Sebelum saya memulai menulis tentang posisi saya disini, mari saya buat suatu perbedaan konkret antara kedua istilah utama yang digunakan di halaman ini, yakni etika dan moralitas.

Moralitas merujuk kepada hal-hal yang dikategorisasikan sebagai “baik” dan “buruk”. Sementara etika, atau lebih tepatnya aksiologi, adalah cabang filsafat yang berusaha untuk mencoba mempelajari hal-hal “baik” dan “buruk” tersebut.

Untuk pengertian yang lebih jelas, kita mungkin bisa membandingkan moralitas pada dasarnya sebagai sejarah. Dengan sendirinya sejarah hanyalah apa yang terjadi di masa lalu. Namun ada juga suatu bidang ilmu yang namanya ilmu sejarah yang mempelajari apa yang terjadi di masa lalu. Ini mirip dengan adanya aksiologi yang mencoba mempelajari hal-hal apa yang dianggap baik dan buruk.

Alasan mengapa saya tidak menjelaskan posisi saya di aksiologi dan fokus terhadap etika adalah karena aksiologi dengan sendirinya tidak hanya mencakup moralitas dalam rangka perilaku manusia dan binatang, tetapi juga moralitas dalam rangka estetika atau keindahan. Ketika seseorang mendalami aksiologi, ia mendalami dalam dua aspek utama yaitu kebaikan dan keindahan. Saya ingin fokus pada aspek pertamanya karena itu yang akan memberi wawasan terpenting dalam rangka apa yang seharusnya kita fokuskan sebagai tujuan utama kita ketika membentuk kebijakan-kebijakan publik dan beraksi dalam kehidupan sehari-hari. Estetika, meskipun tentunya memiliki kepentingan, menurut saya tidak sepenting Etika untuk memberi kita jawaban yang baik menyangkut patokan kehidupan kita sebagai masyarakat.

Ada dua aspek utama Etika yang akan saya telusuri di halaman ini. Pertama-tama, aspek meta-etika. Kedua, aspek etika normatif.

Dalam seksi Meta-Etika, saya akan menjelaskan apa yang menurut saya arti deskriptif dari kebaikan dan keburukan, dan juga bagaimana kita manusia bisa mengetahui apa yang baik dan buruk.

Dan di Etika Normatif, saya akan menjelaskan tentang posisi saya menyangkut apa yang seharusnya kita usahakan capai dalam hidup, dan dalam masyarakat. Saya tidak akan sepenuhnya menyentuh apa yang seharusnya kita lakukan dalam skala masyarakat, karena faktanya itu saya akan malah mencapai aspek etika terapan yang bagi saya setara dengan menjelaskan perspektif politik saya.

Daripada menjelaskan bagaimana saya menerapkan Etika Normatif saya, saya malah akan menjelaskan dinamika menarik yang ada antara meta-etika dan etika normatif yang menurut saya bisa cukup ambigu. Tentu saja, saya juga akan menjelaskan ambiguitas yang ada antara konsepsi Meta-Etika dan Etika Normatif yang saya pegang.

Meta-Etika

Seperti yang dibilang tadi, disini saya akan menjelaskan pengertian yang saya miliki mengenai istilah-istilah yang kita pakai biasanya dalam nuansa yang moral atau imoral, yaitu baik dan buruk.

Apa arti dari masing-masing istilah (dan variasi-variasinya seperti pantas, jelek, jahat, bagus, layak, dll)?

Apa maksudnya ketika kita menggunakan istilah pantas, jelek, jahat, dan layak?

Awal-awal kita bisa merujuk kepada beberapa contoh dari penggunaan istilah tersebut.

  • Ketika ada seseorang yang terkena penyakit kanker dan meninggal, kita biasanya mengasihani situasi yang dialami oleh orang tersebut, dan sehingga memanggil kanker sebagai suatu penyakit yang buruk.
  • Ketika Nazi Jerman membantai 6 juta orang-orang Yahudi, kita biasanya mengkondemnasikan Hitler sebagai orang yang jahat.
  • Ketika kita menemukan lintah dalam makanan kita, kita biasanya mencela makanan itu (dan restorannya juga bersama dengan yang memasak makanannya) sebagai jelek.

