You are currently viewing Percakapan dan Analisis: Satanisme Teistik

Percakapan dan Analisis: Satanisme Teistik

Repost dari grupkapital.id

Disklaimer

Tujuan saya berinteraksi, berdiskusi, dan/atau berdebat bersama orang-orang online adalah untuk mendapatkan pengertian yang lebih akurat dan koheren mengenai kepercayaan-kepercayaan yang mereka miliki. Ini entah kepercayaan-kepercayaan yang ada di bidang filosofi, agama, politik, dan bidang-bidang lain. Sehingga, semua respon dan pertanyaan yang saya ajukan ke interlokutor (teman bicara) saya seharusnya memiliki tujuan itu. Jika ada bagian dari percakapan yang saya sebarkan ternyata anda temukan tidak selaras dengan tujuan itu, maka saya mohon untuk tidak ragu-ragu berkomentar untuk menunjukan kesalahan saya ini.

Di saat yang sama, alasan mengapa saya menyebarkan percakapan berikut adalah tidak hanya untuk mencoba untuk memperluas wawasan kita semua mengenai keberadaan kepercayaan-kepercayaan interlokutor saya, namun juga untuk membantu diri kita masing-masing mencerna kepercayaan-kepercayaan kita dengan logis dan konsisten. Ini mengapa saya juga mengadakan komentar/analisa saya mengenai interaksi tersebut di postingan yang setelah ini. Agar kita bisa mengidentifikasi alasan-alasan yang mirip, jika bukan sama, yang kita pakai untuk membenarkan suatu hal dalam pikiran kita, dan agar kita bisa mencari tahu reliabilitas alasan-alasan tersebut sebagai basis dari kepercayaan kita.

Percakapan

Percakapan berikut adalah suatu interaksi yang saya miliki pada akhir-akhir bulan Mei. Percakapan aslinya berlangsung dalam Bahasa Inggris sehingga saya sendiri mengambil tanggung jawab untuk mentranslasikannya ke Bahasa Indonesia demi penulisan artikel ini. Dengan kata lain, saya tidak membagi langsung percakapan ini dalam bentuk aslinya. Meskipun, ini tidak hanya karena saya percaya bahwa percakapannya bisa lebih dicerna dalam Bahasa Indonesia demi artikel ini, namun juga karena sebab-sebab hukum privasi yang berpotensi saya langgar jika saya membagi percakapan ini dalam bentuk aslinya.


Partisipan Percakapan:

RD: Ria Dara

SS: Seorang Satanis Teistik


RD: Jadi, debat/diskusi macam apa yang sudah terjadi? Topik macam apa yang saya bisa harapkan di diskusi-diskusi yang akan datang? Adakah rencana-rencana untuk server ini atau apakah kamu sekarang hanya mengimprovisasi saja?

SS: 1. Sekarang, untuk sebagian besarnya, kita ingin Debat Religi.

  1. Hanya mengimprovisasi saja, tetapi aku akan menerima saran-saran.

Walaupun Religi, kamu juga bisa membicarakan tentang evolusi dan sebagainya juga kok.

RD: Begitu. Tujuan kamu apa untuk diskusi-diskusi ini? Untuk mencapai suatu kesimpulan yang disetujui semua orang, atau hanya membagi pandangan-pandangan dunia?

SS: Membagi pandangan-pandangan dunia, menurut ku. Sejumlah orang benar-benar tidak bisa diperdebatkan dengan logis dan akan hanya tidak setuju denganmu.

RD: Oke, maka aku secara pribadi akan fokus untuk mencoba mengerti argumen-argumen yang dipersembahkan oleh orang lain. Sudahkah kamu membagi pandangan duniamu?

(Dan aku setuju bahwa adakalanya orang-orang memiliki kebiasaan tersebut, namun aku secara pribadi mau berharap bahwa suatu server diskusi/debat akan meminimalisir kebiasaan seperti itu)

SS: Pandangan duniaku sebagian besarnya berdasar pada Sains dan beberapa pengalaman pribadi dengan yang Supernatural.
Maka, evolusi itu nyata dan sebagainya.

RD: Hmm, beri tahu aku lebih banyak. Apa nilai-nilai intinya? Dalam maksud, aksi-aksi apa yang kamu dukung / bantah, dan apa alasan-alasan untuk hal ini?

SS: Bantah? Tentunya, Kekristenan dan Islam.
Dukung? Bahwa ada suatu mahluk yang bernama Satan/Lucifer yang merupakan suatu Tuhan dan memainkan peran dimana manusia tidak akan punah dari berbagai kejadian yang bisa memusnahkan kemanusiaan.

RD: Maaf, kalimat terakhir tersebut agak aneh untuk dibaca. Memainkan suatu peran agar manusia tidak akan punah? Apakah ini maksudmu?

SS: Manusia hampir punah beberapa kali, sampai ke titik dimana hanya beberapa ratusan yang tertinggal. Aku percaya Lucifer membantu kita di momen-momen tersebut.

RD: Oke. Apa alasan-alasan utama mu untuk mempercayai hal itu? Alasan utama, dalam maksud, jika alasan-alasan tersebut ternyata salah, kamu akan merubah pikiranmu mengenai kepercayaan tersebut.

SS: Pengalaman pribadi, bercakap-cakap dengan Iblis, namun menurutku ini suatu hal yang kamu tidak bisa tentang.

RD: Pengalaman pribadi? Apakah kamu bisa memberi tahu aku lebih banyak tentang ini?

SS: Melalui Mediasi dan pada dasarnya memasuki suatu Keadaan Berdoa memperbolehkan aku untuk berbicara kepada Iblis mengenai hal-hal seperti ini, maka ia sendiri yang mengatakannya.

RD: Huh, apa itu Mediasi dan Keadaan Berdoa yang kamu bicarakan itu? Apakah itu seperti suatu keadaan pikiran yang spesial?

SS: Susah untuk digambarkan, itu seperti suatu keadaan pikiran yang bebas dan damai yang kamu masuki.

RD: Apa yang menjadi alasan utama untuk berpikir bahwa Iblis dengan sendirinya berbicara denganmu?

