Apa itu filosofi?

Secara literal, filsafat adalah “cinta terhadap wawasan”. Dalam arti yang paling luasnya, filsafat adalah suatu aktivitas (yang) orang-orang lakukan ketika mereka ingin mengerti kebenaran-kebenaran fundamental tentang diri mereka, dunia yang mereka tinggali, dan hubungan-hubungan antara mereka dan dunia dan ke satu sama lain.

Department of Philosophy. What is Philosophy?. Website Florida State of University

Dalam perbincangan filosofis kontemporer, biasanya diakui ada banyak cabang dari filsafat. Cabang-cabang ini diciptakan dengan alasan yang sama mengapa kita mengkategorisasikan hal-hal lain.

Yaitu, agar ide, gagasan, dan konsep-konsep yang dipakai bisa lebih mudah dibedakan dengan satu sama lain, sehingga memperjelas upaya kita semua ketika mempertimbangkan konsep-konsep tersebut. Tentu, ini hanya bagaimana saya mengerti alasan divisi tersebut, dan orang-orang lain mungkin mempunyai alasan yang lebih kuat.

Tanpa urutan yang spesifik, cabang-cabang filsafat terbagi menjadi, tapi tidak terbatas pada sebagai berikut:

  • Aksiologi
  • Logika
  • Metafisika
  • Epistemologi
  • Filsafat dari Pikiran
  • Filsafat dari Sains
  • Metafilsafat

Di sini saya akan membahas tentang cabang epistemologi. Pertanyaan-pertanyaan di cabang ini berhubungan dengan pengetahuan.

  • Apa itu pengetahuan?
  • Bagaimana kita bisa mengetahui?
  • Apa itu kebenaran?
  • Bagaimana kita bisa mengetahui apa yang benar dan salah?

Empat pertanyaan itu adalah beberapa pertanyaan terpenting yang mendefinisikan bidang epistemologi, dan sampai sekarang masih diperdebatkan dengan keras jawabannya. Alasan mengapa ini kasusnya saya kurang mengetahui. Saya secara pribadi juga kurang mengetahui dengan sejarah dari pemikiran-pemikiran yang ada di epistemologi. Aspek-aspek sejarah filsafat seperti:

  • Evolusi dari satu ide ke ide lain.
  • Proses perbincangannya di masa lalu.
  • Bagaimana orang-orang awam pada saat itu menanggapi perbincangan-perbincangan tersebut.

Saya tidak mengetahui, dan saya tidak berniat untuk menjelaskan itu disini, ataupun menelusurinya dengan pembaca sekarang.

Yang saya jelaskan di sini adalah pemikiran saya secara pribadi. Pastinya, itu juga telah berdasar dan dipengaruhi oleh ide-ide sebelumnya. Yang pernah saya baca atau pelajari, dari individu lain yang saya temui, atau dari bahan-bahan bacaan yang saya baca sebelum penulisan halaman ini.

Di laman ini, saya mencoba menjawab masing-masing pertanyaan, serta menjelaskan relevansi dari masing-masing jawaban tersebut dalam konteks kehidupan kita sehari-hari. Sementara, untuk jawaban-jawaban yang tidak sepenuhnya atau murninya berasal dari pemikiran saya sendiri, saya akan menjelaskan singkat dan mereferensikan asal aslinya di mana saya pertama kali mendapatkannya.

Apa itu pengetahuan?

Pada dasarnya, pengetahuan adalah apapun yang disadari oleh diri kita masing-masing. Ketika kita melihat di berita bahwa Pangeran Philip telah meninggal, kita bisa dibilang “menambah” pengetahuan kita dengan mendapatkan informasi/pengetahuan baru mengenai suatu kejadian nyata. Namun hanya karena saya menggunakan contoh berita baru, jangan disangka bahwa pengetahuan haruslah mengandung informasi yang benar.

Kita mungkin kenal dengan konsep yang namanya hoax atau berita palsu. Itu adalah contoh mudah yang bisa kita rujuk sebagai suatu pengetahuan yang salah. Dan ini adalah satu sifat penting dari apa yang kita rujuk sebagai “pengetahuan”. Kita bisa mengetahui (memiliki pengetahuan) menyangkut hal-hal yang benar dan juga hal-hal yang salah. Tidak semua pengetahuan yang ada di dunia ini benar dan tidak semua pengetahuan yang ada di dunia ini salah.