Satu kesimpulan yang bisa kita ambil dari tiga skenario itu adalah bahwa keburukan merupakan suatu istilah yang kita pakai untuk mengekspresikan bahwa suatu hal tertentu melawan atau bertentangan dengan espektasi tertentu. Espektasi ini adalah apa yang bisa kita panggil sebagai norma. Dan norma terbentuk dari suatu nilai yang kita hargai. Suatu norma, spesifiknya, adalah suatu nilai yang

Di masyarakat ada berbagai nilai yang kita pegang dan menjadi patokan. Sebagai contoh, kejujuran adalah suatu nilai yang cukup sering dipegang. Dan ketika kita mengatakan sesuatu yang tidak benar atau kita menyontek dalam suatu ulangan, kita melanggar norma-norma tertentu yang terbentuk berdasarkan nilai kejujuran. Dalam sekolah, menyontek melanggar norma seperti, “Murid seharusnya berusaha mengerjakan tugas-tugasnya dengan sendiri sebisa-bisa mungkin”. Dalam kehidupan sehari-hari, berbohong melanggar norma dasar seperti, “Orang-orang seharusnya saling mempercayai satu sama lain”.

Pada intinya, itu adalah kodrat dari keburukan. Sesuatu hal buruk karena – dan hanya karena – hal tersebut melanggar suatu nilai yang kita hargai, entah dalam skala pribadi atau dalam skala seluruh masyarakat. Istilah buruk mengkomunikasikan bahwa hal tersebut seharusnya tidak ada atau tidak kasusnya.

Kebalikannya sama bahwa kebaikan adalah ketika norma, dan utamanya nilai, kita terpenuhi. Entah apapun norma dan nilai itu. Dari sesuatu yang sangat kecil seperti, “Kita seharusnya berbagi makanan saat makan siang” sampai ke sesuatu yang sangat besar seperti, “Kita seharusnya menjaga kedamaian dunia”. Dengan memenuhi norma yang ada, hal itu dikategorisasikan sebagai baik dan sehingga mengkomunikasikan bahwa hal tersebut seharusnya ada atau menjadi kasusnya.

Berikut adalah beberapa contoh dari hal-hal yang sering kita kategorisasikan sebagai baik:

  • Ketika kita menang suatu lomba, kita biasanya senang dan mengatakan bahwa itu adalah suatu momen yang baik dalam hidup kita.
  • Ketika kita memakan makanan favorit kita, kita biasanya menyebut makanan itu sebagai enak
  • Ketika kita sembuh dari suatu penyakit, kita biasanya menyebut ini sebagai baik juga.

Itulah model meta-etis yang akan saya gunakan. Baik dan buruk adalah denominator yang manusia gunakan untuk mengkomunikasikan jika sesuatu itu seharusnya atau tidak seharusnya, dan manusia mengetahui apa yang baik dan buruk dengan membandingkan kondisi yang mereka alami atau ketahui dengan norma dan nilai yang mereka miliki. Berdasarkan dari faktanya manusia yang menggunakan baik dan buruk sebagai suatu denominator, bisa dikatakan juga bahwa kebaikan dan keburukan adalah konsep-konsep yang secara inheren bergantung kepada adanya suatu agen yang menggunakan kebaikan dan keburukan.

Etika Normatif

Beberapa tahun yang lalu, saya dipersembahkan suatu skenario pikiran:

Ada sebuah kereta yang menuju ke arah suatu persimpangan antara dua jalur. Saat mendekat, kereta itu akan menuju jalur A dimana ada sepuluh orang yang berdiri di tengah-tengahnya tanpa mengetahui bahwa ada kereta yang mendekatinya. Dimana anda berdiri, ada suatu tuas yang – jika ditarik sebelum keretanya ke persimpangan dua jalur tadi – akan membuat keretanya berganti ke jalur B dimana daripada sepuluh orang yang berdiri di tengah-tengah, malah ada satu orang yang berdiri.

Dengan pengetahuan itu, apakah seharusnya anda menarik tuas tersebut?

Trolley Problem (Masalah Troli)

Saat pertama kali mempertimbangkannya, saya langsung menjawab “Iya, seharusnya tuas tersebut saya tarik” tanpa terlalu mengetahui mengapa. Yang saya katakan sebagai alasan adalah, “Karena nyawa sepuluh orang lebih berharga daripada nyawa satu orang.”

Tentu, bagi yang sudah cukup familiar dengan skenario itu, ada masalah yang muncul dengan menjawab seperti itu.