SS: Saat itu ada Suara, seseorang pastinya berbicara dengan aku, Suara tersebut pastinya Satan, ia tidak mengatakannya namun saat itu aku sudah menjadi seorang Satanis sehingga aku mengetahui itu adalah dia.

RD: Kalo begitu, apa yang membuatmu seorang Satanis dari awalnya?

SS: Saat itu, aku ingin mengetahui tentang hal itu dan anggota-anggotanya mengatakan bahwa merupakan suatu hal yang gampang untuk berbicara dengan Satan, berbeda dari agama-agama lain dimana susah untuk berbicara dengan Tuhan. Jadi, aku mencobanya.

RD: Aku mengasumsi bahwa yang kamu maksud dengan seorang Satanis adalah seseorang yang percaya kepada keberadaan Satan, apakah ini suatu deskripsi yang cocok?

SS: Aku seorang Satanis Rohaniah, jadi kamu bisa mengatakan bahwa aku juga percaya kepada “Sihir”.

RD: Oke, namun apakah Satanisme dengan sendirinya perlu mempunyai hal Sihir ini dalam definisinya? Aku berasumsi bahwa Satanisme hanyalah kepercayaan terhadap keberadaan suatu mahluk yang bernama Satan.

SS: Jika Satanisme Teistik disebutkan, maka Sihir akan dilibatkan karena Satan ingin kita mendapatkan kekuatan-kekuatan. Satanisme Ateistik juga percaya kepada Sihir sampai TARAF TERTENTU.

RD: Begitu. Aku akan menerima kata-katamu karena aku tidak akrab dengan Satanisme. Namun, apakah menurut mu ini adalah kepercayaan dimana Satan perlu dengan sendirinya datang langsung sebelum kamu datang ke kesimpulan bahwa ia nyata? Kamu menyebut bahwa kamu ingin mencobanya, namun sebelumnya lagi kamu menyebut bahwa kamu sudah percaya Satan nyata sampai batas tertentu sebelum kamu sebenarnya berbicara dengan Satan.

SS: Pada dasarnya, kamu perlu berbicara langsung dengan Satan karena Satan tidak mencoba untuk mencarimu, kamu mencari dia, jika kamu mencari sedikit saja kamu akan mencari dia dengan cukup mudah. Mempercayai Satanisme 100% sebelum itu hanyalah sesuatu yang tidak logis karena pada dasarnya tidak ada bukti akan keberadaan Satan selain Sihir.

RD: Tentunya, aku tidak bermaksud menghina. Tapi, dari apa yang ku mengerti proses pikirannya agak melingkar, jadi mungkin aku salah mengerti suatu hal. Kamu katakan,

“Pada dasarnya, kamu perlu berbicara langsung dengan Satan karena Satan tidak mencoba untuk mencarimu, kamu mencari dia, jika kamu mencari sedikit saja kamu akan mencari dia dengan cukup mudah.”

Namun jika itu kasusnya, bukankah kamu sudah pada awalnya mencapai kesimpulan bahwa Satan itu sudah ada? Kamu berbicara kepada Satan karena Satan tidak mencoba untuk mencarimu, namun dari apa yang ku mengerti, kamu secara tidak sengaja mengimplikasikan bahwa kamu sudah mempercayai keberaadaan Satan sebelum kamu “menemukan dia”.

Apakah menurutmu ini sebanding dengan aku mengatakan bahwa aku menemukan Allah karena aku mencari dia?

SS: Lihat, aku mencoba mengatakan, aku menemukan Agamanya, mereka bilang untuk dikonversikan, berbicaralah dengan Satan melalui Meditasi, dan aku melakukannya, kemudian aku dikonversikan.

RD: Apa yang kamu maksud ketika kamu mengatakan bahwa kamu menemukan Agamanya? Apa menurutmu sejumlah Lompatan Iman untuk Satanisme adalah satu deskripsi yang akurat untuk apa yang kamu telah lakukan, dimana setelah Lompatan Iman ini, kamu akhirnya berhasil untuk berbicara kepada Satan dan konversi, dan seterusnya?

SS: Benar, pada dasarnya Lompatan Iman. Itu satu cara yang baik untuk mengatakannya.

RD: Baiklah kalo begitu. Apakah tidak kasusnya bagimu bahwa orang lain yang menggunakan metode yang sama untuk tiba di agama mereka, sama-sama sahih dalam kepercayaan mereka kepada – sebagai contoh – Allah, Yesus, Wisnu, dan lain-lain?

SS: Menurut ku tidak karena mereka mengklaim bahwa mereka mempunyai Buku-Buku Suci tanpa ada Kesalahan, padahal mereka mempunyai kesalahan dan tidak hanya pada Translasi.

Juga, di beberapa kasus, Agamanya melawan fakta.

RD: Begitu. Jadi, apakah kamu mengatakan bahwa jika buku-buku suci agama mereka ada suatu kesalahan – dimana sebelumnya buku suci tersebut mengatakan bahwa mereka tidak bisa salah – oleh karena itu, artinya kepercayaan mereka tidak sesahih kepercayaan mu?

SS: Pada dasarnya, jika suatu Agama mengklaim bahwa ini TIDAK MEMPUNYAI KESALAHAN, namun itu mempunyai seperti 40 kesalahan, Agamanya berarti salah.

RD: Bagaimana jika kamu bertemu dengan seseorang yang tidak peduli – atau bahkan mencela – khususnya agama itu dan mempunyai kepercayaan mereka sendiri tanpa buku suci. Seperti contohnya, seseorang percaya dengan keberadaan Chthulu karena mereka mengklaim bahwa mereka telah mengambil Lompat Iman dan Chthulu telah merespon ke usaha dia dalam mencoba mencapai?

Apa menurutmu kepercayaan itu berarti sama-sama sahih dengan kepercayaan kamu untuk dipegang?

SS: Hampir, karena kita mempunyai Sihir yang seperti bisa bekerja.

RD: Oh, jelaskan kepada aku lebih banyak tentang itu. Aku sedang mencoba untuk memasukki Okkultisme dan topik-topik macam ini, aku bahkan sedang mempertimbangkan untuk membeli Lemegeton di masa depan.