Untuk memperluas contoh-contoh saja, cerita fiksi jugalah suatu contoh dari pengetahuan yang salah. Kejadian-kejadian yang ada dalam novel-novel fiksi (i.e Lord of the Rings, Max Havelaar, Around the World in 80 Days) adalah kejadian-kejadian yang tidak benar-benar terjadi, sehingga mereka memenuhi kriteria “pengetahuan yang salah”. Meskipun dengan begitu, mereka mungkin terinspirasi atau merefleksikan dari kejadian-kejadian asli. Ambil Max Havelaar yang ditulis oleh Multatuli untuk membawa kesadaran kepada suatu isu asli pada saat itu yakni kebijakan-kebijakan pemerintahan Belanda. Ini salah satu demonstrasi dari suatu pengetahuan yang secara teknis salah, tetapi dengan mengetahui lebih lanjut tentang konteks suatu pengetahuan, bisa disimpulkan apa pengetahuan yang benar.

Apa itu kebenaran?

Bayangkan anda bangun di tengah-tengah goa yang anda tidak pernah lihat atau ketahui seumur hidup anda. Anda bangun tanpa barang apapun dan melihat bahwa ada peta dan alat tulis di samping anda. Di peta itu, anda melihat yang sepertinya merupakan suatu goa dengan deskripsi-deskripsi yang membuat anda berpikir bahwa ini adalah goa yang anda tempati sekarang. Petanya tidak lengkap dan ini bisa dilihat dari bagian-bagian yang terpotong juga. Anda mencoba mengikuti satu jalur yang dilabelkan “jalur keluar”, dan ternyata jalur itu tidak membawa anda keluar, hanya kembali lagi ke tempat awalan anda. Setelah suatu proses uji coba dengan anda menelusuri setiap pelosok dari goa itu dan memperbarui peta anda setiap kali anda menemukan sesuatu yang baru, anda akhirnya berhasil menemukan jalan keluar dan bebas dari goa itu.

Skenario itu merupakan suatu variasi dari skenario yang sering digunakan oleh Matt Dillahunty – seorang aktivis Ateis terkenal di Amerika Serikat – untuk menjelaskan konsepsi yang ia miliki tentang kenyataan dan kebenaran. Dan saya setuju dengan esensi dari skenario ini sebagai suatu ilustrasi dari upaya manusia mencari tahu apa yang selaras dengan kenyataan.

Dalam skenario yang ditulis di sini, kebenaran diartikan sebagai suatu keadaan ketika pengetahuan tentang sesuatu (i.e topografi dari suatu goa) selaras dengan sesuatu itu (i.e topografi goa sebenarnya). Untuk mendemonstrasikan apa yang saya maksud, bisa dilihat dari contoh tadi.

Peta yang anda miliki dalam goa itu mencerminkan pengetahuan pribadi anda tentang goa – atau realita. Peta anda bisa tidak selaras dengan bentuk goanya, dan ketika itu kasusnya, itulah yang dipanggil sebagai salah atau tidak benar. Kebenaran adalah kebalikannya. Ketika peta yang anda miliki itu selaras dengan goanya. Tentu, goa dalam skenario tadi adalah metafora dari realita. Dan percobaan anda untuk keluar dari goa tersebut merupakan metafora dari usaha semua manusia yang terus menerus mencari dan menginvestigasi informasi baru, sadar atau tidak sadar. Saat peta yang kita miliki tidak cocok dengan kondisi yang kita temukan setelah menginvestigasinya, maka kita bisa merubah peta itu. Menggambarnya ulang. Sehingga peta itu menjadi lebih akurat dengan kondisi goanya di realita.

Ini membawa kita ke suatu atribut menarik dari kebenaran. Dalam maksud, ada suatu pertanyaan yang jawabannya menurut saya selalu menjadi suatu presuposisi dari semua orang. Yaitu, realita.

