich. 21, Beyond Good and Evil. Link: https://www.goodreads.com/book/show/12321.Beyond_Good_and_Evil
23 Stanford Encyclopedia of Philosophy. Nietzsche’s Moral and Political Philosophy. Link: https://plato.stanford.edu/entries/nietzsche-moral-political/
24 Nietzsche, Friedrich. Beyond Good and Evil. Link: https://www.goodreads.com/book/show/12321.Beyond_Good_and_Evil
25 Ojimba, Anthony C. Ikuli, Bruno Y. (31 Oktober 2019). Friedrich Nietzsche’s Superman and Its Religious Implications. International Institute for Science Technology and Education, Journal of Philosophy Culture and Religion, Vol. 45. ISSN: 2422-844. Link: https://core.ac.uk/download/pdf/270187928.pdf
26 Wilkerson, Dale. Nietzsche. Internet Encyclopedia of Philosophy. Link: https://iep.utm.edu/nietzsch
27 Nietzsche, Friedrich. The Anti-Christ, 26-27
28 Robertson, Simon. The Disvalue of Morality. Cardiff University. Link: https://www.cardiff.ac.uk/__data/assets/pdf_file/0004/147109/nietzschescritiqueofmorality.pdf
29 Fortich, Ingrid F. (Juni 2010). Nietzsche’s Ubermensch: the notion of a higher Aristocracy of the Future. Civilizar 10(18): 75-80. Link: http://www.scielo.org.co/pdf/ccso/v10n18/v10n18a08.pdf
30 Cook, Christopher C. H. (16 September 2020). The causes of human sexual orientation. Taylor & Francis Online. DOI: 10.1080/13558358.2020.1818541

Tinggalkan Balasan