SS: Tentu, aku bisa beri tahu tentang ini ke kamu.
Jadi aku bisa entah

  1. Beri tahu kamu dari diriku sendiri.
  2. Cantumkan suatu situs dengan cukup banyak info mengenai bagaimana cara untuk mempraktekan Sihir.

RD: Aku lebih ingin kamu sendiri memberi tahu aku tentangnya karena aku ingin mengetahui pendapat kamu secara pribadi karena itu yang kita lakukan sekarang. Dalam sisi lebihnya, aku ingin lebih mengetahui tentang bagaimana kamu memanfaatkan sihir ini, dan seterusnya.

SS: Ya, aku kurang lebih masih pemula dalam hal itu, namun sederhananya mempraktekan Sihir adalah ini:

  1. Kamu menaikkan energi.
  2. Kamu memprogram energi.
  3. Kamu mengarahkan energi.

Ini memperlukan kamu untuk sebelumnya bermeditasi, dan konsentrasi yang sangat besar, kamu bisa melakukan hal seperti, “Aku mendapatkan sejumlah uang yang banyak” dan kamu tidak lama lagi akan mendapatkan sejumlah uang yang banyak di masa depan.

RD: Kamu mengatakan ini bekerja?

SS: Ini memang benar bekerja.
Secara teknis, kamu bisa menggunakan Sihir ini untuk melukai orang-orang, ini dikenal sebagai Sihir Abu-Abu tapi aku tidak berurusan dengan itu.

RD: Bisakah kamu memberi suatu contoh di hidupmu dimana ini berhasil bekerja? Mungkin tentang contoh uang itu? Apakah kamu seorang miliarder, dimana sebelumnya kamu hidup dibawah Garis Kemiskinan, atau kapan sihir ini bekerja untuk mu jika kamu bisa memberi tahu?

SS: Satu detik.

RD: Tentu.

SS: Oke sekarang,

RD: Apakah kamu membaca mantra ke aku atau apa?

SS: Aku tidak tau apa panggilannya di Inggris, tapi pada dasarnya ini suatu perjudian. Ringkasnya, aku menggunakan mantra Uang, kemudian pergi membeli suatu tiket Judi dimana kamu entah hilang 3 Euro atau kamu memenangkan 1 Euro sampai ke 500rb Euro. Jadi, aku memenangkan 400 Euro dalam percobaan pertama, ini tentu sangat langka.

RD: Apakah kamu secara konsisten memenangkan 400?
Atau apakah itu satu kali saja setelah kamu menggunakan mantra uang tersebut?

SS: Ya, aku tidak membeli satu lagi tapi aku pada dasarnya mendapatkan paling sedikit 10 Euro setiap kali menggunakan Mantra tersebut.

RD: Bagaimana kamu menentukan bahwa mantra tersebut mempunyai suatu efek? Apa kamu “mematikan” mantranya dan menemukan bahwa kamu secara harfiah tidak mendapatkan uang sama sekali pada hari itu, atau apa kamu menemukan bahwa kamu secara konsisten mendapatkan uang 1 Euro pada permainan itu? Sejak kamu mengatakan bahwa pandangan dunia kamu itu berbasis pada sains, aku asumsi bahwa kamu mempunyai sikap yang ilmiah ketika datang ke kesimpulan itu.

SS: Kadang-kadang aku tidak menggunakan mantra itu, benar, dan tebak apa, hampir tidak ada Pendapatan.

RD: Tidak ada pendapatan pada permainannya?

SS: Kadang-kadang aku mendapatkan kembali uangnya namun secara keseluruhan aku membuat kerugian.
Jujur saja, aku sangat rekomendasi untuk kamu mencoba ini.
Aku takjub dengan Hasilnya.

Analisis

Untuk memulai analisis ini, saya harus menekankan pengertian dari “menganalisis sesuatu” dalam konteks ini dan juga apa yang saya “analisis” dari interaksi saya.

Arti analisis disini merujuk ke dua hal, yaitu analisis dengan arti istilah dekonstruksi, dan juga analisis dengan arti istilah kritik.

Pertama-tama, saya pada dasarnya mencoba untuk menjelaskan ulang kepercayaan interlokutor saya. Dan alasan-alasan yang dia miliki demi mencapai kesimpulan tersebut.

Pada dasarnya, di seksi Dekonstruksi ini, saya berusaha untuk menjawab dua pertanyaan dasar:

(1) Apa yang dipercayai oleh interlokutor saya? (Kepercayaan dari Interlokutor)

(2) Apa sebab-sebab yang ia identifikasikan demi kepercayaannya tersebut? (Proses Pikir dari Interlokutor)

Kedua, saya pada dasarnya juga memberi tanggapan saya mengenai proses pikir yang dimiliki oleh interlokutor saya untuk mencapai kepercayaan yang ia miliki, dan juga mengenai bagaimana ia menjelaskan poin-poin yang ia miliki. Sehingga, bisa juga dikatakan bahwa saya menjawab empat pertanyaan, dimana pertanyaan ketiga dan keempat disini adalah:

(3) Apakah interlokutor saya mempunyai alasan-alasan yang baik untuk percaya kepada apa yang ia percayai? (Tanggapan terhadap Proses Pikiran Interlokutor)

(4) Apakah interlokutor saya menjelaskan kepercayaan yang ia miliki dan proses pikir yang ia miliki dengan baik? (Tanggapan terhadap Percakapan)

Tentu, produk aslinya akan lebih kompleks dan seringkali lebih “buram” dari sekedar menjawab kedua pertanyaan tersebut saja. Lebih baik anda memperlakukan keempat pertanyaan tersebut sebagai garis akhir yang kita ingin capai. Dimana kita berkemungkinan untuk gagal mencapai satu, dua, atau bahkan semua garis akhir tersebut. Karena sangat berkemungkinan, dalam proses menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita menemukan rintangan entah dalam cara interlokutor saya menjelaskan kepercayaannya (retorika), atau dalam kepercayaannya sendiri yang kurang jelas (konsep).