  • Bagaimana jika satu orang itu adalah anggota keluarga kamu?
  • Bagaimana jika sepuluh orang itu adalah pembunuh-pembunuh jahat yang kabur dari penjara, dan yang satu orang adalah Albert Einstein atau Amadeus Wolfgang Mozart?
  • Bagaimana jika satu orang itu adalah kamu?

Tiga contoh itu adalah variasi-variasi dari suatu masalah moral bernama “Masalah Troli”. Dan masih banyak lagi dari variasi-variasi masalah ini. Alasannya adalah karena mereka bertujuan untuk membuat anda memikirkan tentang sistem moral yang anda miliki. Semacam ujian, tetapi daripada mengetes nilai (dalam bentuk angka) matematika atau geografi anda, yang diuji adalah bagaimana cara kerja pikiran anda ketika memikirkan tentang isu-isu yang bersangkutan dengan nyawa manusia.

Dengan ini, apa hasil “ujian” saya sekarang? Apakah ada perubahan dalam jawaban saya?

Tidak.

Tetapi ada perubahan dalam bagaimana saya mencapai kesimpulan tersebut.

Dimana saat pertama kali menghadapi Masalah Troli saya merujuk kepada konsep “nilai” sepuluh orang yang lebih banyak dari satu orang, saya sekarang lebih spesifiknya mempatoki sistem moral saya pada kebahagiaan sebagai tujuan paling akhirnya.

Sebelum saya jelaskan apa maksudnya dalam konteks Masalah Troli, saya akan menjelaskan maksudnya “maksimalisasi kebahagiaan dan minimalisir kesengsaraan” sebagai bagaimana saya menentukan apa yang baik dan apa yang buruk untuk dilakukan.

Kemudian akan saya terapkan pengertian etis tersebut kepada Masalah Troli lagi.

Kebahagiaan dan Kesengsaraan

Secara deskriptif, ada banyak yang kita labelkan sebagai “baik”. Dalam seksi Meta-Etika, saya membawa kemenangan kita pada suatu lomba sebagai suatu hal baik yang kita alami dalam hidup kita. Tetapi mengapa kita mengasosiasikan kemenangan dalam suatu kompetisi sebagai “baik”?

Kita bisa merujuk kepada berbagai alasan. Bisa saja karena kita ingin hadiah menangnya, atau karena kita ingin diakui sebagai hebat oleh orang lain. Tetapi dengan dua alasan potensial itu, kita bisa menanya lagi mengapa kita memanggil itu sebagai “baik” dan pada akhirnya kita seharusnya bisa sampai pada suatu kesimpulan yang menurut saya level paling fundamental dalam Etika Normatif. Yakni, bahwa kita mendapatkan kebahagiaan. Saya bilang bahwa ini level paling fundamental karena ketika kita menanyakan lagi mengapa kebahagiaan itu baik, saya merasa bahwa ini sudah sangat susah sekali untuk dijawab. Kebahagiaan dalam rangka ini adalah suatu kebaikan intrinsik dimana dengan menjadi bahagia, kita di saat yang sama mencapai/meningkatkan kebaikan bagi diri kita.

Sehingga, saya mengasumsi dan menganggap bahwa kebaikan adalah suatu aksiom yang menjadi denominator jika sesuatu itu baik atau tidak baik.

Sebagai suatu oposisi dari kebahagiaan, saya merujuk kepada kesengsaraan untuk bisa merujuk kepada suatu konsep keburukan. Cukup jelasnya, kesengsaraan adalah suatu keadaan dimana kita itu mengalami kesakitan dan kesusahan dalam bentuk apapun. Ketika kita sengsara, kita di saat yang sama bisa dibilang sedang mengalami suatu keadaan yang buruk.

Ketika kita tidak memenangi suatu lomba, padahal sudah sangat kerja keras, kita berkemungkinan merasa sedih dan sakit. Perasaan dan keadaan kesedihan dan kesakitan tersebut adalah – menurut saya – indikator esensial dari apa yang membuat sesuatu itu buruk.

Dalam rangka ini, keburukan bukanlah suatu absensi dari kebahagiaan, tetapi malahan presensi dari kesengsaraan. Seseorang yang tidak bahagia tidak secara langsung sedang mengalami periode yang buruk. Sama halnya dengan kebahagiaan. Kebaikan bukanlah suatu absensi dari kesengsaraan, tetapi suatu presensi dari kebahagiaan. Sesuatu yang tidak buruk, bukanlah baik secara otomatis. Dan sesuatu yang tidak baik, bukanlah buruk secara otomatis.