Dalam skenario tadi, cukup mudah untuk membandingkan peta (pengetahuan) dengan goa (realita). Tetapi dalam praktek, ini tidak kasusnya. Sebagai contoh, bagaimana kita bisa mengetahui apa realita itu?

Kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang kita perbandingkan. Pengetahuan kita dengan realita. Dan isunya adalah jika kita sudah mengetahui bentuk goa sebenarnya, mengapa kita perlu petanya? Pertanyaan ini tentu tidak bisa dijawab karena kita tidak seratus persen mengetahui apa realita itu. Kita terpaksa menggunakan indra-indra kita untuk memberi tahu kita bagaimanapun caranya itu bagaimana realita itu sebenarnya. Jika kita melihat warna:

merah

Kita tidak punya pilihan selain untuk mengasumsi bahwa itu merupakan bagian dari apa yang dipanggil oleh banyak filsuf sebagai realita objektif. Yakni, realita yang ada dan akan tetap ada tanpa dependensi kepada suatu pengamat (entah manusia, hewan, atau organisme dengan kapasitas untuk berindra). Kita tidak bisa menentang konsep “merah” yang dimiliki seseorang tanpa merujuk ke konsep merah yang kita sudah miliki sebagai suatu presuposisi.

Dan itu menunjukan sifat atau kodrat dari kebenaran dan realita objektif. Bahwa pada dasarnya, kita sebagai pengamat-pengamat secara teknis tidak memiliki konsepsi yang seratus persen akurat, melainkan hanya aproksimasi yang kita terpaksa terima sebagai “benar”. Dan konsepsi kebenaran dan realita inilah yang mendominasi kehidupan (hampir) seluruh manusia.

Sehingga, untuk merangkum seksi ini, kebenaran adalah apa yang selaras dengan realita. Dan realita (objektif) adalah apa yang nyata, entah dengan pengetahuan seseorang ataupun tidak.


Apa kepentingan dari pengetahuan dan kebenaran?

Pengetahuan merupakan suatu konsep yang selalu diterapkan dalam berbagai bentuk di kehidupan dan peradaban manusia. Saat manusia membangun jembatan, saat manusia memaksa Kaum Yahudi untuk pergi ke kamp-kamp konsentrasi, saat manusia mempelajari cara membelah atom menjadi 2, dan saat manusia menampar anaknya untuk mendiamkannya. Mereka semua, walaupun dalam aktivitasnya saja sangat berbeda dari satu sama lain, mempunyai satu elemen yang sama. Yakni bahwa saat itu, kita melakukannya dengan pengetahuan bahwa ada suatu hasil yang bisa dicapai.

  • Dengan membangun jembatan, manusia-manusia lain bisa bepergian lebih mudah.
  • Dengan memaksa Kaum Yahudi untuk pergi ke kamp-kamp konsentrasi, mereka bisa lebih mudah untuk dibantai.
  • Dengan membelah atom menjadi 2, manusia-manusia lain bisa memanfaatkan energi yang diciptakannya.
  • Dengan menampar anaknya, dia bisa lebih patuh.

Tentu, etikalitas dan moralitas dari 4 aktivitas tersebut bervariasi. Tetapi tanpa mempertimbangkan etikalitasnya, pengetahuan tetap menjadi suatu predikat yang penting mengapa kita melakukan hal-hal itu.

Lebih tepatnya, kita melakukan hal-hal itu dengan pengetahuan yang kita anggap sebagai benar, dan sehingga bisa menciptakan hasil yang reliabel sesuai apa yang kita inginkan.

Coba pikirkan kita sedang membangun jembatan dengan pengetahuan tentang bahan konstruksi yang kita kira benar, tetapi sebenarnya salah. Mungkin daripada menggunakan bahan X, kita malah menggunakan bahan Y, dengan impresi bahwa bahan Y itu akan bertahan lebih lama. Hasil yang akan kita dapat tentu saja berbeda dari ekspektasi kita.

Dan pengetahuan yang benar penting untuk itu. Kebenaran memberi kita semacam asuransi eksplisit bahwa sesuatu akan terjadi sesuai ekspektasi kita. Dalam kata lain, kebenaran penting untuk memberi kita reliabilitas.