Untuk kata-kata terakhir saja, saya menekan bahwa saya tidak ingin mengevaluasi/menganalisis interlokutor saya khususnya. Namun, saya ingin menganalisis kepercayaan dan proses pikir dan retorika yang mereka ekspresikan di percakapan tersebut bersama saya. Tidak sekalipun saya ingin pembaca merasa bahwa saya mengejek, mencela, atau merendahkan mereka, atau bahkan mencapai kesimpulan bahwa interlokutor saya pantas untuk mendapatkan perlakuan itu. Jika saya sekalipun melakukan ini, ini berarti saya telah melanggar tujuan saya dalam berinteraksi dengan interlokutor-interlokutor saya, yakni untuk memperbaiki kepercayaan-kepercayan dan proses-proses pikiran yang kita miliki masing-masing. Hal yang saya lakukan adalah suatu koperasi antara diri saya dan interlokutor saya, bukan suatu pertempuran. Jika kasusnya saya telah melakukan hal-hal tersebut, atau berkontribusi untuk hal-hal tersebut di sini ataupun di artikel manapun yang saya punya, atau di interaksi serius manapun yang saya laksanakan, maka saya mohon untuk menunjukan hal itu agar saya bisa langsung mempertimbangkan hal tersebut.

Dengan selesainya klarifikasi itu, saya bisa lanjut ke analisis saya sebenarnya.

Rangkuman dan Dekonstruksi

SS mempercayai bahwa ada suatu mahluk / keberadaan yang bernama Satan (atau Lucifer). Mahluk ini memiliki suatu peran aktif dalam melindungi manusia agar tidak punah.

Alasan utama yang ia punya untuk mempercayai akan keberadaan Satan adalah pengalaman pribadinya berinteraksi dengan figur Satan itu sendiri. Pengalaman pribadi ini lebih tepatnya melalui penggunaan suatu hal yang bernama Mediasi dan juga suatu keadaan pikiran spesial untuk berdoa / ibadah. Dalam keadaan ini, pikirannya dideskripsikan sebagai bebas dan damai. Ketika ia “memasuki” keadaan tersebut, SS bisa mendengar suara yang ia identifikasikan sebagai Satan.

Ia mengetahui bahwa suara itu adalah suara Satan karena pengikut-pengikut Satan yang ia temui mengatakan bahwa Satan lebih mudah untuk dihubungi daripada tuhan-tuhan yang ada di agama lain. Ia pertama kali menjadi seseorang yang cocok untuk dipanggil satanis ketika ia mencoba saran yang diberi oleh pengikut-pengikut Satan yang ia temui dan benar-benar menemui Satan.

Meskipun begitu, SS mengidentifikasikan bahwa Lompatan Iman merupakan deskripsi yang cukup akurat untuk melihat alur pikiran yang ia gunakan untuk tiba di kesimpulan bahwa (1) ada suatu mahluk bernama Satan dan (2) Satan berbicara kepada SS.

Sebagai suatu ekstensi dari kepercayaannya terhadap Satan, SS juga mempunyai kepercayaan terhadap suatu fenomena yang bernama Sihir. Fenomena ini adalah suatu hal yang bisa ia laksanakan atau manfaatkan dengan “menaikkan”, “memprogram”, dan “mengarahkan” suatu objek bernama Energi. Dan fenomena ini juga sepertinya apa yang bagi SS salah satu hal yang membedakan Satanisme Teistik (apa yang ia percayai) dengan Satanisme Ateistik.

Dimana Satanisme Teistik merupakan suatu kepercayaan yang mengandung Satan sebagai suatu mahluk/keberadaan yang sederajat dengan Tuhan di agama-agama lain dan unsur supernaturalitas, Satanisme Ateistik baginya merupakan kepercayaan-kepercayaan yang tidak mengandung aspek pertama, namun mengandung unsur supernaturalitas ke suatu taraf tertentu saja. Selebihnya lagi, alasan mengapa divisi ini ada bagi SS antara definisi Satanisme Teistik dan Satanisme Ateistik merupakan karena keberadaan yang bernama Satan yang ia percayai menginginkan manusia untuk mendapatkan kekuatan-kekuatan tertentu.

SS mempercayai akan kemanjuran dan efektivitas sihir ini karena reprodusibilitas (kemampuan untuk mendapatkan hasil tertentu berulang-ulang kali) yang ia lihat dengan menggunakan sihirnya tersebut. Keterangan lebih lanjutnya mengenai reprodusibilitas ini sebagai berikut:

Ada suatu permainan perjudian dimana pemain membeli suatu tiket selayaknya permainan loteri. Dalam permainan ini, seseorang bisa mendapatkan 1 Euro sampai ke 500 Euro. SS menggunakan suatu “mantra Uang” dan sepertinya ia mendapatkan 400 dalam percobaan pertama ia membeli tiket. Kadang-kadang, ia “mematikan” mantra tersebut dan ia hampir tidak ada pendapatan sama sekali. Sepertinya SS percaya ada suatu relasi kausal antara matinya mantra uang tersebut dan ia tidak mendapatkan uang pada permainan tersebut.

Kritik Terhadap Proses Pikir

Sebelum saya memberi tanggapan saya terhadap kepercayaan yang dipegang oleh SS, menurut saya perlu diperhatikan bahwa ada dua kepercayaan dengan argumen mereka masing-masing yang diperkenalkan oleh SS dalam interaksinya dengan saya.

Pertama-tama, ada kepercayaannya mengenai keberadaan Satan. Dan kedua, ada juga kepercayaannya mengenai keberadaan Sihir.

Walaupun SS merasa bahwa kepercayaannya kepada Satan berhubungan dengan konsep Sihir yang ia perkenalkan, hubungan tersebut kurang jelas untuk dievaluasi sebagai bagian dari proses pikir yang ia miliki demi mencapai kesimpulan bahwa Satan itu ada. Yang SS nyatakan adalah ia merupakan seorang Satanis Rohaniah yang menurutnya berarti ia juga percaya dengan keberadaan Sihir, dan bahwa Satan ingin manusia mendapatkan kekuatan-kekuatan tertentu.

Ini sama sekali tidak mengimplikasikan apapun mengenai apakah Sihir merupakan salah satu alasan dibalik kepercayaan SS kepada keberadaan Satan, hanya bahwa ia memegang kepercayaan bahwa Satan itu suatu mahluk yang nyata dan Sihir merupakan suatu fenomena yang nyata dan Satan ingin manusia mendapatkan kekuatan-kekuatan tertentu, yang dalam konteks ini merupakan Sihir.

Sehingga, mengapa saya mengevaluasi kedua kepercayaan tersebut dalam seksi mereka masing-masing.

Kepercayaan Terhadap Keberadaan Satan

Ada tiga (atau empat) masalah yang ingin saya tunjukkan. Dua masalah ini ada ketika SS merujuk ke pengalaman pribadi yang ia miliki sebagai suatu alasan utama mengapa ia percaya terhadap keberadaan Satan. Dan satu ada pada bagaimana ia mendeskripsikan keseluruhan dari proses pikirnya. Sementara satu lagi merupakan suatu keambiguan yang diciptakan oleh SS mengenai proses pikirnya (sehingga mengapa saya juga agak bingung untuk menghitungnya sebagai suatu masalah atau tidak).

Masalah pertama adalah ia sudah mempercayai Satan sebelum ia memiliki pengalaman pribadi tersebut. Jika ia sudah mempercayai keberadaan Satan sebelum ia bertemu Satan secara langsung, maka tidak bisa dibilang bahwa pengalaman pribadi tersebut merupakan alasan utama mengapa ia mempercayai keberadaan Satan. Ketidaklogisan proses pikir ini ada dalam kita percaya kepada X karena kita percaya kepada X. Proses pikir itu membawa kita ke suatu kesimpulan melalui kesimpulan itu sendiri. Ini dipanggil juga sebagai pemikiran yang melingkar atau circular reasoning. Kelingkaran ini merupakan suatu masalah karena pada nyatanya kita bisa membenarkan semua kepercayaan. Selama suatu pemikiran atau proses pikiran yang kita punya sudah mengasumsikan kesimpulannya dalam alasan-alasan yang ada, kita bisa mengatakan bahwa kesimpulan itu benar.

Mungkin salah satu contoh paling terkenal dari hal itu adalah pada situasi-situasi bernama Catch-22 (situasi-situasi yang tidak bisa kita hindari hasil akhirnya). Dalam novel yang ditulis Joseph Keller yang mempunyai nama Catch-22 (yang merupakan juga asal istilah tersebut), dikatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghindari pertempuran udara adalah dengan mengaku gila. Namun, dikatakan juga bahwa jika seseorang ingin menghindari pertempuran, maka ia juga membuktikan bahwa dirinya sebenarnya tidak gila. Karena siapa yang waras mau ikut bertempur? Sehingga semua orang akan tetap harus ikut bertempur, mau tidak mau. Disini, hal yang melingkar bukan secara langsung suatu proses pikir, melainkan pada aturan yang ada dalam suatu sistem. Sistem tersebut membawa kita dari poin A (kita harus bertempur) ke poin B (kita tidak ingin bertempur) ke poin A lagi (kita harus bertempur karena kita tidak ingin bertempur). Sama halnya dalam kasus SS dimana ia mulai dari poin A (saya percaya bahwa saya pernah bertemu dengan Satan) ke poin B (saya percaya kepada keberadaan Satan) ke poin A lagi (saya percaya kepada keberadaan Satan karena saya percaya bahwa saya pernah bertemu dengan Satan).

Masalah kedua adalah SS, sebagaimana ia menjelaskan kepercayaan dan proses pikirnya, tidak mempunyai alasan yang cukup dan/atau baik untuk percaya kepada saran yang diberikan oleh pengikut-pengikut Satan yang ia temui. Hanya karena sekumpulan orang mengatakan bahwa suatu hal – yang dalam kasus ini menyangkut keberadaan Satan yang lebih mudah dicapai daripada keberadaan-keberadaan lain – benar, bukan berarti kasusnya bahwa pernyataan itu benar. Sepertinya kasusnya disini adalah SS telah mengasumsikan kebenaran saran-saran apapun yang diberi oleh pengikut-pengikut tersebut mengenai keberadaaan Satan dan cara-cara untuk menghubunginya. Ini berhubungan dengan masalah ketiga berikut.

Masalah ketiga adalah dengan gagasan lompatan iman yang diidentifikasikan oleh SS sebagai deskripsi yang cukup akurat untuk melihat alur pikiran yang ia miliki untuk tiba di kesimpulan bahwa ada suatu keberadaan bernama Satan dan ia telah berbicara dengan keberadaan tersebut. Suatu lompatan iman adalah hal yang secara langsung melewati atau meninggalkan rute akal/rasionalitas.

Ketika sesorang percaya kepada saudaranya untuk menjaga uangnya walaupun saudara tersebut sudah menipu berkali-kali, itu adalah lompatan iman. Ketika kita mencoba untuk menyebrangi jalan raya dengan menutup mata kita, itu adalah lompatan iman. Ketika kita percaya kepada suatu mahluk yang tidak bisa diobservasi melalui cara apapun, itu adalah lompatan iman. Intinya, lompatan iman adalah suatu konsep dimana seseorang berhenti mempedulikan alasan yang cukup untuk mempercayai sesuatu, dan tetap memilih untuk mepercayai hal tersebut. Dalam kata lain, “saya percaya karena saya percaya saja.”

Menerapkan pengertian itu ke kepercayaan SS, kita bisa mengatakan bahwa ia tidak mempunyai proses pikir yang bagus. Lagi-lagi, ini ada pada penerapan dari logika yang dimiliki SS jika kasusnya ia mempercayai keberadaan Satan karena lompatan iman. Ada banyak sekali kepercayaan yang bisa kita bilang sebagai benar jika logikanya adalah kita percaya “karena kita percaya saja”. Saya bisa bilang bahwa bumi itu kotak, bulat, dan juga datar adalah pernyataan yang benar di saat yang sama karena saya percaya saja. Saya juga bisa mengatakan bahwa Islam, Kristen, dan Judaisme benar di saat yang sama karena “saya percaya saja”. Kedua contoh kepercayan itu bisa dibilang benar karena kita memperlakukan logika SS sebagai logika yang “baik” untuk dipakai dan menerapkannya ke kepercayaan-kepercayaan lain yang bisa kita pikirkan. Sehingga mengapa suatu lompatan iman tidak bisa menjadi basis proses pikir yang reliabel.

Sekarang kita tiba di masalah keempat yang, secara spesifiknya, ada karena keberadaan tiga masalah sebelumnya. Jika kasusnya SS mempercayai keberadaan Satan karena ia memiliki suatu pengalaman yang merubahnya, namun juga di saat yang sama percaya karena apa yang diberi tahu oleh pengikut-pengikut Satan yang ia temui, tetapi juga percaya karena suatu lompatan iman, alasan manakah yang sebenarnya alasan yang mendukung kepercayaannya? SS tidak bisa mengatakan bahwa ia mempercayai keberadaan Satan karena lompatan iman, jika ia ternyata mengikuti apa yang dibilang pengikut-pengikut Satan tersebut atau karena suatu pengalaman yang ia miliki. Dua alasan lain juga tidak bisa menjadi pengganti lompatan iman karena mereka masih mempunyai masalah yang sama. Sehingga saya sebagai interlokutor SS bingung bagaimana menginterpretasi penjelasannya mengenai kepercayaannya kepada keberadaan Satan.

Inilah keambiguan proses pikir SS yang saya unjuk sebelumnya. Dengan adanya keambiguan ini, saya dan orang-orang lain menjadi tidak bisa mengevaluasi kepercayaan SS dengan adil dan koheren. Yang ada hanyalah suatu masalah yang bukannya secara langsung terkait dengan proses pikir SS, melainkan terkait dengan mengidentifikasi proses pikir itu terlebih dahulu, yang kita sama sekali tidak bisa lakukan karena keambiguan ini. Ini agak lucu karena saya mengatakan bahwa di seksi ini saya akan memberi tanggapan saya mengenai baik atau tidak baiknya proses pikir SS, namun cara SS menjelaskan proses pikirnya membuat diri saya secara teknis tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Dengan itu, kita mungkin masih bisa mengonstruksi suatu gambaran dimana argumen SS bisa dibilang sebagai jelas.

Memang benar-benar dalam ranah posibilitas, walaupun bukan dalam ranah probabilitas, bahwa apa yang dimaksud SS adalah sebagai berikut: “Saya percaya bahwa ada suatu keberadaan bernama Satan karena saya pernah memiliki suatu pengalaman bersama keberadaan tersebut dimana saya mengetahui bahwa pengalaman tersebut menunjukan adanya Satan karena saya mempercayai apa yang dibilang oleh beberapa pengikut Satan yang pernah saya temui di kehidupan nyata. Saya mempercayai kata-kata mereka melalui lompatan iman yang saya lakukan.”

Itu adalah suatu “rekonstruksi” yang saya buat mengenai argumen/proses pikir yang dimiliki oleh SS yang menurut saya lebih jelas dari bagaimana SS menjelaskannya sendiri. Namun, masalah dari saya melakukan adalah saya tidak mengetahui jika ini yang benar-benar dimaksud SS ada atau tidak. Orang lain pastinya akan bisa melakukan rekonstruksinya sendiri akan argumentasi SS dan tetap mencapai suatu bentuk dari proses pikiran SS yang lebih jelas daripada bagaimana SS jelaskan. Tapi lagi-lagi mereka tidak akan bisa mengetahui apakah ini yang dimaksud SS atau tidak.

Dan juga walaupun rekonstruksi itu merupakan suatu bentuk argumen yang jauh lebih jelas daripada bentuk yang diberikan oleh SS, bentuknya tetap masih tidak logis karena masalah-masalah yang sama sebagaimana saya sudah jelaskan di atas (dari Masalah Satu sampai Masalah Tiga). Hanya karena sesuatu jelas, bukan berarti sesuatu itu logis ataupun koheren.

Kepercayaan Terhadap Sihir

Satu masalah yang bisa diidentifikasikan langsung adalah kurangnya bukti atau alasan yang diberi oleh SS untuk mendukung gagasan bahwa ada sesuatu yang bernama Sihir dimana sihir adalah suatu kemampuan untuk memanipulasi sesuatu bernama “Energi”.

Energi memang merupakan suatu hal yang nyata secara ilmiah, tetapi energi yang sudah diketahui para ilmuwan sepertinya berbeda dari konsep energi yang dirujuk oleh SS. Sebagaiamana dunia ilmiah mengerti apa itu energi, hal yang kita panggil sebagai energi adalah suatu cara kita bisa mendeskripsikan atau menjelaskan berbagai fenomena alam yang terjadi seperti terbangnya suatu roket, jatuhnya suatu kelapa, dan bahkan larinya suatu Cheetah. Ini bukan berarti energi itu hanya suatu konsep buatan, melainkan ini berarti energi adalah suatu konsep buatan dan hal-hal yang digunakan oleh para ilmuwan untuk diukur seperti massa, suhu/temperatur, bentuk, kecepatan, dan lain-lain. Berbeda dengan implikasi yang ada pada penjelasan SS yaitu bahwa energi merupakan suatu hal yang bisa kita manipulasi atau “program” untuk menciptakan efek-efek tertentu. Sehingga lumayan kurang jelas juga apa yang dimaksud oleh SS dengan istilah “energi”. Apakah mungkin energi dalam konteks tersebut merujuk ke suatu kekuatan supernatural yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu saja? Mungkin energi mempunyai suatu bentuk fisik yang ada, namun untuk memprogramnya kita memerlukan suatu kemampuan khusus agar menciptakan efek-efek yang kita mau? Sebab ini, bisa dikatakan juga bahwa energi saja bukannya tidak ada buktinya, namun tidak ada kejelasannya juga dalam pengertiannya.

Namun, ada satu hal yang ia berikan yang menyangkut kepada kemanjuran dari sihir ini. Yaitu percobaannya untuk menggunakan apa yang ia panggil sebagai suatu “mantra” dan keberhasilannya dalam memenangkan sekitar 400 Euro dalam sekali membeli tiket setelah ia mengaktifkan mantra tersebut. Masalahnya kali ini adalah pada kemungkinan bahwa SS mempunyai suatu kesalahpahaman mengenai analisis statistik.

Kita mengetahui ada yang namanya bias kognitif yang seringkali muncul pada proses pikir manusia ketika kita membuat suatu kesimpulan mengenai sesuatu. Mereka adalah keliruan-keliruan yang ada pada cara kita memproses informasi, dan lebih tepatnya dalam kita membentuk kesimpulan-kesimpulan mengenai berbagai hal. Dan salah satu jenis dari bias-bias kognitif tersebut, ada yang bisa disebut sebagai bias interpretasi.

Seperti apa yang diimplikasikan namanya, bias ini menyangkut dengan bagaimana kita membuat suatu kesimpulan mengenai bukti-bukti yang kita punya demi mendukung/menentang suatu gagasan. Dalam konteks SS, ia mempunyai hal-hal yang terjadi, seperti ia membeli tiket dan setelah itu langsung memenangkan 400 Euro, yang ia korelasikan dengan kejadian lain yaitu ia “menggunakan suatu mantra”. Dan oleh karena itu, ia berkata bahwa mantranya memiliki suatu efek pada kemenangannya. Masalahnya disini adalah ia (dan kita utamanya) tidak mengetahui jika mantra tersebutlah yang menyebabkan SS untuk memenangkan jumlah uang itu.

Ketika seorang peneliti membuat suatu eksperimen untuk menguji kemanjuran suatu obat, hal yang akan dilakukan olehnya adalah memisahkan subjek-subjeknya menjadi dua kelompok. Satu kelompok akan diberi obat asli yang ingin diuji (sampel) dan satu lagi akan diberi obat yang palsu, atau suatu placebo, walaupun mereka tetap dibilang akan mengonsumsi obat yang asli (kontrol). Ini karena adanya placebo effect yang bisa mempengaruhi hasil eksperimen tersebut jika para subjek penelitian mengetahui obat mana yang benar-benar bekerja dan mana yang palsu. Jika para peneliti tidak membuat suatu kelompok kontrol, maka akan susah untuk mengetahui seberapa manjurnya obat yang mereka uji coba. Sehingga, mengapa mereka memisahkan subjek-subjek eksperimentasi menjadi dua. Prinsip ini juga bisa kita terapkan kepada kesimpulan SS yang menyatakan bahwa mantranya membuat dirinya menang 400 Euro dalam loteri itu.

Kritik Terhadap Retorika

Sebelum saya bisa memberi opini saya terhadap retorika yang digunakan oleh SS, saya ingin terlebih dahulu mengklarifikasi lebih lanjut apa yang akan saya lakukan di seksi ini. Agar cepat saja, saya tidak menunjukan setiap kalimat yang tidak jelas, setiap kata yang kurang tepat, ataupun setiap perumpamaan yang kurang setara. Jika saya melakukan hal ini, maka itu tidak saja memakan waktu yang sangat lama dan membuat anda bosan, namun juga akan tidak efisien karena dalam setiap retorika, seharusnya ada pola-pola besar yang bisa kita rujuk.

Dalam maksud, jika SS disini ternyata terlalu banyak menjelaskan suatu hal, maka bisa dibilang bahwa ini akan menjadi bagian apa yang saya panggil tadi pola-pola besar, dan maka pastinya akan saya kritik. Intinya maksud saya dari “pola-pola besar” adalah hal-hal yang paling berulang dilakukan oleh interlokutor saya. Dan jika kasusnya pola tersebut mengganggu efektivitas dan efisiensi poin dia, maka akan saya masukkan dalam kritik saya.

Ketidakjelasan

Dengan itu, satu pola yang akan saya rujuk sebagai poin saya di seksi ini adalah bahwa SS sepertinya mengasumsi bahwa saya mengenal dan mengerti istilah-istilah khusus yang ia gunakan untuk menjelaskan kepercayaannya.

Berikut beberapa contoh instansi dimana ia menggunakan istilah-istilah yang esoteris, dan sehingga saya harus meminta klarifikasi mengenai konsep-konsep istilah tersebut.


Instansi Pertama:


RD: Pengalaman pribadi? Apakah kamu bisa memberi tahu aku lebih banyak tentang ini?

SS: Melalui Mediasi dan pada dasarnya memasuki suatu Keadaan Berdoa memperbolehkan aku untuk berbicara kepada Iblis mengenai hal-hal seperti ini, maka ia sendiri yang mengatakannya.

RD: Huh, apa itu Mediasi dan Keadaan Berdoa yang kamu bicarakan itu? Apakah itu seperti suatu keadaan pikiran yang spesial?

SS: Susah untuk digambarkan, itu seperti suatu keadaan pikiran yang bebas dan damai yang kamu masuki.


Instansi Kedua:


RD: Aku mengasumsi bahwa yang kamu maksud dengan seorang Satanis adalah seseorang yang percaya kepada keberadaan Satan, apakah ini suatu deskripsi yang cocok?

SS: Aku seorang Satanis Rohaniah, jadi kamu bisa mengatakan bahwa aku juga percaya kepada “Sihir”.

RD: Oke, namun apakah Satanisme dengan sendirinya perlu mempunyai hal Sihir ini dalam definisinya? Aku berasumsi bahwa Satanisme hanyalah kepercayaan terhadap keberadaan suatu mahluk yang bernama Satan.

SS: Jika Satanisme Teistik disebutkan, maka Sihir akan dilibatkan karena Satan ingin kita mendapatkan kekuatan-kekuatan. Satanisme Ateistik juga percaya kepada Sihir sampai TARAF TERTENTU.


Instansi Ketiga:


RD: Apa yang kamu maksud ketika kamu mengatakan bahwa kamu menemukan Agamanya? Apa menurutmu sejumlah Lompatan Iman untuk Satanisme adalah satu deskripsi yang akurat untuk apa yang kamu telah lakukan, dimana setelah Lompatan Iman ini, kamu akhirnya berhasil untuk berbicara kepada Satan dan konversi, dan seterusnya?

SS: Benar, pada dasarnya Lompatan Iman. Itu satu cara yang baik untuk mengatakannya.

RD: Baiklah kalo begitu. Apakah tidak kasusnya bagimu bahwa orang lain yang menggunakan metode yang sama untuk tiba di agama mereka, sama-sama sahih dalam kepercayaan mereka kepada – sebagai contoh – Allah, Yesus, Wisnu, dan lain-lain?


Instansi Keempat:


RD: Kamu mengatakan ini bekerja?

SS: Ini memang benar bekerja.
Secara teknis, kamu bisa menggunakan Sihir ini untuk melukai orang-orang, ini dikenal sebagai Sihir Abu-Abu tapi aku tidak berurusan dengan itu.

RD: Bisakah kamu memberi suatu contoh di hidupmu dimana ini berhasil bekerja? Mungkin tentang contoh uang itu? Apakah kamu seorang miliarder, dimana sebelumnya kamu hidup dibawah Garis Kemiskinan, atau kapan sihir ini bekerja untuk mu jika kamu bisa memberi tahu?


Dalam instansi pertama, saya mempertanyakan istilah “Mediasi” dan “suatu Keadaan Berdoa” karena mereka dengan sendirinya tidak merujuk ke konsep umum spesifik manapun yang saya kenal.

Keadaan berdoa bisa merujuk ke berbagai jenis cara orang berdoa dari cara seorang Sunni Muslim berdoa ataupun cara orang Protestan Kristen berdoa. Sehingga yang kedua mungkin masih bisa dibilang untuk paling tidak lebih jelas dari “Mediasi”. Namun, kasusnya SS tidak menjelaskan cara seorang dia – seorang Satanis – berdoa, dan apakah ada perbedaan atau tidak dalam caranya berdoa. Jika ternyata kodratnya sama seperti cara orang lain berdoa, yakni mereka meminta sesuatu atau mengucapkan suatu ayat, maka seharusnya ia tidak usah menggunakan istilah “suatu Keadaan Berdoa”. Jika ternyata ada perbedaan, maka ia seharusnya lebih jelas dengan merujuk ke konsep ia berdoa.

Dalam intansi kedua, anda mungkin menebak bahwa Satanisme Teistik, Satanisme Ateistik, dan Satanisme Rohaniah adalah istilah-istilah yang saya anggap sebagai mempunyai asumsi. Namun itu sebenarnya tidak terlalu ambigu karena mereka masih merujuk ke sejumlah konvensi umum dalam menamakan suatu ide atau ideologi, yakni kita menambahkan “A-” ke suatu istilah untuk mengimplikasikan ketidakberadaan konsep yang mendasari ide tersebut. Melainkan yang ambigu adalah istilah “sihir” bagi saya. Sihir secara umum dimengerti sebagai kemampuan untuk mempengaruhi realita kita melalui cara-cara supernatural atau dalam kata lain, cara-cara yang misterius, yang lebih tepatnya berada di luar cara-cara natural atau ilmiah.

Ini sepertinya suatu masalah yang saya secara pribadi miliki dalam mengkonsepsualisikan apa itu sesuatu yang supernatural. Hal-hal yang natural seringkali diartikan sebagai objek-objek yang berada di “dalam” alam semesta kita. Ini berarti merujuk ke hal-hal yang dipengaruhi oleh aturan-aturan alam yang kita ketahui seperti gravitasi, elektromagnetisme, konservasi energi, dan seterusnya. Namun, apakah ini mengimplikasikan hal-hal yang berada di “luar” alam semesta kita, yakni objek-objek yang tidak dipengaruhi oleh aturan-aturan tadi, merupakan apa yang disebut sebagai supernatural?

Dalam instansi ketiga, yang memegang asumsi bukanlah SS, melainkan saya. Saya dengan sengaja saat percakapan itu menyisipkan istilah “lompatan iman” karena pengertian saya terhadap istilah itu adalah bahwa umumnya itu pada intinya adalah memegang suatu kepercayaan tanpa alasan yang bisa dilihat manapun. Atau “percaya karena percaya” saja. Tentu, ada artinya khusus di agama-agama tertentu, namun umumnya saya memegang asumsi bahwa “lompatan iman” itu adalah seperti yang saja jelaskan. Peran SS dalam instansi ini adalah ia sepertinya menerima bahwa ia “lompat iman” tanpa terlalu mengkonfirmasi terlebih dahulu saya memegang pengertian yang sama atas konsep itu.

Dalam instansi keempat, SS menyebut suatu konsep bernama “sihir abu-abu”. Saya sudah katakan terhadap instansi kedua bahwa sihir adalah sesuatu yang cukup ambigu dengan sendirinya. Namun sekarang SS memperkenalkan saya ke konsep “sihir abu-abu”, suatu jenis/tipe/kategori khusus dari sihir. Ini setara dengan saya memperkenalkan quantum mechanics (mekanika quantum) kepada seseorang yang masih tidak terlalu familiar dengan bidang physics (fisika) sendiri.

Kesimpulan

Dalam rangka proses pikir/argumentasi, SS belum memiliki alur inferensi yang logis. Ia membuat kesalahan krusial pada level paling dasarnya yakni menjustifikasikan kepercayaannya dengan kepercayaan lain yang belum terlalu mempunyai justifikasi yang cukup, dan menjustifkasikan kepercayaan itu ke kepercayaan lain yang mempunyai kesalahan yang sama. Pada akhirnya, suatu struktur melingkarpun terbuat. Struktur melingkar ini bisa digunakan untuk menjustifikasikan segala kepercayaan apapun, sehingga tidak bisa dikatakan sebagai logis.

Dalam rangka retorikanya, SS terlalu mengasumsi interlokutornya, Saya, sebagai orang yang sudah familiar dengan konsep-konsep yang ia kenal. Kita berdua seharusnya lebih peka dengan hal ini dan menekan satu sama lain agar lebih mengerti terlebih dahulu daripada langsung bercakap-cakapan tentang konsep-konsep tersebut.

Tinggalkan Balasan